Hasan Nasbi Beberkan Citra Palsu Politikus, Beli Jasa Tambah Subscriber & Komen Positif
Faktanya, ia mengungkap para politikus ogah membuat akun media sosial dari nol.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (KKKK) atau Presidential Communication Office (PCO) Hasan Nasbi blak-blakan, ungkap citra palsu politikus.
Faktanya, ia mengungkap para politikus ogah membuat akun media sosial dari nol. Hasan menyebut politikus kini mengutamakan pencitraan digital secara instan dibanding bangun komunikasi politik dengan masyarakat.
"Orang politik kalau bikin akun media sosial itu enggak mungkin mau dari nol, dia udah mau followersnya langsung banyak, subscribernya langsung banyak, beli. Dia mau komennya banyak yang positif, beli komen," kata Hasan saat dialog di Universitas Al-Azhar, Jakarta Selatan, Senin (30/6).
Hasan mengungkap saat ini ada perusahaan jasa jual-beli like dan komen untuk akun media sosial. "Sekarang ada industri namanya industri like dan komen. Ada usaha perusahaan jasanya adalah like dan komen. Nah itu biasa dibawa perusahaan kami tuh pak. Kalau pakai jasa kami pak ini like dan komennya banyak, padahal kan yang like dan komen bukan orang," ungkapnya.
"Like dan komen itu mesin, keyboard. Kita menipu diri kita sendiri tapi kita senang. Kata yang ngasih gini, wah top like-nya berapa 10.000, padahal itu beli, komennya berapa 2.000 padahal itu beli," bebernya.
Bisnis Tipu-Tipu
Hasan Nasbi mengungkap fenomena itu terbentuk lantaran dewasa ini minimnya kesadaran khalayak soal dunia tontonan dan kenyataan.
"Karena minimnya kesadaran kita soal dunia tontonan dan dunia kenyataan kita lakukan ini dan membuka bisnis baru, bisnis tipu-tipu diri sendiri. Buat menipu diri kita sendiri kita bayar orang. Supaya apa? Supaya kita senang coba supaya tampilannya like-nya banyak, komennya banyak walaupun itu tidak tidak organik."
"Nah jadi kita dengan dunia tontonan ini seringkali sudah kehilangan makna, kita sudah kehilangan fungsi. Kita beli barang kadang-kadang bukan lagi karena fungsi, beli jam bukan lagi karena fungsi, beli sepatu bukan karena bukan lagi karena fungsi, tapi karena trend atau karena merek. Karena butuh status sosial atau karena artis yang terkenal itu pakai ini juga atau karena influencer terkenal itu juga pakai ini juga," bebernya.