Guru besar UNJ: Dalam matematika proses lebih penting
Soal matematika yang dikerjakan oleh Habibi mendadak bikin heboh di media sosial.
Seorang guru kelas 2 SD di Semarang, Jawa Tengah, memberikan nilai 20 pada Pekerjaan Rumah (PR) salah satu siswanya bernama Habibi. Padahal jika dilihat jawaban Habibie, semua jawaban muridnya tersebut benar dan seharunya mendapat nilai 100. Tapi guru Habibi punya penilaian lain.
Menanggapi hal itu, pakar pendidikan Arief Rachman mengatakan, dalam pembelajaran matematika proses mendapatkan hasil jawaban sangat penting. Meski melalui proses yang berbeda dan mendapatkan hasil sama menurutnya tidak ada yang bisa disalahkan.
"Keunggulan proses lebih penting daripada keunggulan hasil. Bagaimana proses mereka mendapatkan hasil itu yang harus diargumentasikan," kata Arief kepada merdeka.com, Senin (22/9).
Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini melanjutkan, di dalam evaluasi ada kebenaran ilmu tertentu secara ilmiah. Kebenaran ilmu bisa diuji oleh diskusi. Menurutnya kalau mengacu dari permasalahan tersebut tentu yang disalahkan adalah sang guru.
"Tapikan kita belum tahu bagaimana cara guru tersebut menilai. Ini memang sering terjadi, ada kemungkinan guru keliru ada kemungkinan murid keliru. Semua ini seharusnya didiskusikan oleh yang bersangkutan," jelas Arief.
Arief mengatakan, pemberian nilai setiap guru kepada muridnya memang berbeda-beda. Dia mencontohkan, dalam kasus ini bisa saja guru matematika yang lain membenarkan jawaban yang dibuat oleh Habibi.
"Saya melihat kalau keduanya merasa benar ini tidak menyelesaikan masalah. Apalagi sampai dimasukkan media sosial. Untuk menyelesaikan masalah seharusnya, orangtua murid, guru yang bersangkutan, dan pihak sekolah duduk bareng membahas hal ini," jelasnya
Sebelumnya, PR matematika milik Habibi, murid SD kelas 2 di Semarang, ramai dibahas di media sosial setelah diunggah kakaknya ke Facebook. Dari 10 soal matematika, hanya dua yang betul.
Sang kakak, Erfas tidak terima dengan penilaian guru. Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro merasa yakin dengan jawaban soal yang ditulis adiknya, karena dia membantu mengerjakan soal.
Erfas mengajari Habibi jawaban 4+4+4+4+4+4 = 4 x 6 = 24. Ternyata jawaban itu salah, versi guru yang benar adalah 4+4+4+4+4+4 = 6 x 4 = 24. Hasil sama namun konsep beda.
Baca juga:
Guru Besar UNJ: PR matematika tak perlu diposting di Facebook
Ini kata dosen Matematika ITB soal PR Matematika anak kelas 2 SD
Ini kata Wikipedia terkait PR matematika kelas 2 SD
Heboh PR matematika murid SD, guru diminta tidak kaku menilai
Kemendikbud minta Disdik tegur guru salahkan PR Matematika siswa
PR anak SD bikin heboh, buku matematika dinilai masih uji coba!