Fakta Unik: Sanitasi dan KB Jadi Kunci Utama Kemendukbangga untuk Cegah Stunting di Indonesia
Kemendukbangga/BKKBN secara tegas menyatakan sanitasi yang layak dan program Keluarga Berencana (KB) merupakan elemen krusial dalam upaya nasional untuk cegah stunting, dengan kolaborasi berbagai pihak.
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) atau BKKBN secara tegas menyatakan bahwa sanitasi yang layak dan program Keluarga Berencana (KB) merupakan dua unsur fundamental dalam upaya nasional untuk cegah stunting. Pernyataan ini disampaikan oleh Deputi Bidang Penggerakan dan Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Sukaryo Teguh Santoso, pada Kamis (8/10) di Kota Yogyakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Teguh Santoso memberikan bantuan kepada Keluarga Risiko Stunting (KRS) melalui Program Gerakan Orang Tua Cegah Stunting (Genting). Inisiatif ini bertujuan untuk memastikan anak-anak di lingkungan tersebut tumbuh sehat dan kuat, terhindar dari kondisi stunting yang menghambat perkembangan.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam mencapai target penurunan angka stunting di Indonesia, sebagaimana ditekankan oleh Kemendukbangga. Upaya pencegahan ini tidak hanya berfokus pada keluarga, tetapi juga melibatkan lingkungan sekitar hingga posyandu untuk edukasi berkelanjutan.
Kolaborasi dan Bantuan Nyata untuk Keluarga Risiko Stunting
Kemendukbangga/BKKBN terus menggalakkan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat penurunan angka stunting di tanah air. Salah satu wujud nyata kolaborasi ini adalah Program Genting yang melibatkan mitra seperti Bank Syariah Indonesia (BSI).
Deputi Sukaryo Teguh Santoso menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan mencakup perbaikan sanitasi, dapur, dan kamar mandi. "Kami memberikan bantuan di sini untuk sanitasi yang baik, perbaikan dapur, juga kamar mandi dan seisinya, bersama mitra Genting dari Bank Syariah Indonesia (BSI) dengan tujuan membantu keluarga untuk mewujudkan agar anak-anak di lingkungan ini menjadi sehat dan kuat, jangan sampai stunting," ujar Teguh.
Di Provinsi DI Yogyakarta (DIY), sebanyak 103 sasaran Keluarga Risiko Stunting (KRS) telah menerima manfaat dari Program Genting. Bantuan ini mencakup asupan nutrisi harian bagi ibu hamil dan balita selama lima bulan, dengan total nilai Rp135 juta.
Selain itu, tiga penerima manfaat di Kota Yogyakarta juga mendapatkan bantuan bedah rumah senilai masing-masing Rp15 juta dan paket sembako. Bantuan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan mendukung tumbuh kembang optimal anak-anak.
Edukasi KB dan Target Penurunan Stunting Nasional
Upaya pencegahan stunting tidak berhenti pada perbaikan fisik dan nutrisi saja, tetapi juga mencakup edukasi yang komprehensif. Program Keluarga Berencana (KB) menjadi bagian integral dari strategi ini, khususnya dalam pengendalian angka kelahiran dan edukasi calon pengantin.
Kemendukbangga/BKKBN menekankan pentingnya edukasi bagi calon pengantin mengenai usia ideal untuk menikah. Hal ini berkaitan erat dengan kesiapan fisik dan mental orang tua dalam merawat anak, yang pada akhirnya akan memengaruhi risiko stunting pada generasi mendatang.
Penyuluhan mengenai Program KB dan pentingnya perencanaan keluarga terus diperluas hingga ke tingkat posyandu. Edukasi ini memastikan bahwa informasi penting mengenai kesehatan reproduksi dan pencegahan stunting dapat diakses oleh masyarakat luas.
Target nasional untuk penurunan stunting memerlukan komitmen dan tindakan berkelanjutan dari semua pihak. Dengan mengintegrasikan program KB dan sanitasi, diharapkan angka stunting dapat terus ditekan sesuai target yang telah ditetapkan pemerintah.
Prevalensi Stunting di DIY dan Pentingnya Keberlanjutan Program
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di beberapa wilayah DI Yogyakarta menunjukkan angka yang bervariasi. Kabupaten Sleman mencatat 17,3 persen, Kabupaten Bantul 16,5 persen, dan Kota Yogyakarta 10,6 persen.
Angka-angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan rata-rata nasional yang mencapai 19,8 persen. Namun, Deputi Sukaryo Teguh Santoso menegaskan bahwa upaya lebih lanjut tetap diperlukan. "Namun tetap memerlukan upaya lebih lanjut agar capaiannya dapat mendukung pencapaian target nasional penurunan stunting," ucap Teguh.
Wakil Bupati (Wabup) Sleman, Danang Maharsa, turut memberikan pandangannya mengenai keberlanjutan program pencegahan stunting. Menurutnya, hasil dari kegiatan pencegahan stunting tidak dapat terlihat dalam waktu singkat, melainkan membutuhkan proses yang berkelanjutan.
"Hasilnya akan kita lihat saat anak masuk di usia pertumbuhan," kata Danang, menekankan bahwa dampak positif dari intervensi akan terlihat seiring waktu. Oleh karena itu, program-program pencegahan stunting harus terus dijalankan secara konsisten dan terintegrasi.
Sumber: AntaraNews