Komisi III DPR Minta TNI-Polri Transparan Ungkap Kasus Ledakan Amunisi di Garut yang Tewaskan 13 Orang
TNI dan Polri didorong untuk transparans dalam penanganan kasus ini.
Sebanyak 13 orang meninggal dunia akibat pemusnahan amunisi TNI di Garut, Jawa Barat. Dari jumlah tersebut, 9 diantaranya warga sipil dan 4 anggota TNI.
Anggota Komisi III DPR RI Fraksi NasDem, Lola Nelria Oktavia sudah berkoordinasi dengan jajaran Kepolisian setempat terkait peristiwa itu. Lola berujar, seharusnya sudah ada pertimbangan keamanan yang matang sebelum pemusnahan itu.
"Jarak dengan Polres juga sekitar 3 jam. Jadi seharusnya sudah ada pertimbangan yang matang termasuk dalam hal pengalaman penyelenggaraan kegiatan yang mempertimbangkan keamanan dan keselamatan masyarakat," kata Lola kepada wartawan, Selasa (13/5).
Meski demikian, Lola menekankan, semua pihak harus menunggu hasil investigasi resmi. Sehingga tak perlu menimbulkan spekulasi.
"Mari kita tunggu hasil investigasi resmi untuk memastikan keadilan bagi para korban. Tidak perlu Ada spekulasi Yang terlalu dini atas peristiwa ini," ungkap Lola.
Perlu Ada Perbaikan Sistem Keamanan
Wabendum Partai NasDem ini menekankan agar TNI dan Polri dapat memberikan transparansi dalam penanganan kasus ini.
"Sekaligus memperbaiki sistem keamanan dalam pengelolaan amunisi. Jangan sampai kejadian serupa terulang atau terjadi di tempat lain," ucap Lola.
Lebih lanjut, dia menyampaikan duka cita mendalam untuk para korban. Menurutnya, peristiwa itu menyisakan luka mendalam, baik bagi keluarga korban maupun masyarakat luas.
"Korban luka juga harus mendapatkan penanganan cepat dan perawatan terbaik agar jumlah korban jiwa tidak bertambah," pungkas Lola.
Kronologi Ledakan
Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana mengungkapkan kronologi ledakan saat pemusnahan amunisi tidak layak pakai di Garut yang menyebabkan 13 orang meninggal dunia.
Wahyu menjelaskan, pada hari ini, Senin (12/5) pukul 09.30 WIB, dilaksanakan pemusnahan amunisi afkir tidak layak pakai inventaris TNI Angkatan Darat di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
“Pemusnahan tersebut dilaksanakan oleh jajaran gudang pusat amunisi 3, pusat peralatan TNI Angkatan Darat,” jelas Wahyu lewat sebuah video.
Proses peledakan amunisi afkir tidak layak pakai ini berjalan sesuai prosedur. Berawal dari dilaksanakan pengecekan terhadap personel maupun lokasi peledakan. Semuanya dinyatakan dalam keadaan aman.
Selanjutnya tim penyusun amunisi melakukan persiapan pemusnahan di dalam dua lubang sumur yang disiapkan. Setelahnya, seluruh tim masuk ke pos masing-masing untuk melaksanakan pengamanan.
“Setelah dinyatakan aman kemudian dilakukan peledakan di dua sumur yang ditempati oleh amunisi afkir tersebut untuk dihancurkan,” sambungnya.
Peledakan di dua sumur ini berjalan dengan sempurna dalam kondisi aman. Sedangkan di luar dua umur ini disiapkan satu lubang yang digunakan untuk menghancurkan detanator yang selesai digunakan.
“Saat tim penyusun amunisi menyusun di dalam lubang tersebut secara tiba-tiba terjadi ledakan dari dalam lubang yang mengakibatkan 13 orang meninggal dunia,” ujarnya.