Isak Tangis Keluarga Pecah saat Jenazah Diva ART Asal Batang Datang ke Rumah, Sekdes Ngroto Ungkap Kondisi Keluarga
Mereka tidak menyangka anaknya mencari nafkah sebagai ART meninggal dunia setelah diduga terjatuh dari lantai empat.
Suasana duka menyelimuti rumah keluarga Almarhumah Diva Maelisa (15) Desa Ngroto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah.
Mereka tidak menyangka anaknya mencari nafkah sebagai ART meninggal dunia setelah diduga terjatuh dari lantai empat apartemen di kawasan Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.
Terlihat ambulance itu tiba membawa jenazah Diva Maelisa, ART remaja usia 15 Tahun datang dan disambut isak tangis keluarga. Berhenti di tengah gang, peti putih yang menyimpan jenazah Diva dikeluarkan lalu bersama-sama ditandu hingga ke kediaman orangtua Diva.
"Iya ini jenazah dibawa ke rumah dulu, agar pihak keluarga bisa melihat wajah terakhir almarhumah, setelah itu disalatkan di masjid untuk kemudian dikebumikan," kata seorang warga.
Orangtua Diva, Raudin (37) dan Umayah (33) yang melihat langsung harus dipegangi saudara lainnya agar tidak tumbang saat melihat jenazah anak mereka.
Kemudian, jenazah dibawah ke masjid desa, untuk disalatkan. Lalu, dibawa ke tempat pemakaman umum desa yang hanya berjarak 200 meter dari rumah almarhumah.
Sekretaris Desa Ngroto, Suswandi, menyampaikan sebelum dimakamkan, jenazah terlebih dahulu disemayamkan di rumah duka untuk menjalani prosesi keagamaan sebagaimana mestinya.
Keluarga diberi kesempatan terakhir untuk melihat almarhumah sebelum proses pemulasaraan, mulai dari memandikan, mengkafani, hingga persiapan pemakaman.
Sosok Diva di Mata Warga
Di mata warga, Diva dikenal sebagai sosok remaja yang baik, ramah, dan mudah bergaul.
“Anaknya ceria, baik dengan teman-temannya. Kami juga tidak menyangka kejadian seperti ini bisa terjadi,” kata Suswandi.
Namun di balik kepribadiannya yang hangat, tersimpan cerita tentang perjuangan hidup di usia yang masih sangat muda.
Orang tuanya bekerja sebagai buruh harian lepas dan petani penggarap, yang membuat kondisi ekonomi keluarga berada di bawah rata-rata. Situasi itu diduga menjadi salah satu faktor yang mendorong Diva untuk bekerja di usia dini.
Menurut Suswandi, keinginan bekerja lebih banyak datang dari inisiatif pribadi, bukan paksaan keluarga.
“Motivasinya ekonomi, tapi juga ada keinginan mandiri. Mungkin ingin punya sesuatu sendiri seperti teman-temannya,” jelasnya.
Di usia yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah, Diva justru memilih jalan berbeda. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Diva sempat menempuh pendidikan di pesantren, namun tidak bertahan lama.
Setelah itu, ia kembali ke kampung halaman sebelum akhirnya memutuskan bekerja. Kasus Diva menjadi satu-satunya yang menonjol dan menyisakan keprihatinan mendalam.
“Kalau seusia itu, hampir tidak ada. Ini mungkin karena kondisi ekonomi dan keinginan mandiri yang muncul terlalu dini,” ungkapnya.
Pemerintah desa sendiri belum sempat menggali lebih jauh terkait aktivitas kerja Diva selama di Jakarta, termasuk apakah ia sempat mengirimkan penghasilan kepada keluarga.
Hal itu dilakukan untuk menjaga kondisi psikologis keluarga yang masih berduka.
"Kami belum berani menanyakan detail karena keluarga masih sangat terpukul,” tandasnya.