Dedi Mulyadi Heran Warga Cepat Kalau Dengar Ada Bansos tapi Enggak Mau Disuruh KB
Dedi menilai ada pola pemikiran berbeda masyarakat zaman sekarang dengan tahun 70-an terkait pendataan kemiskinan.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyentil sikap warga yang selalu terdepan kalau mengetahui ada bantuan sosial (bansos). Namun jika ada progam lain seperti Keluarga Berencana (KB) jarang ada yang mau.
"Tapi hanya satu saja kalau dengar ada bantuan sosial cepat semuanya. Kalau disuruh KB enggak mau walau anaknya banyak tapi kalau dengar ada bansos semua daftar," kata Dedi, Jumat (9/5)
Menurut Dedi, tidak selamanya rakyat itu benar dan tidak selamanya pejabat salah. Dedi menilai Indonesia perlu perubahan mulai dari pejabat dan rakyatnya.
"Rakyat itu enggak selamanya benar, ada kalanya juga salah. Pejabat itu enggak selamanya salah, ada benarnya juga. Jadi sebenarnya di Indonesia ini yang harus berubah, bukan hanya pejabatnya, rakyatnya juga harus berubah. Buang sampah belum bisa, babat rumput belum bisa masih disuruh, jadi kayak anak-anak rakyat kita ini," kata Dedi sambil tertawa kecil.
Penduduk Tahun 1970-an Malu Ada Pendataan Rakyat Miskin
Dedi juga mengritisi perbedaan sikap rakyat saat ini dengan tahun 1970-an. Saat itu, kata dia, jika ada pendataan rakyat miskin tidak ada yang mau didata. Berbeda dengan rakyat saat ini ketika ada pendataan untuk bansos langsung bertanya berapa bantuan yang didapat.
"Tapi itu rakyat zaman sekarang. Rakyat tahun 70-an lain, tahun 70-an kalau ada pendataan rakyat miskin enggak ada yang mau, (ngaku) saya orang kaya, malu. Kalau sekarang, (ada pendataan) orang miskin, (pada nanya) bantuannya berapa. Ini harus diperbaiki. Pemimpin harus semakin baik pada rakyatnya, rakyatnya harus makin punya sikap yang baik," kata Dedi.