Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

ART Makan Sisa Sampah di Dekat Restoran Probolinggo, Ternyata Ini Penyebabnya

ART Makan Sisa Sampah di Dekat Restoran Probolinggo, Ternyata Ini Penyebabnya ART di Probolinggo mengais sisa makanan di sampah restoran. ©2021 Merdeka.com/Instagram @undercover.id

Merdeka.com - Pariyem (44) dan anaknya (11) ditemukan warga mengais makanan sisa di sampah sebuah restoran ternama di Kota Probolinggo, Jawa Timur. Hal tersebut dilakukan setelah keduanya kabur dari lantai 2 rumah majikan Pariyem di Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, Jawa Timur pada Selasa (16/2/2021) sekitar pukul 04.00 WIB dini hari.

Ibu satu anak itu sehari-hari bekerja sebagai Asisten Rumah Tangga (ART) di kediaman majikannya yang bernama Usman dan Menuk. Ia nekat kabur lantaran selama ini mendapat kekerasan fisik dari sang majikan.

Tak Pernah Digaji

art di probolinggo mengais sisa makanan di sampah restoran

©2021 Merdeka.com/Instagram @undercover.id

Selain itu, sejak bekerja sebagai ART pada 2014 lalu, Pariyem mengaku tidak pernah digaji oleh Usman dan Menuk. Sejak awal bekerja, ia membawa serta sang anak tinggal di rumah majikan karena suaminya sudah meninggal.

“Tak lama kemudian, Pariyem menikah dengan Slamet, teman Usman, warga Kelurahan Jrebeng Kulon, Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo. Setelah menikah dengan Slamet, Pariyem digaji oleh Usman sebesar Rp300.000 tiap bulan. Akan tetapi, karena mengalami kekerasan dan tak digaji, ibu dan anak itupun memilih kabur dari rumah majikannya,” tulis akun instagram @undercover.id (18/2/2021).

Simpati Warga

 

Setelah berhasil kabur dari rumah majikan, Pariyem dan anaknya ditemukan warga mengais makanan sisa di tempat sampah sebuah restoran ternama yang tak jauh dari rumah sang majikan.

Warga pun menghampiri keduanya dan menanyakan alasan mereka mengais makanan sisa. Pariyem pun menceritakan kronologinya. Alhasil, warga yang merasa iba bercampur emosi langsung mendatangi rumah Usman dan Menuk.

Kejadian itu ditindaklanjuti dengan mediasi yang disaksikan langsung oleh Forkopimka Kanigaran. Pada pertemuan itu, Pariyem menceritakan dirinya yang tidak digaji sejak 2014. Bahkan pada Hari Raya Idul Fitri ia mengaku hanya diberi uang Rp500.000. Sementara itu, total gaji yang seharusnya ia terima ialah Rp21,6 juta.

Berakhir Damai

art di probolinggo mengais sisa makanan di sampah restoran

©2021 Merdeka.com/Instagram @undercover.id

Pertemuan untuk meditasi tersebut berakhir damai. Selanjutnya, Pariyem dan anaknya dibawa ke rumah Candra (36), anak angkat Pariyem yang tinggal di Gang Priksan RW 2 Kelurahan Wiroborang, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo.

Di rumah Candra, Pariyem kembali menceritakan apa yang dialaminya di rumah sang majikan. Selain tidak digaji, Pariyem mengaku ia dan anaknya kerap menerima kekerasan fisik. Bahkan, ia juga mengaku jarang diberi makan oleh sang majikan.

"Kerjanya hanya ngepel, tetapi tiap bulannya tidak menerima gaji. Kadang dipukul pakai tangan dan sepatu," ujar Pariyem.

Sementara itu, Plt Kapolsek Mayangan, AKP Suharsono menjelasakan bahwa Menuk dan Usman bersedia melunasi gaji Pariyem yang belum dibayar.

"Setelah dibayar, permasalahan itu diselesaikan secara damai," ujarnya.

Penjelasan Majikan

 

Sementara itu, saat dihubungi awak media, Usman mengklarifikasi permasalahan tersebut. Ia menjelaskan bahwa Pariyem kabur lantaran sudah tidak betah bekerja di rumahnya.

Terkait gaji yang belum dibayar, Usman memastikan bahwa Pariyem sudah sepakat dengan surat persetujuan yang dibuat.

"Sudah kami berikan haknya, ke depan akan kami kontrol bagaimana keadaan," ujarnya.

Ditanya terkait kekerasan fisik yang dilakukan, Usman membantah melakukan itu kepada Pariyem. Ia juga menyatakan sudah memenuhi kebutuhan makan Pariyem dan anaknya.

"Makan kita penuhi satu hari 3 kali," ujarnya.

(mdk/rka)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP