Menag Ajak Ormas Islam Perkuat Ukhuwah dan Ekoteologi dalam Halal Bihalal MUI
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerukan ormas Islam untuk memperkuat **ukhuwah dan ekoteologi** pada Halal Bihalal MUI, menekankan pentingnya menjaga hubungan antarsesama dan kelestarian alam.
Menteri Agama Nasaruddin Umar menyerukan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam untuk memperkuat ukhuwah serta kepedulian terhadap lingkungan. Seruan ini disampaikan dalam momentum Silaturahmi Nasional dan Halal Bihalal Idul Fitri Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang digelar di Hotel Sultan, Jakarta, pada Rabu (15/4).
Dalam sambutannya, Menag Nasaruddin Umar menekankan bahwa tradisi halal bihalal bukan sekadar kebiasaan pasca-Idul Fitri. Lebih dari itu, acara ini menjadi ruang penting untuk memperbaiki hubungan antarsesama dan membersihkan hati dari berbagai prasangka yang mungkin tersimpan.
Nasaruddin juga mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya ormas Islam, untuk merawat keikhlasan dan kerendahan hati. Hal ini sejalan dengan makna halal bihalal sebagai upaya meluruskan kembali hubungan yang sempat terganggu, sebagaimana diungkapkannya, “Halal bihalal adalah cara kita meluruskan kembali hubungan, menghalalkan yang sempat tersimpan di hati, serta merawat keikhlasan dan kerendahan hati,”.
Memperluas Makna Ukhuwah dan Ekoteologi
Menteri Agama Nasaruddin Umar menggarisbawahi pentingnya memperluas makna ukhuwah. Ukhuwah tidak hanya terbatas pada ukhuwah Islamiyah dan wathaniyah, tetapi juga mencakup hubungan manusia dengan seluruh ciptaan Tuhan, termasuk alam semesta. Kesadaran ini menjadi fondasi penting dalam membangun konsep **ekoteologi**.
**Ekoteologi** sendiri diartikan sebagai keselarasan antara manusia sebagai khalifah di bumi dengan alam sebagai sesama makhluk Allah. Nasaruddin menegaskan bahwa keberhasilan manusia sebagai khalifah tidak akan tercapai tanpa dukungan lingkungan yang kondusif.
“Tidak mungkin kita menjadi khalifah yang berhasil tanpa dukungan alam semesta yang kondusif,” ujar Nasaruddin Umar. Pernyataan ini menunjukkan betapa krusialnya menjaga keseimbangan ekosistem dan menerapkan prinsip-prinsip **ekoteologi** dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Strategis Ormas Islam dalam Ketahanan Sosial
Imam Besar Masjid Istiqlal itu turut menyampaikan apresiasinya kepada MUI dan seluruh ormas Islam. Apresiasi ini diberikan atas kontribusi signifikan mereka sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini dalam menjaga ketahanan sosial bangsa. Peran ormas Islam sangat vital dalam membentuk karakter dan moral masyarakat.
Nasaruddin menyebut ormas Islam dan para ulama memiliki peran strategis sebagai penyejuk masyarakat, pemberi arah, sekaligus penggerak solusi dalam berbagai situasi, termasuk di masa-masa sulit. Kontribusi ini, meskipun tidak selalu tercatat dalam statistik, namun jejaknya nyata dalam ketahanan sosial bangsa.
Organisasi keagamaan memiliki kekuatan khas karena kedekatannya dengan masyarakat hingga ke lapisan terbawah. Peran tersebut mencakup berbagai bidang, mulai dari dakwah, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, hingga advokasi sosial, bahkan sampai ke tingkat global.
Kemitraan Pemerintah dan Tantangan Global
Dalam konteks tantangan global saat ini, seperti disrupsi informasi dan dinamika geopolitik, peran MUI dinilai semakin penting. MUI diharapkan dapat menjadi penuntun arah, penjaga keseimbangan, dan rujukan umat di tengah perbedaan. Hal ini menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap peran sentral MUI.
Pemerintah memandang MUI dan ormas Islam sebagai mitra strategis yang tidak tergantikan dalam pembangunan bangsa. Kemitraan ini krusial untuk memastikan pembangunan yang holistik, tidak hanya dari aspek fisik tetapi juga spiritual dan moral.
Menag berharap ormas Islam tetap konsisten menjadi pengayom umat, penunjuk arah di tengah perbedaan, serta kekuatan moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Silaturahim hari ini tentu bukan sekadar pertemuan, tetapi pengingat bahwa bangsa ini kuat karena ada nilai, ada ulama, dan ada kebersamaan yang terus terawat,” tutup Nasaruddin.
Sumber: AntaraNews