Denny JA Sumbangkan Dana Abadi untuk Penghargaan Penulis
Hibah ini dirancang untuk menghargai para penulis dalam empat kategori utama.
Mulai tahun 2024, Denny JA melalui Denny JA Foundation akan meluncurkan sebuah inisiatif baru berupa dana abadi untuk penghargaan bagi para penulis. Hibah ini bertujuan untuk memberikan apresiasi kepada penulis dalam empat kategori utama, dengan harapan bahwa program ini dapat bertahan selama 50 tahun atau bahkan lebih.
Dalam acara peluncuran tersebut, Denny JA menjelaskan filosofi yang mendasari inisiatif ini. "Kata-kata adalah benih yang ditanam di ladang keabadian. Ia bertumbuh melintasi musim, menjangkau langit, dan mengakar dalam jiwa manusia," ungkap Denny.
Menurut Denny, kata-kata yang dirangkai oleh penulis besar tidak hanya membekas dalam ingatan, tetapi juga berperan dalam membentuk peradaban, mengubah nasib individu, dan membangun jembatan antargenerasi.
Penghargaan ini dirancang untuk menghargai berbagai kontribusi penulis yang terbagi dalam empat kategori.
Pertama, Lifetime Achievement Award, yang diberikan kepada penulis yang telah mengabdikan lebih dari 40 tahun dalam menghasilkan karya unggul serta membangun tradisi literasi yang menjadi pijakan bagi generasi selanjutnya.
Penghargaan ini dilengkapi dengan dana sebesar Rp 50 juta. Kedua, Dermakata Award untuk kategori Fiksi. Penghargaan ini menghormati penulis daerah yang produktif menerbitkan karya sastra fiksi berkualitas dalam tiga tahun terakhir dan memiliki dampak langsung terhadap komunitasnya.
Ketiga, Dermakata Award untuk kategori Non-Fiksi, yang ditujukan bagi penulis daerah yang berbasis pada penelitian dan dokumentasi, di mana buku-buku mereka diakui sebagai peta pengetahuan yang menampilkan wajah-wajah lokal yang sering terlupakan.
Keempat, Puisi Esai Award, bentuk apresiasi khusus bagi penulis yang mengembangkan genre puisi esai, yaitu perpaduan antara fakta dan fiksi yang mengangkat isu sosial melalui narasi yang menggugah. Tiga kategori terakhir masing-masing akan mendapatkan dana penghargaan sebesar Rp 35 juta.
Denny mengungkapkan bahwa inisiatif ini merupakan impiannya sejak ia menjadi mahasiswa di Pittsburgh University, Amerika Serikat, pada awal 1980-an. Inspirasi ini muncul dari Andrew Carnegie, seorang industrialis yang membangun lebih dari 2.500 perpustakaan di seluruh dunia dengan keyakinan bahwa pengetahuan adalah kekayaan yang harus dibagikan.
"Ketika saya masih hidup dalam kondisi ekonomi menengah ke bawah, saya sering berdoa dalam kesunyian. Jika suatu saat diberi rezeki lebih, saya ingin memberikan sesuatu yang berharga kepada masyarakat," kenang pria yang merupakan pendiri LSI Denny JA tersebut.
Lebih dari Sekadar Ucapan Terima Kasih
Dana abadi untuk penghargaan ini bersumber dari kepemilikan saham Denny JA Foundation di berbagai usaha yang dikelola oleh Denny. Dengan cara ini, yayasan akan memiliki sumber dana yang memadai untuk mendukung kegiatan literasi, termasuk festival puisi esai dan penghargaan tahunan, dalam jangka panjang.
Denny menyatakan bahwa program ini merupakan upaya kecil yang diharapkan dapat berkontribusi terhadap perkembangan tradisi menulis di Indonesia. "Penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga pesan bahwa menulis adalah pekerjaan sunyi yang memiliki potensi besar untuk mencerahkan masyarakat," ungkapnya.
Selain itu, Denny merujuk pada dampak Hadiah Nobel Sastra yang mampu mengangkat karya penulis lokal ke panggung internasional dan menginspirasi generasi baru untuk menulis. Meskipun ia mengakui bahwa penghargaan ini jauh lebih kecil, ia tetap berharap dampaknya signifikan dalam mendorong lahirnya karya-karya yang menyentuh hati dan membangun peradaban.
"Kekayaan sejati bukanlah apa yang kita kumpulkan untuk diri sendiri, tetapi apa yang kita tinggalkan untuk lingkungan. Kata-kata adalah warisan abadi yang mampu menggugah hati, mengubah pikiran, dan membangun dunia yang lebih baik," tutup Denny JA.
Dengan adanya dana abadi ini, Denny berharap penghargaan bagi penulis dapat menjadi langkah konkret dalam memperkuat budaya literasi, meningkatkan apresiasi terhadap sastra lokal, serta membangun tradisi literasi yang berkelanjutan lintas generasi.