KontraS Terima Banyak Aduan Aktivis Lingkungan Jadi Korban Kekerasan Aparat
Kebanyakan dari aduan tersebut meliputi teror, pemukulan sampai percobaan pembunuhan.
Koordinator Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Fatia Maulidiyanti mengungkapkan banyak pengaduan masuk terkait kekerasan aparat terhadap aktivis SDA dan lingkungan. Kebanyakan dari aduan tersebut meliputi teror, pemukulan sampai percobaan pembunuhan.
“Pada perjalanannya memang banyak pengaduan yang datang ke KontraS terkait soal pembela HAM. Dan salah satunya adalah pembela HAM yang kecimpung di bidang SDA. Jadi kita lihat bahwa dalam perjalanannya dan khususnya, di era-era saat ini semakin banyak petani, nelayan, dan juga pembela HAM yang memang bergerak di isu-isu lingkungan itu menjadi korban dari kekerasan aparat negara," kata Fatia di acara ulang tahun WALHI ke-40, Kamis (15/10).
"Mulai dari kriminalisasi, lalu juga ada pemukulan dan bahkan percobaan pembunuhan. Dan yang terakhir adalah yang sedang kita investigasi bersama terkait soal kematian Golfrid Siregar yang merupakan salah satu anggota dari WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Sumatera Utara," sambung dia.
KontraS mulai melakukan berbagai upaya advokasi seperti monitoring, riset, advokasi internasional, dan juga kampanye terkait isu SDA dan lingkungan. Dari catatan KontraS, jumlah korban dari aktivis dan pegiat jadi yang terbanyak terhitung sejak Januari hingga Juli 2020.
"Dari catatan Kontras sendiri bahkan setahun ini saja dari mulai Bulan Januari sampai dengan Juli 2020 itu terdapat 256 korban kriminalisasi, intimidasi, teror dan lain sebagainya yang dirasakan atau dialami oleh para pembela HAM, dan paling banyak itu menimpa kepada orang-orang yang bergerak pada isu sumber daya alam," papar Fatia.
Fatia menduga tren kekerasan bagi aktivis yang bergerak di bidang lingkungan dan SDA karena maraknya investasi asing di Indonesia.
"Jadi memang karena masifnya dan dibukanya investasi asing, dan juga izin korporasi, dan bagaimana masifnya korporasi ini bergerak. Dan juga akhirnya berdampak pada kerusakan lingkungan hidup. Akhirnya itu juga berdampak pada masyarakat di sekitar, kepada masyarakat adat, petani, nelayan, dan lain sebagainya yang ketika mereka ingin berjuang untuk menyuarakan haknya, (tapi) pada akhirnya mereka menjadi korban dari kriminalisasi ataupun intimidasi," ungkap dia.
Fatia juga menyoroti soal izin AMDAL yang seringkali dilanggar oleh korporasi dan pada akhirnya berdampak pada kelestarian lingkungan.
“KontraS tahun lalu baru saja meluncurkan sebuah laporan juga terkait soal situasi di pulau-pulau kecil di Indonesia dengan dampak dari pabrik-pabrik tambang dan juga korporasi lainnya, yang pada akhirnya mencemarkan lingkungan dan membuat masyarakat di sekitarnya pada akhirnya tidak bisa mencari mata pencaharian mereka,"
Reporter Magang: Maria Brigitta Jennifer
Baca juga:
Aksi Mengecam Kekerasan Aparat Polisi
Damai, Saksi yang Disiksa di Mapolsek Percut Sei Tuan Cabut Laporan
Kisah Anak 8 Tahun Berkebutuhan Khusus di AS Diborgol Polisi Karena Pukul Gurunya
Propam Polda Kepri Mulai Selidiki Penyebab Kematian Hendri Bakari
DPR Desak Polda Kepri Usut Kematian Hendri Bakari, Dipantau Mabes Polri & Komnas HAM