Maknai Prapaskah, Gereja Mentok Ajak Umat Perkuat Solidaritas Sosial
Pastor Gereja Katolik Santa Maria Pelindung Para Pelaut Mentok mengajak umat memaknai masa Prapaskah dengan memperkuat solidaritas sosial, menjadikannya lebih bermakna dalam perjalanan iman.
Pastor Markus Malu, Pr dari Gereja Katolik Santa Maria Pelindung Para Pelaut Mentok, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mengajak seluruh umat untuk memaknai masa Prapaskah dengan memperkuat solidaritas sosial. Ajakan ini disampaikan pada Rabu, menekankan pentingnya menjadikan periode puasa dan berpantang lebih bermakna dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Pastor Markus, Prapaskah bukan hanya sekadar perjalanan laku batiniah dan individual, melainkan juga harus menjadi proses lahiriah dan sosial. Hal ini dapat diwujudkan melalui berbagai tindakan nyata seperti sedekah dan derma, agar masa mati raga ini benar-benar memberikan manfaat yang mendalam.
Dengan demikian, umat diundang untuk memanfaatkan momentum ini untuk terus berbakti dan berkorban, dengan tujuan utama bersatu kembali dengan Allah. Ini merupakan panggilan untuk refleksi dan tindakan nyata dalam mengarungi masa suci ini di Mentok.
Prapaskah: Lebih dari Sekadar Puasa Batiniah
Masa puasa dan berpantang Prapaskah memiliki makna yang lebih luas dari sekadar mengekang sifat konsumerisme. Pastor Markus Malu, Pr menegaskan bahwa periode ini adalah waktu yang tepat untuk membangun dan memperkuat solidaritas sosial di antara sesama umat.
Ia menjelaskan bahwa Prapaskah tidak hanya berfokus pada dimensi batiniah atau individual semata. Sebaliknya, ia harus diwujudkan dalam tindakan konkret yang bersifat lahiriah dan sosial, seperti memberikan sedekah dan derma kepada yang membutuhkan.
Melalui pendekatan ini, masa mati raga yang dijalani umat Katolik diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata. Manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam perjalanan hidup pribadi, tetapi juga dalam membangun kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Momen Refleksi dan Pertobatan Diri
Masa puasa juga merupakan waktu yang sangat tepat untuk mengubah orientasi hidup dan melakukan refleksi mendalam. Pastor Markus Malu, Pr menyoroti bahwa abu yang dioleskan di kening saat ibadat Rabu Abu merupakan simbol penting.
Simbol abu tersebut menyadarkan umat akan kerapuhan dan kelemahan manusia di hadapan Allah, mengingatkan bahwa kita hanyalah abu. Oleh karena itu, momentum Prapaskah mengundang umat untuk menyadari jalan pulang kepada Allah.
Umat diajak untuk berbalik melakukan berbagai hal baik, berjuang bertobat, memperbaharui diri, dan mengubah orientasi hidup batin. Puasa dan berpantang juga menjadi momentum hening dalam hidup batin, di mana umat dapat bersatu dengan Allah melalui doa yang terus-menerus.
Peningkatan spiritualitas melalui doa, baik secara pribadi, dalam komunitas, maupun dalam Ekaristi, menjadi fokus utama selama masa Prapaskah ini. Dengan demikian, puasa diyakini mampu membawa perubahan orientasi hidup menuju cita-cita yang lebih teratur dan terarah.
Aksi Konkret: Doa, Derma, dan Mati Raga
Selain mengekang konsumerisme, puasa di masa Prapaskah juga perlu diiringi dengan pembangunan solidaritas sosial. Pastor Markus Malu, Pr menekankan pentingnya memperbanyak derma dan bersedekah sebagai wujud nyata dari kepedulian.
Masa puasa harus dijalankan dengan aksi konkret yang meliputi tiga aspek utama: doa, berderma, dan bermati raga. Ketiga aspek ini saling melekat dan berhubungan erat, bertujuan untuk membantu umat bersatu kembali bersama Allah.
Aksi konkret mengasihi sesama menjadi perwujudan kepedulian umat beriman terhadap sesama dan juga kepada Allah. Ini adalah cara untuk menunjukkan iman melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai penanda awal masa mati raga bagi umat Katolik, Misa Rabu Abu di Gereja Santa Maria Pelindung Para Pelaut Mentok berlangsung lancar dan aman. Ibadat tersebut dihadiri oleh sekitar 400 orang, menandai dimulainya perjalanan Prapaskah yang penuh makna.
Sumber: AntaraNews