Jelang Ramadan, Huntara Modular di Bener Meriah Segera Dihuni
Proyek pembangunan hunian sementara modular untuk masyarakat terdampak bencana Kabupaten Bener Meriah, Aceh, berlanjut sebagai harapan baru di bulan Ramadan.
Proyek pembangunan hunian sementara modular (huntara modular) bagi masyarakat yang terkena dampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, terus berlangsung sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menjelaskan bahwa proyek ini diharapkan dapat segera diresmikan agar warga yang terdampak bencana tidak perlu lagi tinggal di tempat pengungsian saat bulan Ramadan, dan dapat merayakan Idulfitri di hunian yang lebih layak. "Progresnya masih sesuai schedule. Insya Allah minggu pertama Ramadan ini bisa selesai," kata Menteri PU, seperti yang dilansir pada Rabu (11/2).
Huntara modular ini dibangun di atas lahan seluas 30.000 meter persegi, yang setara dengan tiga hektare. Total luas bangunan mencapai 4.855 meter persegi, terdiri dari 19 blok hunian. Setiap blok hunian dibangun menggunakan sistem konstruksi modular baja prefabrikasi, dengan total 228 modul hunian yang dirancang untuk menampung 228 kepala keluarga. Metode konstruksi modular ini dipilih untuk mempercepat proses pembangunan tanpa mengurangi kualitas bangunan.
Dengan menggunakan sistem ini, unit hunian dapat dirakit lebih cepat di lokasi, sehingga target waktu pembangunan dapat tercapai sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Kehadiran huntara ini memberikan harapan baru bagi warga yang telah berbulan-bulan hidup dalam kondisi serba terbatas.
Fasilitas di Huntara
Selain unit hunian, kawasan huntara modular juga menyediakan berbagai fasilitas penunjang untuk memenuhi kebutuhan dasar para penghuni. Area non-hunian yang memiliki luas 2.210 meter persegi dirancang untuk fasilitas sanitasi, selasar, serta ruang aktivitas bersama. Terdapat 114 unit shower dan 114 unit kloset yang disiapkan, termasuk empat unit khusus untuk penyandang disabilitas. Dengan demikian, kawasan ini juga menyediakan hunian yang ramah bagi difabel, toilet difabel, area multifungsi, area parkir, serta mushola untuk mendukung aktivitas sosial dan ibadah para penghuni.
Sistem pendukung hunian disiapkan secara terpadu, mencakup segala kebutuhan mulai dari penyediaan air bersih hingga listrik. Kebutuhan air bersih dipasok dari sumur bor yang dibangun oleh Balai Penataan Bangunan, Prasarana, dan Kawasan (BPBPK) Aceh dengan kedalaman sekitar 52 meter.
Sementara itu, pengolahan air kotor dilakukan melalui biotank dan suplai listrik disediakan oleh PLN. Dengan adanya fasilitas yang lebih lengkap, huntara modular ini diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat berteduh sementara, tetapi juga sebagai ruang hidup yang layak bagi warga yang terdampak bencana hingga hunian tetap mereka siap.
Targetnya, masyarakat yang terdampak bencana dapat menjalani Ramadan dengan lebih nyaman dan menyambut Lebaran di tempat tinggal yang aman dan bermartabat.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5499896/original/034447100_1770799541-MAH00216.00_00_36_13.Still002.jpg)