Ketum PBNU Jelaskan Alasan Ketidakhadiran Prabowo dan Tokoh Penting Lainnya di Harlah NU
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf buka suara terkait Ketidakhadiran Tokoh di Harlah NU ke-100, termasuk Presiden Prabowo Subianto dan Rais Aam. Apa alasannya?
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf memberikan penjelasan mengenai absennya beberapa tokoh penting dalam peringatan Harlah ke-100 Nahdlatul Ulama (NU). Acara yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (31/1) ini tidak dihadiri oleh Presiden Prabowo Subianto, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar, serta Sekretaris Jenderal (Sekjen) PBNU Syaifulah Yusuf.
Gus Yahya, sapaan akrab Yahya Cholil Staquf, mengungkapkan bahwa koordinasi teknis telah dilakukan secara intensif sehari sebelum acara. Pihak PBNU telah berkoordinasi dengan berbagai perangkat kepresidenan, termasuk Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) dan protokol Istana, untuk memastikan kehadiran Presiden.
Namun, pada saat terakhir, Presiden Prabowo Subianto berhalangan hadir karena adanya tugas lain yang bersifat kenegaraan. Selain itu, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar juga tidak dapat hadir karena kendala kesehatan, sementara Sekjen PBNU Syaifulah Yusuf memiliki agenda lain yang tidak dapat ditinggalkan.
Alasan Ketidakhadiran Presiden Prabowo Subianto di Harlah NU
Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf menjelaskan bahwa persiapan untuk kehadiran Presiden Prabowo Subianto telah dilakukan dengan matang. Sejak sehari sebelum peringatan Harlah ke-100 NU, PBNU telah berkoordinasi dengan berbagai pihak terkait kepresidenan. Koordinasi ini mencakup Paspampres dan protokol Istana, serta pengaturan teknis lainnya yang diperlukan untuk kedatangan seorang kepala negara.
Meski demikian, pada momen terakhir, Presiden Prabowo Subianto tidak dapat hadir. Gus Yahya menyebutkan bahwa Presiden memiliki tugas lain yang bersifat kenegaraan. “Pada saat terakhir beliau mungkin berhalangan, karena ada tugas lain. Kami juga mendengar ada beberapa agenda negara terkait tamu-tamu negara yang hadir hari ini,” ujar Gus Yahya di Istora Senayan, Jakarta.
PBNU menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ketua MPR RI Ahmad Muzani yang mewakili unsur pimpinan lembaga negara. Kehadiran beliau menunjukkan dukungan terhadap acara penting ini. Presiden Prabowo Subianto sendiri merupakan bagian dari Kabinet Merah Putih yang dilantik pada 21 Oktober 2024.
Kendala Kesehatan Rais Aam PBNU dan Agenda Lain Sekjen PBNU
Selain Presiden, Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar juga tidak dapat menghadiri peringatan Harlah ke-100 NU. Gus Yahya menerangkan bahwa pihaknya telah menerima pemberitahuan mengenai ketidakhadiran Kiai Miftah sejak malam sebelumnya. Alasan utama pembatalan kehadiran Rais Aam adalah karena kendala kesehatan yang dialaminya.
Biasanya, khutbah Rais Aam menjadi salah satu bagian penting dalam peringatan Harlah NU. Namun, karena kondisi kesehatan Kiai Miftah, khutbah tersebut diwakilkan. Tugas ini kemudian diemban oleh salah satu Rais Syuriyah PBNU, Nasaruddin Umar, yang juga menjabat sebagai Menteri Agama.
Tidak hanya itu, sejumlah pihak lain juga berhalangan hadir, termasuk Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf. Gus Yahya menyebutkan bahwa Sekjen PBNU telah memiliki agenda lain yang tidak dapat ditinggalkan. Situasi ini menunjukkan adanya berbagai faktor yang menyebabkan ketidakhadiran beberapa tokoh penting dalam acara tersebut.
Sumber: AntaraNews