Gunung Ruang Berstatus Waspada: Masyarakat Diimbau Tak Masuki Radius Bahaya 2 Km
Gunung Ruang di Sulawesi Utara masih berstatus Waspada (Level II). Badan Geologi mengimbau masyarakat dan wisatawan untuk tidak memasuki radius bahaya 2 kilometer dari kawah Gunung Ruang demi keselamatan.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengeluarkan imbauan penting bagi masyarakat serta pengunjung dan wisatawan terkait aktivitas Gunung Ruang. Gunung api yang terletak di Pulau Ruang, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara, ini masih menunjukkan aktivitas vulkanik yang perlu diwaspadai. Mereka diminta untuk tidak memasuki radius bahaya dua kilometer dari pusat kawah gunung tersebut.
Kepala Badan Geologi, Muhammad Wafid AN, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental, status aktivitas vulkanik Gunung Ruang saat ini masih berada pada Level II atau Waspada. Laporan ini mencakup periode pemantauan dari tanggal 16 hingga 31 Agustus 2025. Kondisi ini menuntut perhatian serius dari semua pihak yang berada di sekitar area terdampak.
Selain larangan mendekat, masyarakat juga disarankan untuk selalu menggunakan masker guna menghindari paparan abu vulkanik yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Bagi mereka yang berada di luar radius aman, ketenangan dan kewaspadaan tetap menjadi kunci. Mereka diimbau untuk tidak mudah terpancing isu-isu yang belum terverifikasi kebenarannya.
Status Waspada dan Langkah Mitigasi Dini Gunung Ruang
Status Level II (Waspada) untuk Gunung Ruang mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas vulkanik yang memerlukan kewaspadaan tinggi. Badan Geologi secara rutin melakukan evaluasi terhadap tingkat aktivitas ini. Evaluasi akan dilakukan secara berkala atau jika terjadi perubahan signifikan pada aktivitas gunung.
Masyarakat yang tinggal di sekitar Gunung Ruang, namun berada di luar radius bahaya dua kilometer, diharapkan tetap tenang dan dapat beraktivitas seperti biasa. Penting untuk selalu mengikuti perkembangan informasi resmi melalui aplikasi MAGMA Indonesia. Ini memastikan bahwa informasi yang diterima adalah akurat dan terpercaya dari sumber yang valid.
Pemerintah daerah, termasuk BPBD Provinsi Sulawesi Utara dan kabupaten terkait, diimbau untuk senantiasa berkoordinasi erat dengan Pos Pengamatan Gunung Api Ruang. Koordinasi ini juga melibatkan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi di Bandung. Langkah ini krusial untuk respons cepat dan efektif dalam penanganan potensi bencana.
Penggunaan masker menjadi rekomendasi penting lainnya untuk melindungi diri dari dampak abu vulkanik. Abu vulkanik dapat menyebabkan masalah pernapasan dan iritasi mata. Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya perlindungan diri sangat ditekankan kepada seluruh masyarakat yang beraktivitas di sekitar area terdampak.
Pemantauan Kegempaan dan Potensi Ancaman Gunung Ruang
Sistem pemantauan kegempaan Gunung Ruang kini telah berfungsi normal kembali setelah perbaikan stasiun RUA3. Data gempa vulkanik kini dapat dikirimkan dengan lancar ke Pos Pengamatan Gunung Api Ruang. Hal ini memungkinkan pemantauan aktivitas internal gunung secara lebih akurat dan real-time, memberikan data penting bagi para ahli.
Pada tanggal 18 Agustus 2025, tercatat empat kali gempa vulkanik dalam (VT) dan dua kali gempa terasa dengan skala I MMI. Munculnya gempa vulkanik dalam ini seringkali dihubungkan dengan migrasi magma atau pergerakan magma menuju permukaan. Ini adalah indikator penting dari potensi peningkatan aktivitas gunung yang perlu diwaspadai.
Selain itu, gempa guguran juga tercatat sebanyak dua kali kejadian dengan amplitudo 3-5 milimeter dan durasi 21-25 detik. Meskipun jumlah kegempaan pada periode 16-31 Agustus 2025 tidak menunjukkan perubahan signifikan dibandingkan periode sebelumnya (1-15 Agustus 2025), kewaspadaan tetap diperlukan untuk mengantisipasi setiap kemungkinan.
Muhammad Wafid menegaskan, "Potensi bahaya saat ini berupa erupsi yang menghasilkan lontaran material pijar, dan paparan abu vulkanik yang bergantung pada arah dan kecepatan angin serta lahar bila hujan deras turun di sekitar Gunung Ruang." Oleh karena itu, mitigasi risiko harus terus dilakukan dengan cermat dan berdasarkan data terbaru.
Sumber: AntaraNews