Festival Gastrodiplomasi Unej: Kuliner 12 Negara Dorong Soft Power Indonesia
FISIP Unej sukses menggelar Festival Gastrodiplomasi, menampilkan kuliner dari 12 negara. Acara ini bertujuan mendidik mahasiswa tentang soft power melalui makanan, menjadikan Gastrodiplomasi Unej sebagai sorotan.
Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jember (Unej) baru-baru ini sukses menggelar Festival Kuliner Gastrodiplomasi. Acara ini menampilkan beragam hidangan dari 12 negara berbeda, lengkap dengan pernak-pernik khas masing-masing negara. Festival ini diselenggarakan di kelas internasional FISIP Unej, Jember, Jawa Timur, menarik perhatian banyak pihak dan menunjukkan potensi besar.
Kegiatan ini bertujuan utama untuk mengedukasi mahasiswa tentang konsep gastrodiplomasi sebagai alat promosi budaya dan soft power. Mereka tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga mendalami sejarah serta latar belakang kuliner tersebut secara komprehensif. Inisiatif ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman mahasiswa tentang soft power melalui jalur kuliner yang universal dan mudah diterima.
Dosen HI Unej, Prof. Abubakar Eby Hara, menjelaskan bahwa festival ini merupakan platform penting untuk pembelajaran. Mahasiswa diharapkan dapat belajar dari keberhasilan negara lain dalam memanfaatkan kuliner sebagai soft power. Tujuannya adalah agar citra Indonesia dapat semakin baik di mata dunia melalui kekayaan kulinernya sendiri yang beragam.
Memahami Gastrodiplomasi sebagai Soft Power
Prof. Abubakar Eby Hara menekankan pentingnya kegiatan ini dalam konteks globalisasi. Mahasiswa diharapkan dapat mempromosikan makanan dari seluruh dunia secara efektif. Ini dilakukan melalui pendekatan gastrodiplomasi yang strategis dan berkelanjutan.
Ia menambahkan, mahasiswa tidak hanya sekadar membuat makanan khas negara tertentu. Mereka juga harus memahami sejarah dan filosofi di balik setiap hidangan yang disajikan. Ini membantu mereka memahami bagaimana negara-negara tersebut berhasil dalam implementasi gastrodiplomasi.
Harapannya, mahasiswa bisa belajar dari negara-negara yang telah sukses. Mereka menjadikan gastrodiplomasi sebagai soft power untuk meningkatkan citra dan pengaruh. Ini sangat penting agar Indonesia juga dapat memanfaatkan potensi kulinernya sebagai aset diplomasi.
Kuliner sebagai Diplomasi Paling Purba dan Kontemporer
Pakar gastrodiplomasi Unej, Prof. Agus Trihartono, turut memberikan pandangannya yang mendalam. Ia menyebutkan kuliner dari 12 negara yang ditampilkan dalam festival ini. Negara-negara tersebut meliputi Rusia, Inggris, Malaysia, Italia, India, Swedia, Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, Perancis, dan Arab Saudi, menunjukkan keragaman budaya.
Prof. Agus Trihartono menegaskan bahwa makanan merupakan bentuk diplomasi paling purba yang telah ada sejak lama. Namun, dari sudut pandang Hubungan Internasional modern, ini juga merupakan diplomasi paling kontemporer. Kuliner kini menjadi tren baru sebagai soft power dan instrumen penting bagi suatu negara dalam menjalin hubungan.
"Kami mengajari mahasiswa agar tidak hanya memahami tapi merasakan tentang soft power," ujar Prof. Agus. Ia berharap ke depan, masyarakat Indonesia akan semakin bangga terhadap menu kuliner khas daerahnya. Ini dapat menjadi "senjata diplomasi" yang kuat di kancah internasional, memperkenalkan kekayaan budaya bangsa.
Antusiasme Mahasiswa dan Harapan ke Depan
Salah satu mahasiswa HI Unej, Ridho, mengungkapkan antusiasmenya yang tinggi terhadap kegiatan ini. Ia melihat festival kuliner gastrodiplomasi sebagai ajang yang sangat penting. Ini untuk mengenalkan kuliner dari berbagai negara sebagai kekuatan diplomasi yang efektif dan menarik.
Ridho berharap kegiatan festival kuliner ini dapat diselenggarakan setiap tahun secara rutin. Ia juga menginginkan jangkauannya lebih luas di masa mendatang. Tidak hanya terbatas di lingkungan FISIP Unej saja, tetapi juga melibatkan lebih banyak pihak dan masyarakat.
Sumber: AntaraNews