Gunung Semeru Lima Kali Erupsi Disertai Awan Panas Guguran, Warga Diimbau Waspada
Gunung Semeru kembali menunjukkan aktivitas vulkanik signifikan dengan lima kali erupsi dan awan panas guguran. Masyarakat diimbau waspada terhadap potensi bahaya Erupsi Gunung Semeru.
Gunung Semeru, yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik. Pada Jumat, 13 Februari, gunung api tertinggi di Pulau Jawa ini tercatat mengalami lima kali erupsi. Kejadian ini juga disertai dengan tiga kali luncuran awan panas guguran (APG) yang mencapai jarak signifikan.
Awan panas guguran tersebut meluncur hingga jarak 2.500 meter sampai 3.000 meter dari puncak kawah. Peningkatan aktivitas ini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang dan masyarakat sekitar. Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru terus memantau perkembangan situasi secara ketat.
Sigit Rian Alfian, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, dalam laporan tertulisnya mengonfirmasi serangkaian erupsi dan awan panas guguran tersebut. Masyarakat diimbau untuk selalu mematuhi rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) demi keselamatan bersama.
Kronologi Erupsi dan Awan Panas Guguran Gunung Semeru
Aktivitas Gunung Semeru pada Jumat, 13 Februari, diawali dengan erupsi pertama pada pukul 07.42 WIB. Erupsi ini menghasilkan kolom letusan setinggi sekitar 1.000 meter di atas puncak, dengan kolom abu berwarna kelabu tebal yang bergerak ke arah utara dan timur laut. Kejadian ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 133 detik.
Erupsi kedua terjadi pada pukul 10.56 WIB, juga dengan tinggi kolom letusan sekitar 1.000 meter di atas puncak dan kolom abu kelabu tebal mengarah ke utara dan timur laut. Erupsi kedua ini terekam dengan amplitudo maksimum 20 mm dan durasi 250 detik. Yang lebih mengkhawatirkan, erupsi ini disertai dengan awan panas guguran yang meluncur sejauh 3.000 meter ke arah tenggara, tepatnya menuju Besuk Kobokan.
Gunung Semeru kembali erupsi pada pukul 12.46 WIB, menghasilkan kolom letusan setinggi 1.000 meter di atas puncak dengan abu kelabu tebal ke arah timur laut. Erupsi ketiga ini tercatat di seismograf dengan amplitudo maksimum 15 mm dan durasi 178 detik. Kemudian, erupsi keempat terjadi pada pukul 14.22 WIB, dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 800 meter di atas puncak atau 4.476 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Erupsi keempat ini juga disertai awan panas guguran dengan jarak luncur 2.500 meter ke arah tenggara atau Besuk Kobokan, terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 10 mm dan durasi 373 detik. Erupsi kelima menyusul pada pukul 14.31 WIB, dengan tinggi kolom letusan sekitar 500 meter di atas puncak dan kolom abu kelabu tebal ke arah tenggara. Erupsi terakhir ini juga berupa awan panas guguran dengan jarak luncur sekitar 2.500 meter ke arah tenggara atau Besuk Kobokan, terekam dengan amplitudo maksimum 10 mm dan durasi 242 detik.
Imbauan Keselamatan dari PVMBG
Mengingat peningkatan aktivitas vulkanik ini, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengimbau masyarakat untuk tetap mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan. Status vulkanik Gunung Semeru saat ini masih Siaga atau Level III. PVMBG merupakan salah satu unit di lingkungan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang bertugas melaksanakan perumusan kebijakan, standardisasi, bimbingan teknis, dan evaluasi bidang vulkanologi serta mitigasi bencana alam geologi.
Masyarakat tidak diperbolehkan melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 km dari puncak (pusat erupsi). Di luar jarak tersebut, masyarakat juga diimbau untuk tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan. Hal ini karena wilayah tersebut berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak.
Selain itu, masyarakat dilarang beraktivitas dalam radius 5 km dari kawah atau puncak Gunung Api Semeru. Area ini sangat rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar yang dapat membahayakan jiwa. PVMBG secara rutin memberikan informasi dan berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait mengenai aktivitas gunung api.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Gunung Api Semeru. Terutama di sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan.
Sumber: AntaraNews