Direktur RSMPH akui CT Scan rusak saat Setya Novanto dirawat
Sementara itu, pada persidangan sebelumnya dokter spesialis syaraf pada RSMPH, Nadia Hamedan mengatakan berdasarkan pemeriksaan subjektif terdapat cidera kepala pada Novanto. Pertimbangannya, mantan Ketua DPR itu mengeluh pusing, muntah-muntah.
Direktur Rumah Sakit Medika Permata Hijau (RSMPH) Hafil Budianto Abdulgani mengakui alat CT Scan rumah sakit rusak saat Setya Novanto dirawat. Hal itu menyebabkan Novanto tidak menjalani pemerikaan melalui CT Scan pasca diduga mengalami kecelakaan tunggal.
Saat memberi keterangan sebagai saksi dalam sidang perintangan penyidikan korupsi e-KTP atas terdakwa Fredrich Yunadi di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Hafil menerangkan saat Novanto dirawat pihak rumah sakit masih membahas pengadaan alat CT Scan yang diketahui sudah 1 tahun rusak.
"Ya itu rusak ada namanya bohlam, nah ada perdebatan apakah ganti bohlam atau alatnya juga, itu jadi pertimbangan," ujar Hafil, Kamis (26/4).
Sementara itu, pada persidangan sebelumnya dokter spesialis syaraf pada RSMPH, Nadia Hamedan mengatakan berdasarkan pemeriksaan subjektif terdapat cidera kepala pada Novanto. Pertimbangannya, mantan Ketua DPR itu mengeluh pusing, muntah-muntah.
Dari pemeriksaan subjektif itu, Nadia menuturkan Novanto perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut guna memastikan kondisi kepalanya. Namun hal itu tidak terlaksana dikarenakan alat CT Scan rumah sakit kelas B itu rusak.
Diketahui dalam kasus ini, Fredrich Yunadi diduga melakukan upaya perintangan penyidikan, dengan menghalangi penyidik KPK memeriksa Novanto dalam perkara korupsi yang merugikan negara Rp 2,3 triliun.
Setya Novanto mangkir setiap penyidik KPK menjadwalkan pemeriksaan karena diungsikan oleh Fredrich. KPK pun kemudian menetapkan Setya Novanto menjadi pihak yang dicari.
Tak berselang lama pasca penetapan orang yang dicari oleh KPK, Setya Novanto diketahui kecelakaan tunggal. Namun setelah ditelisik lebih jauh, kecelakaan diduga telah direkayasa.
Kesaksian itu diungkap oleh Bimanesh Sutarjo saat menjadi saksi untuk Fredrich Yunadi.
"Saya baru bangun tidur terdengar suara terdakwa (Fredrich Yunadi) dok skenarionya kecelakaan saya tanya maksudnya apa dia langsung tutup telponnya. Singkat sekali," ujar Bimanesh.
Baca juga:
Direktur RS Medika sebut Bimanesh yang bertanggung jawab soal rawat inap Setnov
Masih pikir-pikir banding, pengacara takut hukuman Novanto tambah diperberat PT
Dokter RSMPH sebut keterangan Fredrich di media soal kondisi Setnov tak sesuai
Fredrich dinilai JPU intimidasi saksi di sidang, hakim sampai ketuk palu
Fredrich Yunadi kembali jalani sidang lanjutan