Klinik Bergerak Beri Layanan Deteksi Dini Kanker Payudara Bagi Warga Bandung
Layanan klinik bergerak itu hari ini tersedia di SMAN 2 Bandung.
Satu unit bus medium berkelir putih tampak mejeng di halaman SMAN 2 Bandung, Jalan Cihampelas nomor 173 pada Sabtu (6/9). Bukan untuk membawa rombongan siswa sekolah itu studi tur, tapi hadir sebagai klinik bergerak yang menyediakan ruang bagi warga memeriksakan diri terkait masalah kanker payudara secara gratis.
Anna Arina, adalah salah satu dari warga yang memeriksakan diri di Mobile Clinic Cancer itu. Saat dijumpai, ia mengaku belakangan memang kerap mengecek kondisi kesehatannya guna mendeteksi potensi penyakit serius, sehingga dapat dicegah sedini mungkin.
Dalam bus ukuran sedang milik organisasi akar rumput Rotary Club Bandung itu, ia bilang petugas kesehatan mengecek area dada hingga ketiak. Kabar baik, hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Anna negatif terindikasi kanker payudara.
“Jadi saya sengaja, kebetulan ada program ini jadi saya mengikuti dan hasilnya Alhamdulillah saya bagus, clear,” ucap wanita 60 tahun itu yang juga merupakan alumni SMAN 2 Bandung.
Anna pun bercerita, kesadaran pencegahan ini tidak muncul tiba-tiba. Tetapi terutama timbul pasca buah hatinya menjalani operasi tumor otak tingkat II, yang didiagnosa dokter karena faktor genetik.
“Alhamdulillah udah diambil, dioperasi, dan dengan hasilnya grade dua masih tetep harus kemoterapi. Jadi saya takut ada genetik karena anak saya genetik katanya, kenanya,” ujar dia.
Hadirnya layanan deteksi dini kanker payudara ini merupakan rangkaian dari Pekan Olahraga Intra SMAN 2025 dan digagas oleh Alumni SMAN 1 hingga SMAN 6 Bandung (Porisman). Paguyuban samping menggandeng Rotary Club, Paguyuban Porisman juga berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bandung.
Kadinkes Kota Bandung, Sony Adam pun mengungkapkan dukungannya atas program ini. Terlebih mengingat kanker payudara tergolong sebagai salah satu penyakit paling mematikan di Indonesia, dan jumlahnya kata Sony masih relatif tinggi di Kota Bandung.
Berdasarkan data yang dimilikinya, Sony mengungkap bahwa sepanjang tahun 2024, ada sebanyak 268 terdeteksi mengalami kanker payudara. Angka tersebut menyusul data pada beberapa tahu sebelumnya, di mana tercatat sebanyak 483 kasus.
“Dan kasus kematian kanker payudara sebanyak 15 orang, ini di kota Bandung ya,” ujar dia.
Dengan kegiatan ini, Sony berharap semakin banyak masyarakat Bandung yang sadar akan manfaat deteksi dini kanker payudara. Sehingga warga juga tahu upaya yang dapat dilakukan sebagai upaya pencegahan dan angka sembuh dari penyakit ini dapat menurun.
“Semakin masyarakat banyak tahu tentang deteksi dini, semakin mereka tahu bagaimana menanganinya. Sebetulnya sangat mungkin bisa diobati kalau ketahuan secara dini. Kalau stadium lanjut itu sangat sulit dan biayanya juga sangat mahal,”
“Tapi kalau diketahui secara dini, itulah yang terpenting pengobatannya akan murah, angka sembuh nya akan tinggi dan semua akan sehat,” imbuh dia.
Terpisah, Ketua Paguyuban Porisman, Djanaka Adji Djatnika, menyebut kegiatan ini tak semata terkait deteksi dini kanker payudara gratis. Tapi juga cek darah, hingga penyuluhan kesehatan.
"Dan ini dilakukan di 6 SMA, tapi terbuka juga untuk umum, termasuk guru dan para siswa di SMA masing-masing,” katanya.
Sementara itu, Presiden Rotary Club Bandung Mediyana Agrivina Mahendra mengatakan, kasus kanker payudara masih relatif tinggi dan kebanyakan terdeteksi pada tahap lanjut. Hal itu berdasarkan temuan ia di lapangan sejak bergerak dengan Mobile Cancer Clinic pada 2018.
Hal ini mengindikasikan masih minimnya kesadaran untuk mengantisipasi penyakit tersebut.
“Kalau kanker payudara, cukup tinggi memang. Kalau persentase mungkin selama kita bergerak dari tahun 2018 itu di 20 persen sampai 30 persen," kata dia.
Untuk itu, ia pun pihaknya merasa senang dilibatkan dalam kegiatan ini. Terlebih dengan adanya Mobile Cancer Clinic yangemang dikhususkan untuk menjemput permasalahan kesehatan masyarakat.
“Jadi alhamdulillah sudah 2.500 yang terbantu dan areanya mencakup Jawa Barat dan khususnya Kota Bandung. Jadi kita fokus, alhamdulillah mobil ini terselenggara berkat upaya kami dari Rotary Club Bandung kerjasama dengan mitra lokal dan internasional. Jadi mobil ini memang kerjanya dia datang ke masyarakat yang tidak memiliki fasilitas kesehatan tapi dia ingin memeriksakan kesehatan terutama untuk perempuan untuk memeriksakan payudara,” katanya.