DPRD Desak Penambahan Pekerja, Proyek RSUD Kudus Dikebut di Musim Hujan: Baru 25% Rampung!
Proyek RSUD Kudus dikebut! DPRD mendesak penambahan pekerja dan kerja siang malam agar pembangunan Gedung Pusat Layanan Stroke dan Onkologi rampung tepat waktu, meski progres baru 25%.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kudus mendesak pelaksana proyek pembangunan Gedung Pusat Layanan Stroke dan Onkologi RSUD Loekmono Hadi Kudus untuk segera menambah jumlah pekerja. Desakan ini muncul setelah Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto, melakukan pemantauan langsung di lokasi proyek. Tujuannya adalah memastikan proyek senilai Rp44,6 miliar ini dapat diselesaikan sesuai target waktu yang telah ditetapkan.
Mardijanto menyatakan harapannya agar jumlah pekerja dapat ditingkatkan secara signifikan, dari sekitar 70 orang menjadi sekitar 100 orang. Peningkatan ini dianggap krusial untuk mengejar ketertinggalan progres pembangunan yang saat ini baru mencapai 25 persen. Dengan penambahan tenaga kerja, diharapkan pekerjaan dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Selain penambahan pekerja, DPRD juga meminta agar aktivitas pekerjaan dilakukan secara intensif, baik siang maupun malam hari. Strategi ini diperlukan untuk mengoptimalkan sisa waktu yang hanya sekitar 2,5 bulan sebelum target penyelesaian pada 27 Desember 2025. Apalagi, saat ini wilayah Kudus mulai memasuki musim hujan yang berpotensi menjadi penghambat pekerjaan lapangan.
Desakan DPRD untuk Percepatan Proyek RSUD Kudus
Ketua Komisi D DPRD Kudus, Mardijanto, secara tegas mendesak pelaksana proyek pembangunan Gedung Pusat Layanan Stroke dan Onkologi RSUD Loekmono Hadi Kudus untuk menambah jumlah pekerja. Menurutnya, penambahan ini vital agar proyek lima lantai tersebut bisa selesai tepat waktu sesuai jadwal yang telah ditentukan. "Kami berharap ada penambahan pekerja menjadi sekitar 100 orang dari sebelumnya hanya 70-an orang," ujarnya usai memantau lokasi proyek.
Mardijanto juga menekankan pentingnya strategi khusus untuk menghadapi tantangan musim hujan yang dapat menghambat pekerjaan di lapangan. Oleh karena itu, ia meminta agar aktivitas pekerjaan dilakukan secara berkelanjutan, baik siang maupun malam. Hal ini untuk memastikan bahwa progres pembangunan dapat terus berjalan tanpa hambatan berarti.
Saat ini, progres pembangunan Gedung Pusat Layanan Stroke dan Onkologi baru mencapai 25 persen, jauh di bawah progres fisik Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang sudah terealisasi 38 persen. Mardijanto sebelumnya telah berkoordinasi dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) terkait perkembangan proyek ini. Dari komunikasi tersebut, dipastikan progres pembangunan berjalan cukup positif dan masih sesuai jadwal, namun percepatan tetap diperlukan.
Progres Pembangunan dan Komitmen Pelaksana Proyek
Direktur RSUD Loekmono Hadi Kudus, Abdul Hakam, membenarkan bahwa pembangunan gedung Pusat Layanan Stroke dan Onkologi baru terealisasi 25 persen. Meskipun demikian, ia optimis bahwa tahap akhir proyek, yang akan fokus pada pemasangan peralatan, dapat berjalan lebih cepat. "Diperkirakan saat tahap pemasangan alat nanti, bisa lebih cepat," ujarnya.
Berbeda dengan gedung stroke dan onkologi, pembangunan IGD di RSUD Loekmono Hadi Kudus berjalan sesuai target dan dievaluasi setiap pekan. Bahkan, progres pembangunan IGD saat ini menunjukkan deviasi positif, menandakan kinerja yang baik dari pelaksana proyek. Hal ini menjadi contoh bagaimana proyek dapat berjalan lancar dengan manajemen yang tepat.
Sebagai Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), Abdul Hakam menegaskan perhatian penuhnya terhadap proyek-proyek ini, terutama dengan masuknya musim hujan. Ia menekankan bahwa pelaksana proyek harus memenuhi komitmen kerja sesuai kesepakatan yang telah dibuat. Sistem pembayaran proyek ini dilakukan setiap termin berdasarkan capaian target pekerjaan, sehingga jika tidak sesuai target, pembayaran tidak akan dilakukan.
Sumber: AntaraNews