Kasus Kekerasan pada Perempuan dan Anak di Makassar Tahun 2020 Menurun
Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Makassar tahun 2020 mengalami penurunan hingga 300-an kasus.
Jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Makassar tahun 2020 mengalami penurunan hingga 300-an kasus. Di tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus kekerasan di Makassar selalu lebih tinggi dari daerah lain di Sulawesi Selatan (Sulsel), mencapai ribuan kasus. Padahal di daerah lain ada yang hanya belasan bahkan hanya beberapa kasus.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Kota Makassar, Tenri A Palallo menjelaskan, pada tahun 2015 jumlah kasus sebanyak 1.025 lalu tahun 2016 naik menjadi 1.175 kasus. Kemudian tahun 2017, kenaikannya sangat drastis yakni 1.406 kasus.
Pelan-pelan jumlah kasus itu menurun pada tahun 2018 yakni 1.300 kasus. Di tahun 2019, jumlah kasus naik lagi menjadi 1.351 kasus.
Laporan ribuan kasus ini dari korban yang datang ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Makassar, laporan dari shelter warga, unit-unit PPA di Polrestabes Makassar, Polres Pelabuhan dan di Polsek-polsek, serta NGO penyedia layanan.
"Di tahun 2019, jumlah kasus naik lagi jadi 1.351 kasus tapi masuk tahun 2020 terjadi penurunan drastis sampai 300 lebih kasus karena jumlahnya di tahun 2020 itu sebanyak 1.031 kasus, yang masing-masing 504 korbannya perempuan dewasa dan 527 kasus yang korbannya anak-anak. Penurunan jumlah kasus ini karena peran shelter warga," kata Tenri.
Menurut Tenri, 37 shelter warga yang terbentuk di delapan kelurahan dari 15 kecamatan se-Kota Makassar aktif melakukan kerja-kerja penyadaran di tengah masyarakat, penanganan dan pendampingan kasus di tingkat masyarakat.
Shelter warga ini, kata Tenri, adalah bagian dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam hal penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak berbasis tingkat RT/RW. Dikelola secara partisipatif.
"Rata-rata 37 shelter warga itu melakukan 28 kali dalam sehari kegiatan sosialisasi," ujarnya.
Kembali bicara angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kota Makassar, Tenri mengatakan, untuk posisi Januari dan Februari tahun 2021 saat ini, yang ter-entry datanya sementara ini baru 25 kasus. Pihaknya masih menunggu progres laporan terakhir.
Jenis tindak kekerasan yang dialami perempuan dan anak di Kota Makassar, tambahnya, kasus KDRT masih menduduki posisi teratas jumlahnya menyusul human traficking dan kekerasan dalam hubungan dengan pasangan di luar pernikahan.
"Motif tindak kekerasan oleh pelaku terhadap korban, rata-rata karena motif ekonomi," tutup Tenri A Palallo.
Baca juga:
Makassar, Parepare dan Gowa, Terbanyak Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Sulsel
Komnas Perempuan Catat Perempuan Alami Kekerasan Psikologis Selama Pandemi
ART Makan Sisa Sampah di Dekat Restoran Probolinggo, Ternyata Ini Penyebabnya
Perempuan Afrika Selatan Dilatih Menembak untuk Lawan Kekerasan
Nahas, Ini Nasib Perempuan di Sidoarjo Pasca Dilempar Paving oleh Orang Tak Dikenal
Pertengkaran dan Kekerasan Verbal Itu Beda, Ini Cirinya