Kemenpar Soroti Perubahan Tren Wisatawan Tiongkok: Dari Grup Bus ke Solo Traveler Modern
Kementerian Pariwisata menyoroti perubahan tren wisatawan Tiongkok pasca-pandemi, yang kini lebih mandiri, berani menjelajah, dan mencari pengalaman unik di Indonesia, membuka peluang besar bagi sektor pariwisata.
Kementerian Pariwisata (Kemenpar) baru-baru ini menyoroti adanya pergeseran signifikan dalam pola perilaku wisatawan asal Tiongkok yang berkunjung ke Indonesia. Perubahan ini diamati secara cermat oleh Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, dalam sebuah wawancara di Jakarta. Fenomena ini menunjukkan adaptasi wisatawan terhadap kondisi global dan kemajuan teknologi yang pesat.
Sebelum pandemi COVID-19, wisatawan Tiongkok umumnya memilih perjalanan dalam format grup besar menggunakan bus wisata, seringkali karena kendala bahasa. Namun, tren ini telah bergeser drastis seiring waktu. Kini, mereka lebih berani untuk menjelajah secara individu atau berdua, mencari pengalaman yang lebih personal dan mendalam.
Perubahan ini didorong oleh kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI), yang mempermudah komunikasi melalui berbagai platform penerjemah. Akibatnya, wisatawan Tiongkok kini memiliki fleksibilitas lebih besar dalam memilih destinasi dan aktivitas. Kemenpar melihat ini sebagai peluang emas untuk mengembangkan sektor pariwisata nasional.
Pergeseran Gaya Berwisata dan Peran Teknologi
Transformasi perilaku wisatawan Tiongkok menjadi salah satu fokus utama Kemenpar dalam mengembangkan strategi pemasaran pariwisata. Ni Made Ayu Marthini menjelaskan bahwa dahulu, rombongan wisatawan Tiongkok seringkali terdiri dari lima hingga enam orang dalam satu grup. Mereka mengandalkan agen perjalanan konvensional untuk mengatur seluruh itinerary perjalanan mereka.
Namun, era digital telah mengubah segalanya. "Sekarang itu telah terjadi perubahan substantif dari perilaku wisatawan dari Tiongkok," kata Made, menekankan dampak teknologi. Kemudahan akses informasi dan alat penerjemah berbasis AI membuat wisatawan merasa lebih percaya diri untuk merencanakan perjalanan sendiri. Mereka tidak lagi terlalu bergantung pada pemandu wisata berbahasa Mandarin.
Pergeseran ini juga terlihat dari jangkauan destinasi yang dipilih. Wisatawan Tiongkok kini tidak hanya terbatas pada kawasan Asia, tetapi juga berani menjelajah hingga ke Eropa. Mereka memanfaatkan platform online besar untuk mencari informasi dan memesan akomodasi, seperti yang dijelaskan Made, "Dulu kan tidak ada agen perjalanan. Perubahan zaman ini yang membuat berubah perilakunya."
Kemampuan untuk berkomunikasi lintas bahasa dan merencanakan perjalanan secara mandiri telah membuka pintu bagi pengalaman wisata yang lebih beragam. Ini memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi tempat-tempat yang sebelumnya sulit dijangkau tanpa bantuan grup tur. Perilaku baru ini menunjukkan kemandirian yang lebih tinggi dari wisatawan Tiongkok.
Destinasi Favorit dan Pengeluaran Wisatawan Tiongkok
Indonesia menawarkan beragam pesona yang kini semakin menarik minat wisatawan Tiongkok. Destinasi alam menjadi primadona, terutama pemandangan laut di Manado, Sulawesi Utara, yang terkenal dengan keindahan bawah lautnya. Selain itu, area pegunungan seperti Bromo, Tengger, dan Semeru (BTS) juga sangat digemari karena keunikan lanskapnya.
Tidak hanya pemandangan, kuliner juga menjadi daya tarik kuat. Wisatawan Tiongkok kini banyak menghabiskan dana untuk mencicipi masakan bahari atau seafood dengan cita rasa Indonesia. "Dulu kita pikir mereka harus makanan China, enggak juga. Ada seafood di Bajo, di Manado, makanya di Manado banyak turis China," ungkap Made, menyoroti perubahan preferensi kuliner.
Dalam hal pengeluaran, wisatawan Tiongkok menunjukkan kecenderungan untuk berbelanja tinggi. Pada hari-hari besar seperti Tahun Baru Imlek, mereka gemar menyewa kamar junior suite di hotel mewah. Kamar-kamar ini sering dipamerkan melalui media sosial, menunjukkan kemewahan dan pengalaman eksklusif yang mereka dapatkan selama berlibur.
Selain itu, menginap di resort bersama keluarga untuk menikmati momen kebersamaan juga menjadi pilihan populer. Aktivitas seperti menyelam (diving) dan bermain golf kini mulai diminati, menunjukkan diversifikasi minat. Made menambahkan, "Ini bagus untuk kita (karena dipromosikan), karena spending-nya tinggi dan mereka enggak masalah. Apalagi lautnya kita bagus sekali."
Potensi Pasar Tiongkok dan Strategi Promosi Kemenpar
Tiongkok merupakan pasar yang sangat potensial bagi industri pariwisata Indonesia. Data menunjukkan bahwa jumlah kunjungan dari Tiongkok pada periode Januari hingga September 2025 telah mencapai hampir 1,2 juta kunjungan. Angka ini menempatkan Tiongkok sebagai salah satu dari 15 negara dengan kunjungan terbanyak ke Indonesia.
Kemenpar juga melihat adanya peluang tambahan dari dinamika geopolitik regional. "Adanya konflik di antara Jepang dan Tiongkok saat ini dinilainya membuka peluang bagi wisatawan mancanegara untuk memilih Indonesia sebagai alternatif destinasi wisata yang dapat dipastikan lebih aman untuk dikunjungi," jelas Made. Ini bisa menjadi 'windfall' positif bagi pariwisata Indonesia.
Untuk memaksimalkan potensi ini, Kementerian Pariwisata akan terus menggencarkan promosi. Berbagai paket wisata akan ditawarkan untuk menarik minat wisatawan Tiongkok. Strategi ini dirancang untuk memanfaatkan perubahan perilaku wisatawan dan menjadikan Indonesia pilihan utama bagi mereka yang mencari pengalaman baru dan aman.
Dengan fokus pada promosi yang tepat dan pemahaman mendalam tentang preferensi wisatawan Tiongkok, Indonesia siap menyambut lebih banyak lagi pengunjung dari pasar ini. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian nasional secara signifikan.
Sumber: AntaraNews