Jadi buruan, populasi burung hantu 'Love' terancam punah
Warga biasanya melihat burung tersebut berada di pohon-pohon besar dan tinggi.
Populasi burung hantu jenis 'love' di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, terancam punah akibat perburuan untuk diperjualbelikan. Dinamakan jenis love karena bentuk mukanya seperti gambar love atau hati.
"Kami selama ini belum pernah mendengar lagi suara merdu burung hantu pada malam hari," kata Samian, warga Desa Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, seperti dilansir antara Jumat (21/8).
Samian mengatakan, biasanya burung tersebut berada di pohon-pohon besar dan tinggi. Namun, saat ini populasinya terancam punah karena sudah berlangsung lama warga tidak mendengar bunyi burung hantu itu.
"Kami sangat rindu mendengar suara merdu burung hantu itu, meskipun suaranya menyeramkan," katanya.
Samian mengatakan, kemungkinan menghilangnya populasi burung hantu itu akibat perburuan yang dilakukan manusia juga menipisnya pakan karena areal persawahan sudah berubah menjadi bangunan perumahan dan pemukiman penduduk. Makanan burung hantu itu antara lain kodok dan tikus dan bangkai ayam yang ada di areal persawahan warga.
"Kalau dulu masih ada pohon Beringin yang berlokasi di pemakaman warga dijadikan sarang burung Hantu," katanya.
Menurut dia, burung hantu merupakan anggota ordo strigiformes dan termasuk golongan burung buas (karnivora-pemakan daging) juga hewan malam (nokturnal). Menghilangnya populasi burung itu, kata dia, tentu merugi karena generasi sekarang banyak yang tidak mengenal hewan itu.
Pada 1970-1980-an, kata dia, suara merdu burung Hantu di Rangkasbitung masih ditemukan dan suasana kampung sepi serta merasa ketakutan pertanda kabar buruk ada kematian warga.
"Saya merasa kangen suara-suara burung Hantu itu hampir setiap malam saling bersahutan mulai pukul 21.00 sampai 04.00 WIB," katanya.
Begitu juga Nana (45) warga Kelurahan Rangkasbitung Timur, Kabupaten Lebak, mengaku hingga kini belum pernah mendengar suara burung hantu yang biasa berada di pohon-pohon besar yang ada di pemakaman.
"Kami mendengar suara burung hantu terakhir sekitar tahun 1985," katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Produksi Hutan, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Kabupaten Lebak, Imam mengatakan, populasi burung hantu kini terancam punah terlihat di malam hari sudah tak terdengar suara merdu hewan tersebut. Dia mengajak warga tidak melakukan perburuan burung hantu tersebut, meskipun tidak masuk kategori dilindungi.
"Kami minta warga melestarikan burung hantu itu dengan tidak melakukan perburuan. Biasanya, burung hantu itu berada di kawasan pemakaman warga dan hutan lindung, tapi sekarang sangat prihatin dengan menghilang di habitatnya," katanya.
Baca juga:
Bea cukai gagalkan penyelundupan 1 kontainer kerang kepala kambing
Polisi gagalkan penyelundupan orang utan hingga elang bondol di Aceh
China sita 900 kulit ular piton dari pedagang satwa liar ilegal
Perdagangan ilegal satwa liar dilindungi melonjak 70 persen
Sadis, pria ini selundupkan bayi orang utan di dalam tas
Bea cukai gagalkan penyelundupan ikan laut ke luar negeri
Polda Bali bongkar penyelundupan 37 penyu hijau di Selat Badung