Lapas Wirogunan Rayakan Idul Adha Penuh Khidmat, Warga Binaan Antusias Ikuti Penyembelihan Kurban
Lapas Wirogunan merayakan Idul Adha dengan kegiatan shalat berjamaah dan penyembelihan hewan kurban. Warga binaan antusias, bahkan dihibur musisi. Bagaimana suasana perayaan Idul Adha di Lapas Wirogunan?
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Yogyakarta, yang dikenal sebagai Lapas Wirogunan, menggelar perayaan Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriah dengan penuh khidmat. Kegiatan ini melibatkan seluruh warga binaan melalui shalat berjamaah dan prosesi penyembelihan hewan kurban yang berlangsung selama tiga hari. Perayaan ini menjadi momen penting untuk memperkuat pembinaan spiritual serta memberikan kesempatan bagi warga binaan untuk menjalankan ibadah.
Kepala Lapas Kelas IIA Yogyakarta, Marjiyanto, menyatakan bahwa persiapan untuk shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban telah dilakukan jauh-jauh hari guna memastikan kelancaran acara. Seluruh rangkaian kegiatan dipusatkan di lapangan tenis Lapas Yogyakarta yang dinilai representatif untuk menampung seluruh peserta. Antusiasme warga binaan terlihat jelas dalam partisipasi mereka pada setiap tahapan perayaan.
Tidak hanya itu, suasana perayaan Idul Adha di Lapas Wirogunan juga dimeriahkan dengan kehadiran musisi ternama, Ardi Nurdin dari grup band Jikustik. Kehadiran musisi ini menambah semarak dan memberikan hiburan istimewa bagi para penghuni lapas, menciptakan pengalaman Idul Adha yang berkesan dan berbeda dari biasanya.
Pelaksanaan Shalat dan Penyembelihan Hewan Kurban
Rangkaian perayaan Idul Adha di Lapas Wirogunan diawali dengan pelaksanaan shalat Idul Adha berjamaah yang diikuti oleh seluruh warga binaan dan petugas. Setelah itu, dilanjutkan dengan prosesi penyembelihan hewan kurban yang menjadi puncak dari kegiatan spiritual ini. Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bentuk pembinaan spiritual yang berkelanjutan bagi warga binaan.
Pada tahun ini, Lapas Yogyakarta berhasil menyembelih total tiga ekor sapi dan delapan ekor kambing. Hewan-hewan kurban tersebut merupakan hasil partisipasi dan sumbangan dari warga binaan, keluarga warga binaan, serta para petugas lapas. Hal ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian yang tinggi di lingkungan Lapas Wirogunan.
Proses penyembelihan hewan kurban dilakukan secara bertahap selama tiga hari untuk memastikan kelancaran dan efisiensi. Pada hari pertama, satu ekor sapi dan tiga ekor kambing disembelih, diikuti hari kedua dengan satu ekor sapi dan empat ekor kambing. Hari ketiga ditutup dengan penyembelihan satu ekor sapi dan satu ekor kambing, melengkapi seluruh rangkaian ibadah kurban.
Marjiyanto menegaskan bahwa makna dari peringatan Idul Adha ini adalah untuk menumbuhkan ketaatan kepada perintah Allah dan meneladani para nabi. Melalui kegiatan ini, diharapkan warga binaan dapat mengambil hikmah dan pelajaran berharga untuk diterapkan dalam kehidupan mereka. Ini merupakan bagian penting dari program reintegrasi sosial.
Jaminan Kesehatan Daging Kurban dan Makna Spiritual
Untuk memastikan daging kurban layak konsumsi dan aman bagi kesehatan, Lapas Yogyakarta menggandeng petugas dari dinas terkait. Mereka melakukan pemeriksaan post-mortem terhadap organ dalam hewan kurban, meliputi hati, limpa, dan paru-paru. Langkah ini merupakan bagian dari standar operasional prosedur untuk menjaga kualitas dan keamanan pangan.
Dalam pemeriksaan yang dilakukan, ditemukan adanya indikasi tidak sehat pada organ hati salah satu ekor sapi yang disembelih pada hari kedua. Organ tersebut langsung dimusnahkan sesuai prosedur kesehatan untuk mencegah risiko penyebaran penyakit. Hal ini menunjukkan komitmen Lapas Wirogunan dalam menyediakan daging kurban yang higienis dan berkualitas.
Kegiatan penyembelihan hewan kurban ini tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Ini adalah kesempatan bagi warga binaan untuk melaksanakan perintah agama dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Pembinaan spiritual menjadi prioritas untuk mendukung perubahan perilaku positif.
Peringatan Idul Adha di Lapas Wirogunan juga menjadi ajang untuk meneladani kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS yang penuh ketaatan dan pengorbanan. Nilai-nilai ini diharapkan dapat meresap dalam diri warga binaan, mendorong mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Kesempatan beribadah bersama ini sangat berarti bagi mereka.
Hiburan Musisi dan Suasana Kekeluargaan di Lapas
Suasana perayaan Idul Adha di Lapas Wirogunan semakin meriah dengan kehadiran musisi Ardi Nurdin, gitaris grup band Jikustik. Ardi Nurdin, yang akrab disapa Dadik Jikustik, diundang khusus untuk menghibur para penghuni lapas. Kehadirannya disambut antusias oleh warga binaan yang jarang mendapatkan hiburan semacam ini.
Dadik Jikustik mengungkapkan kegembiraannya bisa datang secara langsung dan menyaksikan kegiatan di Lapas Yogyakarta. Ini adalah pengalaman pertamanya masuk ke Lapas Jogja, dan ia mengaku terkejut dengan suasana di dalamnya. "Ini adalah kali pertama saya masuk ke Lapas Jogja, ternyata jauh dari yang saya bayangkan, di dalam suasananya seperti di perumahan," ujarnya.
Menurut Dadik, kegiatan di dalam lapas selayaknya lingkungan masyarakat pada umumnya, termasuk kegiatan keagamaan yang terpusat di masjid lapas. Ia melihat warga binaan tampak antusias dan bersemangat dalam setiap kegiatan. "Saya senang sekali bertemu sedulur-sedulur yang ada di dalam, mereka tampak antusias bersama-sama memotong daging kurban," tambahnya.
Kehadiran musisi ini tidak hanya memberikan hiburan, tetapi juga menciptakan suasana kekeluargaan dan kebersamaan yang hangat. Momen seperti ini sangat penting untuk menjaga semangat dan mental positif warga binaan. Perayaan Idul Adha Lapas Wirogunan menjadi bukti bahwa pembinaan dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Sumber: AntaraNews