Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Pertengkaran dan Kekerasan Verbal Itu Beda, Ini Cirinya

Pertengkaran dan Kekerasan Verbal Itu Beda, Ini Cirinya Ilustrasi pasangan bertengkar. ©Shutterstock

Merdeka.com - Dua orang yang berada dalam suatu hubungan romantis beda pendapat itu lumrah. Gesekan-gesekan kecil yang menyebabkan pertengkaran bakal terjadi. Pasalnya, menyatukan dua entitas berbeda dalam relasi intim bukan hal yang mudah. Jalannya tidak akan selalu mulus.

Walaupun begitu, Anda tetap harus bisa membedakan antara pertengkaran normal dengan kekerasan verbal. Mengidentifikasi mana yang termasuk dalam kekerasan verbal bisa jadi langkah awal untuk menghindarkan diri dari hubungan toksik.

Perbedaannya Terletak pada Kekuasaan di Antara Kedua Pihak

Menurut Cantyo A. Dannisworo, Psikolog Klinis Yayasan Pulih, kekerasan verbal biasanya merujuk pada pengucapan kata-kata yang menyakiti, menyinggung, bahkan merendahkan. Tapi, dalam konteks berbeda, kekerasan verbal juga bisa terjadi dalam lingkungan sosial.

Identifikasi umumnya, ini terjadi antara dua pihak yang berbeda secara kedudukan. "Salah satunya itu punya 'power'," katanya dalam Campus Online Talkshow Series Relasi Asik Nggak Toksik seperti dilansir Liputan6.com (5/2/2021).

Ketika dua orang di dalam konflik tidak berada di kedudukan yang sama dan salah satunya berada di posisi yang lebih lemah, maka ini sudah termasuk kekerasan verbal. Dengan kata lain, salah satu pihak akan menjadi korban karena tidak mampu membela atau mempertahankan diri terhadap kata-kata pedas dari pihak yang lain.

Jenis Kekerasan dalam Hubungan Sangat Beragam

ilustrasi pasangan bertengkar

©Shutterstock

Dannis menjelaskan, kekerasan verbal hanya satu dari beberapa tindakan kekerasan Ada juga kekerasan fisik, perlakuan berbeda dengan kekerasan verbal yang lebih menyasar fisik.

Selama ini kebanyakan orang berpikir kalau kekerasan dalam hubungan selalu ditandai penganiayaan. Padahal kekerasan fisik cuma satu dari sekian banyak jenis tindak kekerasan yang mengidentifikasi seseorang berada dalam hubungan toksik.

Ada yang namanya kekerasan seksual dan kekerasan digital yang meliputi bullying di jejaring sosial serta online stalking.

Lalu masih ada kekerasan ekonomi atau financial abuse. Ini adalah kondisi di mana seseorang dibatasi kebebasannya dan dikendalikan lewat hal-hal yang berhubungan finansial. Misalnya tidak dinafkahi sebagai bentuk hukuman, tidak diberi akses terhadap rekening pribadinya, atau dilarang untuk mencari nafkah untuk membatasi ruang gerak.

"Ini termasuk diperas, dipaksa untuk 'menafkahi', maupun desakan membelikan barang," ungkap Dannis.

(mdk/tsr)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP