KKP dan DANA Kolaborasi Kuatkan Ekonomi Biru Melalui Aksi Bersih Pantai di Bali
KKP dan DANA berkolaborasi menggalakkan Ekonomi Biru melalui aksi bersih pantai di Bali, menegaskan komitmen menjaga ekosistem laut untuk keberlanjutan.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkolaborasi dengan platform dompet digital DANA untuk memperkuat perlindungan ekosistem laut. Inisiatif ini menjadi fondasi utama dalam pengembangan ekonomi biru Indonesia. Aksi nyata kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembersihan sampah di Pantai Petitenget, Kabupaten Badung, Bali, pada Sabtu, 13 Juni 2026.
Kegiatan yang bertajuk “Waste to Waves: Langkah Kecil yang Terkumpul, Akan Membawa Gelombang Perubahan yang Besar” ini merupakan bagian dari rangkaian Road to Ocean Impact Summit (OIS) 2026. Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara M, hadir langsung di lokasi untuk menegaskan pentingnya menjaga keberlanjutan laut. Laut adalah sumber kehidupan yang menopang ketahanan pangan dan menghasilkan oksigen bagi dunia.
Koswara menjelaskan bahwa dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut, menyimpan sumber daya vital seperti oksigen, pangan, dan keanekaragaman hayati. Kekayaan biodiversitas ini tidak dimiliki banyak negara lain. Oleh karena itu, menjaga kelestarian laut adalah prioritas utama untuk masa depan bangsa.
Fokus KKP pada Kebijakan Ekonomi Biru Berkelanjutan
KKP saat ini menjalankan lima kebijakan utama dalam kerangka ekonomi biru, yang sebagian besar berfokus pada upaya menjaga keberlanjutan ekosistem laut. Kebijakan ini mencakup perluasan kawasan konservasi, perlindungan pulau-pulau kecil, dan pengendalian sampah laut. Selain itu, KKP juga fokus pada pengelolaan perikanan tangkap berkelanjutan serta pengembangan perikanan budidaya yang ramah lingkungan.
Konservasi laut menjadi instrumen krusial untuk menjaga kesehatan ekosistem laut. Pemerintah menargetkan pencapaian 30 persen kawasan konservasi laut pada tahun 2045. Target ini merupakan bagian dari komitmen Indonesia untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan memperkuat ketahanan ekosistem pesisir dari berbagai ancaman.
Selain itu, KKP juga memberikan perhatian khusus terhadap pulau-pulau kecil yang memiliki fungsi ekologis tinggi. Meskipun luas wilayahnya relatif kecil, kerusakan pada pulau-pulau ini akan berdampak langsung. Dampak tersebut akan terasa pada kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan, sehingga perlindungannya menjadi sangat vital.
Ancaman Sampah Laut dan Solusi Kolaboratif
Koswara menyoroti persoalan sampah sebagai ancaman serius bagi ekosistem laut dan keberhasilan ekonomi biru. Sampah plastik yang masuk ke laut tidak hanya mencemari lingkungan. Sampah ini juga berdampak negatif pada rantai makanan dan sumber daya perikanan, mengancam keberlanjutan hidup biota laut.
“Penelitian menunjukkan mikroplastik sudah ditemukan pada ikan,” ujarnya, menekankan urgensi masalah ini. Oleh karena itu, strategi terbaik adalah mencegah sampah masuk ke laut sejak dari daratan. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dalam mengatasi masalah sampah laut secara menyeluruh dan berkelanjutan.
KKP bersama Pemerintah Provinsi Bali telah menjalin kerja sama erat untuk memperkuat pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir. Upaya ini termasuk di kawasan pesisir dan aliran sungai yang sering menjadi jalur utama masuknya sampah ke laut. Model pengelolaan berbasis kolaborasi ini berhasil menekan residu sampah hingga 25 persen menuju tempat pembuangan akhir.
Keberhasilan model kolaborasi ini dinilai dapat direplikasi di berbagai daerah lain di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan masalah sampah laut dapat ditangani secara lebih efektif dan terkoordinasi. Replikasi model ini akan mendukung visi ekonomi biru yang berkelanjutan di seluruh wilayah pesisir.
Peran DANA dan Kesadaran Lingkungan
Kegiatan bersih pantai ini merupakan hasil kolaborasi antara KKP dengan platform dompet digital DANA Indonesia. Kolaborasi ini juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya menjaga ekosistem laut dan mengurangi kebocoran sampah ke perairan.
Direktur Komunikasi DANA Indonesia, Olavina Harahap, menyatakan bahwa tantangan lingkungan, khususnya persoalan sampah laut, membutuhkan aksi kolektif. Keberhasilan menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan oleh satu institusi atau perusahaan saja. Sebaliknya, hal ini memerlukan kerja sama dari berbagai pihak secara sinergis.
“Bali dipilih karena menjadi simbol keseimbangan antara manusia dan alam yang selama ini dijaga melalui nilai-nilai luhur masyarakatnya,” kata Olivia. Namun, di saat yang sama, tantangan lingkungan seperti sampah juga semakin nyata dan membutuhkan aksi bersama dari seluruh elemen masyarakat.
Olivia menjelaskan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian integral dari strategi operasional perusahaan DANA. DANA meyakini bahwa teknologi dan inovasi digital memiliki potensi besar. Teknologi ini dapat mempercepat perubahan menuju pembangunan yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan, mendukung inisiatif ekonomi biru.
Sumber: AntaraNews