Fakta Baru! Korban Selamat Runtuhnya Mushalla Al Khoziny Bertambah Jadi 104, Satu Santri Sempat Hilang
Basarnas Surabaya mengumumkan jumlah korban selamat insiden runtuhnya Mushalla Al Khoziny bertambah menjadi 104 orang setelah satu santri yang sempat hilang ditemukan selamat. Bagaimana detail kejadiannya?
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Surabaya melaporkan penambahan jumlah korban selamat dari insiden runtuhnya mushalla di Pondok Pesantren Al Khoziny, Sidoarjo, Jawa Timur. Kini, total 104 orang dinyatakan selamat setelah satu santri yang sebelumnya dilaporkan hilang berhasil ditemukan. Peristiwa ini terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur, dan terus dalam penanganan serius.
Penambahan data ini diumumkan pada Sabtu (04/10) oleh Kepala Kantor Basarnas Surabaya, Nanang Sigit, kepada ANTARA. Santri bernama Ibnu tersebut sempat menyelamatkan diri saat bangunan mushalla ambruk dan pergi ke rumah rekannya. Ia tidak memberikan kabar kepada orang tuanya, sehingga sempat dianggap hilang.
Wali santri yang khawatir kemudian melaporkan kehilangan anaknya, menduga Ibnu tertimbun reruntuhan bangunan. Namun, pada Jumat (3/10), santri tersebut kembali ke ponpes dan bertemu dengan orang tuanya dalam kondisi selamat. Kejadian ini memberikan harapan baru di tengah upaya pencarian yang masih berlangsung.
Update Terbaru Jumlah Korban dan Proses Pencarian
Nanang Sigit menjelaskan bahwa total korban kini mencapai 118 orang, dengan rincian 14 meninggal dunia dan 104 selamat. Angka ini bertambah setelah penemuan satu korban meninggal dunia di sektor A4 pada Jumat malam pukul 23:00 WIB. Sebelumnya, jumlah korban meninggal tercatat 13 orang.
Proses pencarian korban runtuhnya Mushalla Al Khoziny masih terus difokuskan pada pembukaan akses material reruntuhan. Tim SAR gabungan menggunakan alat berat untuk membersihkan puing-puing. Penggunaan alat berat ini diawasi ketat untuk menghindari risiko membahayakan korban yang mungkin masih tertimbun.
Meskipun pembongkaran dan pembersihan material telah mencapai sekitar 60 persen, tujuan utamanya bukanlah merobohkan seluruh bangunan. "Tujuan utama bukan merobohkan seluruh bangunan, melainkan membuka akses untuk mempercepat evakuasi," kata Nanang. Jika ada tanda-tanda korban, proses akan langsung dihentikan untuk evakuasi.
Ekskavator yang digunakan hanya berfungsi untuk membuka jalur, bukan untuk mengangkat korban secara langsung. Setiap sektor pencarian dilengkapi dengan petugas keselamatan yang memantau secara visual apabila ada indikasi korban. Hal ini dilakukan untuk memastikan keamanan dan efektivitas operasi penyelamatan di lokasi kejadian.
Tantangan dan Ketidakpastian Data Santri Hilang
Hingga saat ini, Basarnas menerima laporan sementara dari wali santri mengenai 49 orang yang belum diketahui keberadaannya. Namun, Nanang Sigit menekankan bahwa data ini belum bisa dijadikan acuan pasti. Ada kemungkinan santri lain yang pulang tanpa memberikan kabar, serupa dengan kasus santri Ibnu.
"Seperti kemarin, ada laporan hilang, ternyata anaknya atas nama Ibnu asal Surabaya tidak berada di lokasi," tutur Nanang. "Jadi angka 49 itu belum bisa dipastikan benar-benar akurat." Ketidakpastian ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya validasi data korban.
Operasi pencarian korban runtuhnya Mushalla Al Khoziny ini akan berlangsung sesuai standar operasional selama tujuh hari. Ada kemungkinan operasi diperpanjang jika ditemukan tanda-tanda keberadaan korban. Keputusan perpanjangan akan sangat bergantung pada situasi dan temuan di lapangan.
Nanang menambahkan, "Secara matematis, proses kemungkinan bisa selesai hari ini, maksimal besok, tetapi tetap bergantung pada situasi di lapangan." Pernyataan ini menunjukkan optimisme Basarnas untuk segera menyelesaikan operasi. Namun, keselamatan dan penemuan korban tetap menjadi prioritas utama tim.
Sumber: AntaraNews