LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Ironi Korban Pelecehan Seksual: Tak Ada Perlindungan, Orangtua Pinjam Duit Sana-Sini

"Saya orang enggak punya, abis-abisan pisan. Ke sana sini juga minjem duit tetangga. Kan butuh ongkos juga," curhatnya.

2022-01-13 15:16:28
pencabulan
Advertisement

Cobaan hidup rasanya bertubi-tubi menimpa DR, seorang ibu muda berusia 34 tahun yang anaknya dicabuli tetangganya sendiri. Betapa tidak, kini DR dan suaminya tengah berjuang keras memulihkan kesehatan buah hati tercinta, baik fisik dan psikis.

Adalah S, anak di bawah umur yang masih berusia 11 tahun jadi korban pencabulan biadab A, pria 35 tahun, pemilik warung tak jauh dari rumah korban di Kecamatan Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

Ibunda korban, DR mengungkap sejak bulan Agustus, kali pertama peristiwa memilukan itu menimpanya hingga hari-hari selanjutnya selama tiga kali, S, anaknya jadi sering mengeluh sakit hingga muntah-muntah.

Advertisement

Bagian tubuh yang sering dirasakan sakit teramat oleh S, yakni perutnya akibat kondisi rahim yang sedang tidak baik.

Tak hanya satu hari, sakit yang diderita S bahkan bisa selama 3 hari. Malah, ada suatu masa S tidak bisa pergi ke sekolah selama 2 pekan lamanya. Ya, ia kesakitan usai dicabuli A.

DR menceritakan awalnya diagnosis dokter hanya penyakit maag. Namun, setelah sakit serupa terus berulang, naluri keibuannya pun berkata lain. Anak ini bukan sakit maag.

Advertisement

Setelah dibujuk, S akhirnya mengungkap fakta. Terkejut, sudah pasti. Namun, satu yang pasti, DR ingin kondisi fisik buah hatinya pulih.

Ironi, pemulihan fisik S yang menjadi korban pencabulan membutuhkan uang tak sedikit. DR sempat mengadu ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A).

"Tapi orang sananya (DP3A) nyuruh saya nunggu karena katanya sedang rapat," ungkap DR kepada merdeka.com, Kamis (13/1).

Tak patah arang, DR juga mengadu serta meminta bantuan ke Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi. Bak bertepuk sebelah tangan, DR diminta mengurusi kelengkapan administrasi seperti Kartu Keluarga (KK) serta persyaratan lainnya.

"Saya disuruh nunggu jawaban. Enggak tahu sampai kapan? curhatnya.

Padahal saat itu, DR mengaku sudah habis-habisan untuk menangani medis anaknya. Hampir putus asa, sudah tentu.

"Saya orang enggak punya, abis-abisan pisan. Ke sana sini juga minjem duit tetangga. Kan butuh ongkos juga," curhatnya.

Kondisi suami yang sedang tidak bekerja serta tutupnya warung miliknya, makin membuat DR terhimpit.

"Saya cuma minta bantuan medis saja biar sampai sembuh anak saya. Enggak tega rasanya," ungkapnya.

Ibu mana yang tega melihat buah hati tercinta, anak gadis yang seharusnya ceria bermain dengan teman-temannya, kini malah kerap mengurung diri.

Melamun, menangis hingga merintih menahan sakit. Itulah yang sehari-hari dirasakan anaknya.

Baca juga:
Komisi III Cecar Komnas HAM soal Penolakan Hukuman Mati ke Herry Wirawan
Aturan dan Prosedur Kebiri Kimia buat Pelaku Cabul
Jaksa Soal Tuntut Mati Herry Wirawan: Kejahatan Serius dan Dapat Atensi Presiden
Perkosa Belasan Murid, Herry Wirawan Dituntut Hukuman Mati dan Kebiri
JPU Minta Aset Herry Wirawan Disita untuk Biaya Korban Perkosaan dan Anaknya
Herry Wirawan Dihadirkan Langsung ke PN Bandung, Dijadwalkan Dengar Tuntutan

Dikonfirmasi terpisah, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melalui Deputi Bidang Perlindungan Anak, Nahar menyebut pihaknya melakukan koordinasi kepada Pemda setempat.

Untuk memastikan penanganan kasus. Pun ia menyebut, pihaknya telah melakukan pendampingan.

"Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Bekasi bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Metro Bekasi Kota dan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kota Bekasi telah melakukan pendampingan," katanya saat dihubungi merdeka.com.

Pun ia menyebut korban ditangani oleh psikolog KPAD dalam pemulihan psikologis.

"Korban yang mengalami trauma takut dan kecewa," katanya.

Ibu Korban Tangkap Pelaku

Setelah mendapatkan pengakuan korban, orang tua korban membuat laporan ke polisi terkait pencabulan pada Selasa (21/12) pagi dini hari. Dan paginya dilakukan visum di RSUD Kota Bekasi.

Saat hasil visum keluar, lanjut DR, dirinya ditelepon ketua RT tempat tinggalnya bahwa tersangka mencoba kabur ke Surabaya.

"Tiba-tiba RT telepon bahwa tersangka sudah kabur dan (tersangka) izinnya mau ke Surabaya," kata DR kepada wartawan, Senin (27/12).

Keluarga korban pun bergegas pergi ke Stasiun Bekasi untuk mencari tersangka A yang diduga melarikan diri.

"Orangnya (tersangka) kabur ke stasiun, terus ketemunya di parkiran belakang stasiun lagi ngumpet. Terus sama ponakan langsung dibawa ke Polres," jelasnya.

DR juga bercerita, bahwa tersangka A sering kedapatan sedang menggendong dan menciumi anak-anak sekitar.

(mdk/rhm)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.