Disbudpar Jatim Digitalisasi Wayang Topeng Malangan: Upaya Lestarikan Seni Tradisi Lewat Dokumentasi Digital
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur mengambil langkah progresif dengan digitalisasi Wayang Topeng Malangan melalui workshop, memastikan warisan seni tradisi ini lestari dan dikenal luas lintas generasi.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jawa Timur (Jatim) secara aktif menggelar workshop pendokumentasian warisan seni budaya. Kegiatan ini berfokus pada objek wayang topeng Malangan, sebagai bagian dari upaya pelestarian seni tradisi melalui penguatan dokumentasi digital.
Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Budaya Jawa Timur, Deddy Hariyono, menegaskan bahwa pelestarian budaya saat ini tidak cukup hanya melalui pementasan. Menurutnya, dokumentasi yang baik sangat penting agar seni tradisi dapat diakses oleh lintas generasi dan wilayah.
Workshop yang berlangsung selama dua hari, pada 10 hingga 11 Februari 2026, ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas humas dan petugas dokumentasi dari berbagai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata kabupaten/kota se-Jawa Timur. Tujuannya adalah agar mereka mampu menghasilkan video pendek dan film dokumenter budaya yang berkualitas serta memiliki nilai arsip jangka panjang.
Pentingnya Dokumentasi Digital untuk Pelestarian Budaya
Deddy Hariyono menjelaskan bahwa melalui dokumentasi digital, seni budaya daerah diharapkan tidak hanya berhenti di satu panggung. Sebaliknya, ia ingin agar seni budaya dapat terus hidup, dipelajari, dan dikenal lebih luas, terutama oleh generasi muda.
Kegiatan ini menjadi langkah strategis Disbudpar Jatim dalam menghadapi tantangan pelestarian budaya di era digital. Dengan dokumentasi yang mumpuni, warisan budaya seperti wayang topeng Malangan dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan tetap relevan.
Workshop ini juga bertujuan untuk membekali peserta dengan keterampilan teknis dalam pembuatan konten digital. Hal ini krusial untuk memastikan bahwa dokumentasi yang dihasilkan tidak hanya informatif tetapi juga menarik secara visual dan memenuhi standar arsip.
Pagelaran Wayang Topeng Malangan: Edukasi dan Kolaborasi Seni
Dalam rangkaian kegiatan workshop ini, wayang topeng Malangan, yang merupakan seni pertunjukan khas Kabupaten Malang dan sarat nilai filosofis, turut dihadirkan. Pagelaran terbuka ini diselenggarakan di Taman Budaya Provinsi Jawa Timur, berfungsi sebagai sarana pertunjukan sekaligus media edukasi dan pelestarian budaya.
Lakon “Candrasmara” dipilih untuk pagelaran ini karena mengangkat kisah universal tentang percintaan, pengorbanan, dan nilai kehidupan. Kisah ini menceritakan perjalanan cinta Raden Panji Asmoro Bangun atau Inu Kertapati dengan Dewi Sekartaji atau Galuh Candrakirana dalam menghadapi berbagai rintangan.
Melalui tarian topeng yang penuh makna, iringan gamelan yang dinamis, serta narasi dalang, nilai-nilai kesetiaan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan disampaikan secara simbolik dan komunikatif kepada penonton. Pagelaran ini menampilkan Grup Seni Tari dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya.
Kolaborasi antara seniman senior dan generasi penerus juga menjadi bagian penting dari pagelaran ini. Kolaborasi semacam ini diharapkan mampu menghadirkan pertunjukan yang autentik, dinamis, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Strategi Digitalisasi dan Dampak Global
Workshop ini diikuti oleh 56 peserta dari target 70 orang, yang berasal dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta unsur kehumasan kabupaten/kota se-Jawa Timur. Partisipasi aktif ini menunjukkan antusiasme daerah dalam upaya digitalisasi budaya.
Deddy Hariyono menambahkan bahwa hasil dokumentasi para peserta akan dinilai oleh narasumber ahli. Selanjutnya, karya-karya terbaik akan diunggah ke kanal YouTube resmi UPT Taman Budaya Jawa Timur. Ini akan berfungsi sebagai arsip digital sekaligus media promosi budaya Jawa Timur.
Menurut Deddy, digitalisasi ini merupakan langkah strategis agar warisan seni budaya Jawa Timur tetap terjaga. Selain itu, upaya ini juga membuka peluang bagi seniman daerah untuk dikenal di tingkat nasional bahkan internasional.
Kehadiran perwakilan mahasiswa dari Prancis dan Universitas Hong Kong dalam pagelaran tersebut menjadi bukti nyata. Hal ini menunjukkan bahwa seni tradisi Jawa Timur memiliki daya tarik global yang kuat, terutama jika dikemas dan didokumentasikan secara tepat.
Sumber: AntaraNews