Fakta Menarik: Guru Besar Untag Surabaya Kini Capai 30 Orang dengan Pengukuhan Dua Profesor Baru Bidang Hukum dan Teknologi
Untag Surabaya mengukuhkan dua guru besar baru, Prof. Dr. Hufron dan Prof. Dr. Fajar Astuti Hermawati, menambah jumlah Guru Besar Untag Surabaya menjadi 30. Simak peran penting mereka!
Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya baru-baru ini mencatatkan pencapaian signifikan dalam dunia akademik. Pada hari Selasa, kampus setempat mengukuhkan dua guru besar baru dalam sidang senat terbuka yang penuh khidmat. Penambahan ini memperkaya daftar Guru Besar Untag Surabaya, khususnya di bidang Hukum Tata Negara dan Pengolahan Citra Digital.
Pengukuhan ini membawa total Guru Besar Untag Surabaya menjadi 30 orang, sebuah angka yang menunjukkan komitmen institusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan. Rektor Untag Surabaya, Prof. Dr. Mulyanto Nugroho, MM., CMA., CPA., menyatakan kebanggaannya atas capaian ini. Beliau menyebutnya sebagai bukti keseriusan para dosen untuk mencapai puncak akademik.
Dua sosok yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Untag Surabaya adalah Prof. Dr. Hufron, S.H., M.H., di bidang Hukum Tata Negara, dan Prof. Dr. Fajar Astuti Hermawati, S.Kom., M.Kom., di bidang Pengolahan Citra Digital. Keduanya diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi di Indonesia.
Capaian Gemilang Untag Surabaya dalam Peningkatan Kualitas Akademik
Pengukuhan dua guru besar baru ini menandai tonggak penting bagi Untag Surabaya dalam upaya meningkatkan kualitas akademik. Prof. Dr. Mulyanto Nugroho menyampaikan bahwa pencapaian ini adalah hasil dari dedikasi dan kerja keras para dosen. Ini merupakan bukti nyata komitmen Untag Surabaya terhadap keunggulan dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dengan penambahan Prof. Hufron dan Prof. Fajar Astuti, jumlah Guru Besar Untag Surabaya kini mencapai angka 30. Prof. Mulyanto juga mengungkapkan bahwa saat ini masih ada beberapa usulan guru besar lain yang sedang dalam proses. Usulan ini khususnya datang dari bidang ekonomi dan teknik, menunjukkan potensi pertumbuhan akademik yang berkelanjutan.
Rektor Untag Surabaya berharap agar jumlah guru besar dapat terus bertambah secara signifikan. Targetnya adalah mencapai peningkatan yang lebih besar hingga akhir tahun 2025. Hal ini sejalan dengan visi Untag Surabaya untuk menjadi universitas yang unggul dan berdaya saing tinggi di tingkat nasional maupun internasional.
Profil Dua Guru Besar Baru: Hukum dan Teknologi
Prof. Dr. Hufron, S.H., M.H., dikukuhkan sebagai Guru Besar Hukum Tata Negara. Dalam orasi ilmiahnya, beliau mengangkat topik penting berjudul “Urgensi Pembentukan Undang-Undang Lembaga Kepresidenan”. Orasi ini menyoroti kebutuhan akan regulasi yang lebih komprehensif terkait lembaga kepresidenan di Indonesia.
Sementara itu, Prof. Dr. Fajar Astuti Hermawati, S.Kom., M.Kom., menjadi Guru Besar Pengolahan Citra Digital. Beliau menyampaikan orasi ilmiah dengan judul “Pengolahan Citra Digital dalam Kerangka Pendidikan Tinggi dan Patriotisme: Manusia, Teknologi dan Nasionalisme”. Orasi ini mengintegrasikan aspek teknologi dengan nilai-nilai kebangsaan.
Prof. Hufron sendiri pernah menyampaikan bahwa menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati. "Jika sudah berniat, maka komitmen Tri Dharma Perguruan Tinggi harus dijalankan dengan sepenuh hati," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan filosofi di balik dedikasi para akademisi di Untag Surabaya.
Peran Profesor sebagai Agen Perubahan dan Kolaborasi Strategis
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah 7 Jawa Timur, Prof. Dr. Dyah Safitri, SE., MM., turut menyampaikan apresiasi atas capaian Untag Surabaya. Beliau menantikan karya nyata yang lahir dari para profesor, khususnya yang dapat memberikan kontribusi signifikan bagi pendidikan tinggi di Jawa Timur dan Indonesia secara keseluruhan.
Menurut Prof. Dyah, seorang profesor memiliki peran krusial sebagai agen perubahan. Karya-karya mereka tidak hanya diharapkan berhenti pada publikasi semata. Lebih dari itu, karya tersebut harus mampu memberikan multiplier effect atau dampak berlipat ganda bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Prof. Dyah juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dengan berbagai sektor. Kolaborasi ini mencakup dunia industri, sektor kesehatan, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Sinergi ini sangat vital untuk mendukung program pembangunan nasional menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Sumber: AntaraNews