Kapolda Jabar Tegaskan Tak Ada Penyisiran di Kampus Saat Kericuhan
Ia menegaskan, informasi yang beredar tersebut tidak benar dan menekankan bahwa tidak ada sweeping yang dilakukan oleh jajarannya.
Kapolda Jawa Barat Irjen Rudi Setiawan membantah tuduhan yang menyebut aparat kepolisian melakukan penyisiran atau masuk ke dalam kampus saat terjadi kericuhan beberapa waktu lalu.
Ia menegaskan, informasi yang beredar tersebut tidak benar dan menekankan bahwa tidak ada sweeping yang dilakukan oleh jajarannya.
"Tidak ada Polisi yang masuk ke dalam kampus, tidak ada sweeping. Yang berada di pintu gerbang adalah kelompok massa, bukan mahasiswa UNISBA," kata Rudi, Rabu (3/9).
Ia menjelaskan, polisi hanya melintas di jalan umum dan tidak masuk ke dalam lingkungan kampus. Bahkan, dalam rekaman video yang beredar, salah satu direktur kepolisian terlihat mengingatkan jajarannya agar tidak memasuki area kampus.
Selain, itu Polda Jabar juga disebutnya telah melakukan komunikasi dengan pimpinan Universitas Islam Bandung (UNISBA).
Menurut Rudi, pihak kampus justru meminta bantuan pengamanan karena kericuhan yang terjadi bukan sepenuhnya melibatkan mahasiswa mereka.
"Kampus justru menjadi tempat yang dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang mempersenjatai diri dan melakukan penyerangan terhadap petugas," jelasnya.
Rudi memastikan, sweeping di dalam kampus dilakukan oleh keamanan internal UNISBA, bukan oleh polisi.
"Mereka tidak ingin nama baik kampus tercemar, sehingga internal melakukan pengusiran terhadap kelompok pengacau tersebut," tegasnya.
Dalam patroli skala besar yang dilakukan, polisi telah mengamankan 16 orang pada pukul 00.30 WIB. Dari jumlah tersebut, 10 orang telah teridentifikasi, terdiri dari mahasiswa, satpam, wiraswasta, hingga pengangguran.
"Beberapa di antaranya kedapatan terlibat kasus narkoba dan membawa senjata berbahaya. Salah satunya MN (23), mahasiswa semester 5, kedapatan membawa ganja dan hasil tes urinnya positif narkoba," ungkapnya.
"Pelaku lain berinisial MF (23) terbukti memiliki percakapan terkait transaksi narkoba serta ajakan berkumpul untuk membuat kericuhan," sambungnya.
Selain itu, polisi juga mengamankan GOP, seorang pengangguran tamatan SMA yang membawa ganja, serta AA (25) asal Bandung yang kedapatan membawa senjata soft gun dengan peluru gotri. Keduanya telah ditetapkan sebagai tersangka.
“Senjata gotri ini berbahaya, pada jarak dekat bisa mematikan. Untuk dua tersangka, sudah kami proses sesuai hukum. Sementara yang lainnya masih dalam pemeriksaan dan analisa tim,” ucapnya.
Kericuhan tersebut dipastikan Rudi bukan aksi unjuk rasa mahasiswa, melainkan tindakan kelompok tertentu yang telah merencanakan kekacauan.
“Kami mohon kerja sama semua pihak, baik universitas maupun instansi terkait. Kami sudah berkoordinasi dengan Gubernur, Kajati, Pangdam dan Ketua Pengadilan agar Jawa Barat tetap aman,” ujarnya.
Sebelumnya, Dua kampus di kawasan Jalan Tamansari, Bandung, yakni Universitas Islam Bandung (Unisba) dan Universitas Pasundan (Unpas), dikabarkan terkena lontaran gas air mata dari aparat keamanan pada Senin (1/9) malam.
Dalam peristiwa tersebut, beredar narasi di media sosial ada aparat keamanan dari TNI dan Polri yang berpatroli masuk ke dalam kampus.
Namun keterangan dari kedua kampus membantah hal tersebut.
"Sepanjang pantauan saya, baik melalui laporan maupun langsung saya lihat di CCTV disini, saya lihat pantauan disini, kami tidak melihat aparat kepolisian walaupun berpakaian preman masuk ke area kampus. Itu murni semuanya demonstran, ya saya sebutkan, pendemo, yang tadi di sweeping masuk ke area kampus," ujar Rektor Unisba, Harits Nu'man, saat memberikan keterangan kepada pers di Unisba, pada Selasa (2/9).