LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Korban bom JW Marriott: Tuhan saja maha pemaaf, saya juga harus maafkan

Dia juga terenyuh saat mendengar pelaku meminta maaf.

2018-02-28 19:46:34
Terorisme
Advertisement

Pemerintah membuka proses rekonsiliasi antara mantan pelaku terorisme dengan korban terorisme. Acara bertajuk 'Satukan NKRI' digelar Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Hotel Borobudur, Rabu (28/2), dengan 124 mantan napiter dan 51 penyintas.

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, mengatakan acara ini menjadi tempat saling memaafkan antara pelaku dengan korban. Hal ini, kata dia, merupakan satu-satunya yang pernah dilakukan di dunia. Itu membuktikan bahwa keseriusan Indonesia menangani terorisme. Menurut pendiri Partai Hanura ini, terorisme tak hanya ditangani lewat penumpasan, namun perlu juga pencegahan melalui deradikalisasi.

"Hari ini, kita masuk kesatu acara puncak deradikalisasi itu upaya pencegahan dan pemulihan dengan mempertemukan paling tidak empat pihak," ujar Wiranto.

Advertisement

Korban bom JW Marriott, Agus Swarsih (40), mengaku masih sedikit trauma saat dipertemukan dengan pelaku. Ingatan kejadian ketika ledakan terjadi sedikit terbuka. Namun, bukan kesal dan dendam, dia hanya bisa terharu.

"Kayak tadi pas baca doa dan mantan pelaku minta maaf ya terenyuh saya, terharu juga," ucapnya kepada wartawan.

Dia pun mantap untuk melakukan rekonsiliasi terhadap ingatan itu sepenuhnya. Sebagai manusia, dia menerima permintaan maafnya itu dengan sepenuh hati.

Advertisement

"Mau tidak mau apapun itu saya manusia dia manusia, Saya memaafkan. Tuhan aja maha pemaaf saya juga harus maafkan," imbuhnya.

Agus bercerita, pertemuan seperti ini sesungguhnya sudah sejak tahun 2012 direncanakan. Sebelumnya pun pernah dipertemukan dengan pelaku dalam acara yang berbeda. Dia mengatakan perlu waktu untuk benar-benar bisa memaafkan para pelaku.

"Dulu malah saya pernah ngomong jangan sampai dipertemukan mereka, nanti gue cabik-cabik nih mukanya, saat itu saya pikir sudah banyak korban orang meninggal, buat saya dia mati aja belum cukup, yang ada panas terus di hati," ucapnya.

Korban bom Bali pertama, Chusnul Chotimah mengatakan dendamnya kepada para korban sudah hilang. Meski ingatan peristiwa ketika itu tak kunjung sirna. Namun, ibu tiga anak ini telah memaafkan betul para pelaku. Kesiapan dan kematangan hatinya sudah mantap bertemu pelaku yang membakar kulitnya. Meski kata dia masih banyak pula korban yang tak bisa memaafkan para mantan napi terorisme.

"Saya sih sudah menerima, ini takdir allah buat saya, kali pertama dipertemukan," ucapnya.

Mantan narapidana terorisme, Sofyan Sauri, mendukung pertemuan rekonsiliasi pelaku dan korban seperti ini. Sebab, menurutnya pertemuan langsung akan lebih efektif untuk proses deradikalisasi pelaku. Mempertemukan pelaku dengan melihat kondisi korban secara langsung, kata Sofyan, akan lebih mudah luluh hatinya daripada kontra ideologi.

"Cara yang paling efektif adalah bagaimana pelaku ini bertemu dengan korban. Kalau dia tidak bisa kita bilangin dan tidak bisa kontra ideologi dan secara narasi tidak bisa, suruh samperin aja korban. Dari korban yang mukanya hancur itu dia akan terenyuh dan saya kira itu efektif," jelasnya.

Baca juga:
Para korban ledakan bom tagih janji pemerintah
Tak dapat perhatian, anak korban bom Bali sempat ingin jadi teroris
Mantan terpidana terorisme ingin diterima di masyarakat
Ketika mantan teroris tagih Wiranto beri keringanan hukuman temannya
Agar para mantan teroris setia pada NKRI

(mdk/rzk)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.