Ibu Meninggal Dunia, Siswi Kelas 1 MTs di Soppeng Berangkat Haji
Zaakiyah menjadi jemaah termuda dari Kabupaten Soppeng setelah menggantikan porsi dari ibunya yang sudah meninggal dunia tahun 2025.
Siswi Madrasah Tsnawiyah (MTs) Yasrib Batu-batu, Kabupaten Soppeng bernama Zaakiyah Amaliah (13) menjadi perhatian ratusan jemaah calon haji (JCH) kelompok terbang (kloter) 21 saat tiba di Asrama Haji Sudiang Makassar, Selasa (5/5).
Zaakiyah menjadi JCH termuda dari Kabupaten Soppeng setelah menggantikan porsi dari ibunya yang sudah meninggal dunia tahun 2025.
Siswi kelas 1 MTs ini berangkat sama ayahnya Aliyas Talib Musa dan tergabung dalam Kloter 21 Embarkasi Makassar. Zaakiyah menceritakan tercatat sebagai JCH Embarkasi Makassar untuk menggantikan ibunya yang sudah meninggal dunia pada April 2025.
"Perasaan ada senang ada sedihnya juga. Karena berangkat (haji) menggantikan ibu yang meninggal dunia," ujarnya kepada wartawan di Aula Arafah Asrama Haji Sudiang Makasar, Selasa (5/5).
Zaakiyah menjelaskan perasaan senang karena bisa merasakan ibadah haji pada usia muda. Meski demikian, ia kembali menampakkan kesedihan, karena berangkat haji menggantikan ibunya.
"Ibu dan bapak mendaftar haji bersamaan tahun 2010," tuturnya.
Zaakiyah mengaku teman dan gurunya di sekolah mendukungnya untuk berangkat berhaji. Bahkan, kata Zaakiyah, teman dan gurunya menitipkan pesan dan doa.
"Pesan dari sekolah jaga kesehatan dan sehat-sehat di sana (Arab Saudi)," sebutnya.
Siapkan Doa
Ia berharap dalam melaksanakan ibadah haji di Tanah Suci, Arab Saudi bisa berjalan dengan baik dan tenang. Ia mengaku sudah menyiapkan doa yang akan dipanjatkannya di depan Kakbah dan saa Wukuf di Arafah.
"Doanya, panjangkanlah umur dan sehat-sehatkanlah orang tua," ucapnya.
Sementara Ayah Zaakiyah, Aliyas Talib Musa, mengungkapkan rasa haru yang mendalam. Keluarga ini telah menanti selama 15 tahun untuk bisa berangkat.
Namun, takdir berkata lain bagi sang istri yang kesehatannya memburuk pada November 2024 sebelum sempat menginjakkan kaki di Mekkah.
“Alhamdulillah, senang dan bahagia saya bisa memenuhi panggilan kedua tahun ini. Meski sedih karena istri telah tiada, bimbingan manasik yang kami jalani bersama menjadi bekal untuk saya mendampingi Zaakiyah,” ungkap Aliyas.