LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kemenkes: Jumlah Alat Bantu Dengar Belum Cukupi Kebutuhan Pasien Tuli

Dia mengatakan gangguan pendengaran dapat mengganggu perkembangan kognitif, psikologi dan sosial seseorang. Akibatnya kualitas sumber daya manusia dan daya saing di tingkat global mengalami penurunan.

2022-03-01 23:30:00
Penyandang Disabilitas
Advertisement

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Maxi Rein Rondonuwu mengatakan jumlah alat bantu pendengaran saat ini belum bisa mencukupi kebutuhan seluruh pasien tuli yang ada di seluruh dunia.

“Gangguan pendengaran merupakan penyebab tertinggi keempat untuk disabilitas. Secara global, dampak yang ditimbulkan dari gangguan pendengaran atau ketulian itu sangat luas dan berat,” katanya dalam Temu Media Hari Pendengaran Sedunia Tahun 2022 yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (1/3).

Dia mengatakan gangguan pendengaran dapat mengganggu perkembangan kognitif, psikologi dan sosial seseorang. Akibatnya kualitas sumber daya manusia dan daya saing di tingkat global mengalami penurunan.

Advertisement

Berdasarkan data The World Report on Hearing 2021, Maxi menyebutkan 1,5 penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran, yang di antaranya sebanyak 430 juta orang memerlukan layanan rehabilitasi untuk gangguan pendengaran bilateral yang dialami.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun ikut memperkirakan sebesar 20 persen penderita gangguan dengar membutuhkan alat bantu pendengaran.

Sayangnya, alat bantu yang diproduksi hingga kini hanya bisa memenuhi sebanyak 10 persen dari kebutuhan global. Bahkan hanya memenuhi sebesar 3 persen dari kebutuhan pasien di suatu negara berkembang. Artinya, para pasien masih menghadapi keterbatasan akses pada alat tersebut.

Advertisement

Padahal, data Sistem Informasi Manajemen Penyandang Disabilitas Kesehatan Sosial Tahun 2019 menyebutkan sebesar 7 persen dari penyandang disabilitas di Indonesia merupakan tuna rungu.

“Sementara prevalensi global gangguan pendengaran tingkat sedang hingga berat, meningkat seiring bertambah luasnya usia sebesar 12,7 persen pada usia 60 tahun. Lebih dari 58 persen bila pada usia 90 tahun,” katanya.

Menurut dia tanpa penanggulangan yang intensif dalam era teknologi informasi yang semakin maju, jumlah orang yang akan terkena gangguan pendengaran akan meningkat.

Apalagi dengan adanya tempat bekerja yang bising, penyakit bawaan dari lahir ataupun kebiasaan baru yang muncul selama pandemi COVID-19 seperti menggunakan pengeras suara (headset).

Oleh sebab itu, ia berharap kebutuhan dari semua penderita tuli ataupun gangguan pendengaran lainnya, dapat terpenuhi dengan baik bagi pasien di Indonesia ataupun secara global.

Pihaknya turut berharap gangguan pendengaran itu dapat dicegah sejak anak lahir melalui perbaikan gizi seimbang.

“Jadi dengan perbaikan gizi, juga dengan kemajuan peningkatan derajat kesehatan. Tentu gangguan pendengaran ini sudah pasti ke depan akan bertambah karena umur harapan hidup kita semakin besar,” demikian Maxi Rein Rondonuwu.

Baca juga:
400 Atlet Indonesia Bakal Ikuti Asean Para Games 2022 di Solo
Semangat Meisya, Petani Penyandang Autis
3 Fakta Balai Rehabilitasi Surabaya Penuh, Begini Nasib Ratusan ODGJ dan Disabilitas
Kisah Pria Disabilitas Penjahit Sepatu, Keliling Tawarkan Jasa Meski Susah Jalan
Dicekoki Miras, Penyandang Tunagrahita di Bogor Diperkosa Tiga Pengamen
Cerita dari Bengkel Pak Kamto, Berdayakan Difabel agar Berani Kerja

(mdk/ded)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.