Dinkes Sulsel, UNICEF, dan AJI Bersinergi Kuatkan Pencegahan HPV pada Remaja di Makassar
Kolaborasi Dinkes Sulsel, UNICEF, dan AJI Makassar gencar melakukan pencegahan HPV pada remaja melalui edukasi dan imunisasi, sekaligus membahas pentingnya kesehatan mental remaja di era digital.
Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan (Dinkes Sulsel) bersama UNICEF dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar berkolaborasi aktif. Mereka menyatukan kekuatan untuk mencegah infeksi Human Papillomavirus (HPV) pada remaja di Kota Makassar. Upaya ini bertujuan melindungi generasi muda dari ancaman kanker serviks sejak dini.
Berbagai program dan kegiatan telah digagas dalam inisiatif kolaboratif ini. Fokus utamanya adalah pengenalan HPV sebagai penyebab kanker serviks dan pentingnya imunisasi sebagai langkah pencegahan. Langkah proaktif ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran remaja.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sulsel, Muhammad Yusri Yunus, menegaskan pentingnya kerjasama ini. Kolaborasi dengan mitra seperti UNICEF dan AJI Makassar esensial untuk kampanye imunisasi HPV pada anak dan remaja. Tujuannya adalah memastikan kesehatan fisik dan mental generasi penerus.
Kolaborasi Strategis untuk Imunisasi HPV
Upaya kolaborasi antara Dinkes Sulsel, UNICEF, dan AJI Makassar ini menunjukkan komitmen serius dalam menjaga kesehatan remaja. Mereka bersama-sama mengedukasi tentang bahaya HPV, virus yang menjadi pemicu utama kanker serviks. Edukasi ini menjadi fondasi penting sebelum langkah pencegahan lainnya dilakukan.
Salah satu wujud nyata kolaborasi ini adalah penyelenggaraan talkshow bertema “Edukasi Kesehatan Fisik dan Mental Remaja Sejak Dini” (Kenali HPV, Jaga Mental, Lindungi Masa Depan). Acara ini berhasil menjangkau seratusan siswa SMA serta melibatkan kelompok remaja seperti Pramuka, OSIS, dan PMR. Forum interaktif ini dirancang untuk menyampaikan informasi secara luas dan inklusif kepada para peserta.
Muhammad Yusri Yunus menambahkan bahwa kegiatan edukasi ini akan ditindaklanjuti dengan program imunisasi HPV. Sekitar 1.000 siswa SMA di Makassar direncanakan akan menerima imunisasi ini, berkat kerja sama dengan PKK Sulsel. Inisiatif ini menjadi langkah konkret dalam melindungi remaja dari risiko infeksi HPV di masa depan.
Edukasi Kesehatan Mental di Era Digital
Selain fokus pada pencegahan HPV, kolaborasi ini juga menyoroti isu krusial kesehatan mental remaja. Yusri Yunus menekankan bahwa tekanan sosial, akademik, dan perkembangan psikologis di era digital saat ini sangat mempengaruhi kesejahteraan mental mereka. Lingkungan serba digital seringkali membawa tantangan baru bagi perkembangan mental remaja.
Kurangnya literasi kesehatan mental seringkali menjadi penghalang bagi remaja untuk mengenali dan mengelola emosi mereka dengan baik. Situasi ini dapat memperburuk kondisi psikologis mereka, sehingga edukasi menjadi sangat vital. Pemahaman yang minim tentang kesehatan mental membuat remaja rentan terhadap berbagai masalah.
Oleh karena itu, Yusri menegaskan perlunya penguatan edukasi di tingkat remaja, baik untuk pencegahan kanker serviks maupun kesehatan mental. Tujuannya adalah untuk memastikan Indonesia memiliki generasi penerus yang sehat secara fisik dan mental sejak dini. Edukasi komprehensif diharapkan mampu membekali remaja dengan pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan.
Membangun Ketahanan Mental Remaja di Tengah Gempuran Digital
Dalam talkshow tersebut, Psikolog Bidang Klinis dan Forensik Biro Daya Potensia Indonesia, Sitti Annisa M Harusi, turut memberikan pandangannya. Ia mengamati bahwa banyak remaja saat ini cenderung lebih mementingkan penilaian orang lain daripada kenyamanan diri sendiri. Fenomena ini seringkali dipicu oleh penggunaan gawai yang intens dan aktivitas di dunia digital.
Annisa menjelaskan bahwa aktivitas gawai yang berlebihan dapat memicu “productivity toxic” di kalangan remaja. Mereka merasa harus selalu produktif atau terlihat sempurna di mata orang lain, yang berdampak negatif pada kesehatan mental. Tekanan untuk memenuhi standar yang tidak realistis ini dapat menyebabkan stres dan kecemasan.
Untuk membangun ketahanan mental, Annisa menyarankan agar remaja lebih sering “bercermin” dan menanyakan keinginan serta kebutuhan diri sendiri. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu remaja menjadi pribadi yang kuat secara mental. Dengan begitu, mereka akan lebih bertanggung jawab atas dirinya dan tidak mudah terpengaruh oleh tekanan eksternal.
Sumber: AntaraNews