LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Perlukah Marinir turun tangan kembali jaga stasiun dan KRL?

Hal ini dinilai perlu dilakukan mengingat masih maraknya aksi premanisme dari segelintir penumpang.

2015-04-22 08:05:00
Marinir
Advertisement

Kasus kekerasan menimpa Muhammad Iqbal, salah satu satuan pengamanan (satpam) di Stasiun Pondok Jati, Jakarta Timur, Senin (20/4) malam. Iqbal yang saat itu bertugas mendapat bogem mentah dari salah satu calon penumpang bernama Fajar Arif. Pelaku saat itu tidak terima ditegur saat sedang merokok.

Gara-gara pukulan itu, korban terjatuh dan kepalanya terbentur pagar pembatas, seketika itu pula Iqbal pingsan di lokasi. Saat melihat korbannya terkapar, pelaku sempat mencoba melarikan diri, namun kakinya keseleo.

Saat dikonfirmasi, Fajar mengaku tidak berniat melukai apalagi menghabisi Iqbal. Dia mengaku, merasa malu ditegur hingga dilihat penumpang lainnya. Namun, emosi memuncak saat korban mendorongnya karena tak sengaja tersenggol.

Terkait kasus kekerasan yang dialami Iqbal itu, perlukah meminta bantuan dari Marinir atau polisi untuk menjaga stasiun dari penumpang yang nakal?

Salah satu penumpang KRL, Dewi Pratiwi meyakini pelibatan TNI/Polri dalam mengamankan stasiun atau kereta tak perlu dilakukan. Sebab, sebelum kejadian itu berlangsung, penumpang sudah merasa keamanannya terjamin.

"Lagi pula, saat ini yang perlu dibenahin bukan stasiunnya, tapi penumpangnya," ujar Dewi saat berbincang dengan merdeka.com, Selasa (21/4) malam.

Sementara itu, Manajer Komunikasi PT KAI Commuter Jakarta (KCJ) Eva Chairunissa mengatakan, pengamanan kereta sampai saat ini tak hanya melibatkan satpam, tapi juga kalangan marinir maupun kepolisian. Namun kini, jumlahnya sudah dikurangi, bersamaan dengan bertambahnya tenaga keamanan dari sipil.

"Jumlahnya memang dikurangi, digantikan dengan petugas pam. Petugas pam stand by sampai dengan kereta terakhir," jelas dia.

Sebaliknya, pengamat militer Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengatakan, keberadaan marinir dan kepolisian untuk menjaga sarana publik, terutama stasiun masih diperlukan. Hal ini perlu dilakukan mengingat masih maraknya aksi premanisme dari segelintir penumpang.

"Saya rasa masih sangat perlu, karena itu tempat publik, di mana tempat bertemunya masyarakat pemakai jasa KA. Tingkat kriminalitas yang belakangan mengalami kenaikan meski sedikit tentu saja harus ditangani dengan tegas dan cerdas," paparnya.

Baca juga:
US Navy dan Marinir TNI AL bakal duet renovasi sekolah di Gresik
Asah kemampuan, Marinir Indonesia & AS 'perang kota' di Banyuwangi
Dulu saat WNI dihukum mati, Marinir TNI AL mau serang Singapura
Pecatan marinir pembunuh bos keramik ternyata pernah bunuh polisi
Pengadilan takut lawan Marinir saat eksekusi lahan di Kelapa Gading
Marinir bertameng jaga lahan dan hadang petugas PN Jakut

(mdk/efd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.