Fakta Mengejutkan: Banjir Bali 2025 Jadi Alarm, Ini Cara Efektif Cegah Banjir Bali Berulang!
Banjir besar di Bali pada 2025 mengejutkan banyak pihak. Temukan strategi mitigasi terpadu dari hulu ke hilir, memadukan kearifan lokal dan sains modern untuk cegah banjir Bali kembali terjadi.
Banjir besar yang melanda Pulau Dewata pada awal September 2025 mengejutkan banyak pihak, terutama mereka yang menganggap Bali sebagai ekosistem yang harmonis antara pembangunan dan kearifan lokal. Peristiwa ini menjadi alarm serius, menunjukkan bahwa modernisasi yang tidak terkontrol dapat memicu bencana alam.
Denpasar, sebagai jantung aktivitas di Bali, menjadi wilayah hilir yang paling terdampak, namun akar masalah banjir berasal dari hulu. Oleh karena itu, upaya pencegahan banjir tidak bisa hanya berfokus pada hilir, melainkan harus melibatkan pengelolaan terpadu dari hulu hingga hilir.
Mitigasi bencana banjir memerlukan koordinasi lintas batas administrasi pemerintahan, mengingat Daerah Aliran Sungai (DAS) Ayung dan anak-anak sungainya melintasi berbagai wilayah. Kelihaian para pemimpin daerah dalam berkolaborasi menjadi kunci utama untuk suksesnya pencegahan bencana di seluruh Pulau Dewata.
Banjir Bali: Alarm Pembangunan dan Lingkungan
Banjir di Denpasar pada September 2025 menjadi sebuah pertanda bahwa laju modernisasi pembangunan di Bali harus dievaluasi secara menyeluruh. Wilayah hilir Denpasar, yang sebagian besar berada di bawah 50 meter dari permukaan laut, secara alami menjadi penampungan air dari DAS Ayung yang berhulu di ketinggian lebih dari 900 mdpl.
Meskipun Bali telah mengadopsi konsep “satu pulau satu manajemen” (one island, one management) yang mengelola pulau sebagai satu kesatuan ekologi, pengelolaan terpadu kawasan hidrologis masih dapat dioptimalkan. Konsep ini penting karena pulau kecil seperti Bali memang selayaknya dikelola sebagai satu kesatuan ekologi.
Perencanaan tata ruang berbasis neraca air menjadi krusial untuk memastikan pembangunan permukiman, pariwisata, dan infrastruktur tidak melampaui daya dukung lingkungan. Hal ini akan membantu menjaga keseimbangan alam dan mencegah dampak buruk seperti banjir Bali.
Penyebab Utama dan Tantangan Mitigasi Banjir Bali
Diskusi dengan tenaga ahli mengungkap dua tren besar yang mengurangi kemampuan tanah Bali menyerap air, memperparah kondisi banjir Bali. Pertama, tren pemasangan batu sikat untuk mempercantik halaman yang menyebabkan soil sealing, menghilangkan daya infiltrasi tanah dan membuat air hujan langsung mengalir ke sungai.
Kedua, aturan pembatasan ketinggian bangunan maksimum 15 meter mendorong pembangunan horizontal, yang mengubah lahan kosong penyerap air menjadi area beton. Hilangnya lahan terbuka ini secara signifikan mengurangi kapasitas alami Bali untuk menahan air hujan, berkontribusi pada seringnya banjir Bali.
Selain itu, degradasi daerah hulu akibat pembukaan lahan untuk akomodasi pariwisata, vila, dan kebun monokultur turut mengurangi kapasitas hutan menyerap air. Program reforestasi dan agroforestry di daerah hulu DAS Ayung menjadi strategi jangka panjang yang vital untuk mencegah banjir Bali di masa depan.
Sinergi Kearifan Lokal dan Sains Modern untuk Cegah Banjir Bali
Bali memiliki modal sosial, kelembagaan, dan pengetahuan yang memadai untuk mengatasi persoalan banjir, dengan kunci menggabungkan kearifan lokal dan sains modern. Sistem Subak, warisan pengetahuan ekologis yang berharga, bukan sekadar metode irigasi, melainkan sistem sosial-ekologis yang memastikan pembagian air dilakukan adil, terukur, dan selaras dengan siklus alam.
Nilai-nilai Subak dapat diadaptasi menjadi strategi manajemen banjir modern, seperti pembangunan kolam retensi, sumur resapan, dan taman resapan di hulu maupun hilir. Pemberdayaan Pacalang juga dapat dimanfaatkan untuk mengawasi kepatuhan terhadap aturan ruang terbuka hijau dan sempadan sungai, menggerakkan aksi kolektif di tingkat desa adat.
Pemerintah dapat mendorong pembangunan infrastruktur hijau seperti biopori massal, kolam retensi komunitas, dan taman kota resapan air. Kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, desa adat, akademisi, dan masyarakat harus diperkuat, termasuk peran industri pariwisata dalam membangun sistem panen hujan di area hotel dan resort.
Banjir September 2025 harus menjadi momentum refleksi dan titik balik untuk memperkuat manajemen ekosistem satu pulau. Dengan sinergi antara ilmu pengetahuan, regulasi adaptif, dan partisipasi aktif masyarakat, Bali dapat mengembalikan harmoni antara manusia dan alam, sekaligus efektif cegah banjir Bali berulang.
Sumber: AntaraNews