Mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surabaya Perkuat Sanitasi Banyuwangi
Puluhan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surabaya terjun langsung ke Banyuwangi selama 20 hari untuk mengatasi persoalan sanitasi dan air bersih, sebuah langkah nyata dalam mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat di Banyuwangi.
Puluhan mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Surabaya (Poltekkes Kemenkes Surabaya) memulai program Praktik Kerja Komunitas (PKK) di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kegiatan ini berfokus pada identifikasi serta penanganan berbagai persoalan kesehatan masyarakat, khususnya di bidang sanitasi, air bersih, dan lingkungan yang vital bagi kesejahteraan warga.
Sebanyak 82 mahasiswa semester enam dari Program Studi Sanitasi Diploma Tiga Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Surabaya akan mengabdikan diri selama 20 hari, terhitung mulai tanggal 6 hingga 25 April 2026. Kehadiran mereka diharapkan dapat membawa dampak positif dan solusi konkret terhadap masalah-masalah kesehatan lingkungan yang ada di Banyuwangi.
Program ini merupakan bagian integral dari kurikulum pendidikan mereka, memberikan kesempatan bagi para mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah secara langsung di tengah masyarakat. Melalui PKK ini, mahasiswa akan mengasah kepekaan sosial dan kemampuan praktis dalam merumuskan solusi yang tepat guna untuk tantangan sanitasi Banyuwangi.
Kontribusi Mahasiswa dalam Isu Kesehatan Lingkungan
Kegiatan Praktik Kerja Komunitas (PKK) yang melibatkan 82 mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surabaya ini merupakan wujud nyata kepedulian institusi pendidikan terhadap masalah kesehatan di daerah. Selama 20 hari, para mahasiswa akan berinteraksi langsung dengan masyarakat, mengidentifikasi akar masalah, dan memberikan edukasi serta bantuan teknis terkait sanitasi dan air bersih.
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyambut baik inisiatif ini dan menyampaikan apresiasinya atas kehadiran mahasiswa. "Terima kasih kepada Poltekkes Kemenkes yang sudah berkenan melakukan kegiatan PKK di sini," kata Bupati Ipuk Fiestiandani di Pendopo Kabupaten Banyuwangi pada Senin. Ia berharap kontribusi mahasiswa dapat membantu mengatasi sebagian dari berbagai persoalan kesehatan di Banyuwangi.
Bupati Ipuk juga mengingatkan para mahasiswa bahwa praktik lapangan sangat berbeda dengan teori yang didapatkan selama perkuliahan. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi kesempatan berharga untuk mengasah kepekaan dan kemampuan dalam merumuskan solusi yang adaptif dan tepat sasaran. Pengalaman langsung di lapangan akan memperkaya pemahaman mereka tentang kompleksitas masalah kesehatan masyarakat.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kesehatan lingkungan, tetapi juga mengembangkan keterampilan interpersonal dan pemecahan masalah yang krusial untuk karir mereka di masa depan. Interaksi dengan masyarakat dan pemerintah daerah akan menjadi pembelajaran berharga bagi mereka.
Tantangan Sanitasi dan Air Bersih di Banyuwangi
Program Studi Sanitasi yang ditempuh oleh para mahasiswa Poltekkes Kemenkes Surabaya ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat, mengingat masih adanya tantangan signifikan di Banyuwangi. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tercatat bahwa 6,78 persen rumah tangga di Banyuwangi masih belum memiliki akses air minum layak. Angka ini menunjukkan bahwa upaya peningkatan akses air bersih masih sangat diperlukan.
Selain itu, data BPS juga menyoroti bahwa hanya 10,30 persen akses sanitasi di Banyuwangi yang tergolong aman. Persentase yang rendah ini mengindikasikan adanya celah besar dalam penyediaan fasilitas sanitasi yang memadai dan higienis bagi masyarakat. Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan jika tidak segera ditangani.
"Ini menjadi tantangan bersama," ujar Bupati Ipuk, menegaskan urgensi masalah tersebut. Ia berharap mahasiswa dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan capaian sanitasi, air bersih, dan kesehatan lingkungan, khususnya di wilayah Banyuwangi. Keterlibatan aktif dari berbagai pihak, termasuk institusi pendidikan, sangat penting untuk mencapai target pembangunan berkelanjutan.
Masalah sanitasi dan air bersih yang belum optimal tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga kualitas hidup dan produktivitas masyarakat. Oleh karena itu, kehadiran mahasiswa dengan keilmuan di bidang sanitasi diharapkan mampu membawa perubahan positif yang signifikan.
Lokasi dan Harapan Perluasan Program
Direktur Poltekkes Kemenkes Surabaya, Luthfi Rusyadi, menjelaskan bahwa Praktik Kerja Komunitas tahun ini dilaksanakan di dua kecamatan yang berbeda, dengan melibatkan tiga puskesmas sebagai lokasi utama kegiatan. Puskesmas Wonosobo dan Puskesmas Srono menjadi titik fokus, bersama dengan Puskesmas Tembokrejo yang berada di Kecamatan Muncar.
Pemilihan lokasi ini didasarkan pada kebutuhan dan potensi dampak yang dapat dihasilkan oleh intervensi mahasiswa. Luthfi Rusyadi juga mengungkapkan rencana perluasan program di masa mendatang. "Insya-Allah tahun depan akan kami tambah dengan sarjana terapan sekitar 170 mahasiswa," tuturnya, menunjukkan komitmen untuk memperluas cakupan dan manfaat program.
Dengan penambahan jumlah mahasiswa dan kemungkinan perluasan ke beberapa kecamatan lain, diharapkan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat Banyuwangi akan semakin besar. Peningkatan skala program ini akan memungkinkan jangkauan yang lebih luas dalam mengatasi persoalan sanitasi dan air bersih di berbagai pelosok.
Visi untuk memperluas program ini mencerminkan tujuan jangka panjang Poltekkes Kemenkes Surabaya untuk terus berkontribusi pada peningkatan kesehatan masyarakat. Kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemerintah daerah seperti ini menjadi model efektif dalam pembangunan kesehatan lingkungan yang berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews