Menag Ingatkan Tradisi Guyub Jangan Sampai Tergerus Perkembangan Teknologi Informasi
Dia mencontohkan, bukan hal yang aneh jika melihat sebuah keluarga, seorang ayah, ibu dan anak tidak duduk di meja saling berinteraksi, melainkan asyik dengan gawai. Itu contoh kecil dari fenomena sosial yang terjadi setelah adanya teknologi informasi yang merambat cepat.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin dan Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik menghadiri pembukaan kegiatan semi loka penguatan kompetensi sosio kultural bagi aparatur sipil negara (ASN) di Balai Diklat Keagamaan di Jalan Soekarno Hatta, Kota Bandung, Rabu (28/11).
Dalam sambutannya, Lukman mengatakan, masyarakat harus bisa memanfaatkan era teknologi informasi dengan seimbang. Menurut dia, jangan sampai, sesuatu yang disebut keniscayaan itu justru melupakan interaksi antar sesama atau dehumanisasi.
Saat ini, Dia mencontohkan, bukan hal yang aneh jika melihat sebuah keluarga, seorang ayah, ibu dan anak tidak duduk di meja saling berinteraksi, melainkan asyik dengan gawai. Itu contoh kecil dari fenomena sosial yang terjadi setelah adanya teknologi informasi yang merambat cepat.
"Yang dulu guyub, rukun, saling menyapa, sekarang menjadi begitu individualis. Tentu suatu yang harus diwaspadai, ini bukan gejala kita, tapi dunia menghadapi yang sama," ujar Lukman.
Di era sekarang pun, kata Lukman, semua informasi bisa masuk dengan cepat tanpa melihat jarak dan waktu. Dia berharap, semua masyarakat bisa menyaring dan memilah mana yang baik dan buruk untuk diserap.
Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat masyarakat tidak terkekang oleh ruang dan waktu. Komunikasi bisa mudah dilakukan meski berpisah jarak jauh.
Yang jelas, lanjut dia, di balik baik dan buruknya perkembangan terknologi jangan sampai semua informasi yang masuk mengubah jati diri bangsa yang dikenal sebagai masyarakat agamis yang menghargai perbedaan dan mencintai perdamaian.
"Kita sekarang berada di wilayah tanpa batas mendunia. Tapi, jangan sampai melupakan jati diri bangsa ini adalah masyarakat yang beragama," ucap menteri yang berafiliasi dengan Kemenko PMK tersebut.
Hakikatnya, agama bukan saja bentuk pengabdian kepada Tuhan, tapi juga kepada antar sesama umat manusia. Agama hadir agar sesama umat manusia bisa saling memanusiakan antar sesama.
"Memposisikan manusia untuk senantiasa mulia, karenanya harkat derajat kemanusiaan itu senantiasa dilindungi, dirawat, dijaga bersama dan semua agama mengajarkan agama. Ini sesungguhnya esensi agama," kata Lukman.
Di tempat yang sama, Moazzam lebih membahas kondisi politik di Indonesia menjelang Pemilu 2019. Ia berharap, para peserta pemilu tidak menggunakan isu SARA. Hal ini untuk menjaga toleransi yang sudah terbangun dengan baik di negeri ini.
Berdasarkan pengalamannya bertugas di negara lain, Indonesi sebagai penduduk dengan agama islam tertinggi dinilai mampu menyelaraskan keberagaman dengan baik. Jangan sampai, pesta demokrasi merusak semua itu.
Indonesia bisa menjadi contoh bagi negara lain untuk keharmonisan antar umat beragama. Jika rusak, maka akan berpengaruh terhadap umat muslim secara keseluruhan antar negara.
"Di negara muslim seluruh dunia ada banyak tantangan konflik dan radikalisme. Umat muslim dunia perlu contoh yang bisa memberi inspirasi dan Indonesia bisa menjadi inspirasi seluruh umat muslim dunia," katanya.
"Nasihat saya ke politisi atau tokoh besar harus berani, jangan main-main dengan isu SARA. Ini berbahaya untuk masa depan Indonesia," pungkasnya.
Baca juga:
Menag: Penambahan Kuota Ancam Keselamatan Jemaah Haji di Mina
Menteri Agama Akan Dalami Usulan KPK Untuk Kaji Ulang Kartu Nikah
Alasan Menag Belum Tambah Kouta Jemaah Haji Indonesia
Kecewa Pernyataan KPK, Menag Siap Diperiksa Jika Kartu Nikah Terindikasi Korupsi
Menag Janji Tingkatkan Pelayanan Haji di Armina
Menag: Mulai 2019, Guru di Bawah Kemenag akan Dapat Tunjangan Profesi
Komisi VIII DPR dan Menteri Agama Evaluasi Penyelenggaraan Haji 2018