Curiga Kematian Irna Akibat KDRT, Keluarga Minta Polisi Bongkar Makam
Langkah ini diambil setelah keluarga curiga kematian Irna tidak wajar dan diduga akibat penganiayaan oleh suaminya.
Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Makassar bersama tim Forensik Biddokkes Polda Sulawesi Selatan melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam seorang perempuan bernama Irna (36) di Pemakaman Islam Beroangin, Kecamatan Tallo, Rabu (8/10).
Langkah ini diambil setelah keluarga curiga kematian Irna tidak wajar dan diduga akibat penganiayaan oleh suaminya.
Kasatreskrim Polrestabes Makassar, AKBP Devi Sujana, mengatakan ekshumasi dilakukan setelah orang tua korban melaporkan kejanggalan atas kematian putrinya.
“Ibu korban ini melaporkan kejanggalan kematian almarhum. Selanjutnya, berdasarkan laporan tersebut kami melakukan langkah-langkah penyelidikan,” ujarnya di lokasi ekshumasi.
Diduga Dianiaya Suami
Berdasarkan pemeriksaan awal, termasuk keterangan tiga anak korban, polisi menduga Irna meninggal karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
“Berdasarkan keterangan saksi-saksi, termasuk saksi anak almarhumah, diduga penganiayaan dilakukan oleh suami almarhumah, dalam hal ini saudara A,” ungkap Devi.
Selain ekshumasi, polisi juga melakukan olah TKP di rumah korban di Jalan Teuku Umar, Kecamatan Tallo, serta memeriksa ketiga anak Irna dengan pendampingan pekerja sosial.
Devi menjelaskan hasil pemeriksaan forensik akan memakan waktu beberapa bulan sebelum diumumkan.
“Untuk menunggu hasilnya itu akan kami koordinasikan kembali kepada pihak forensik. Dibutuhkan waktu beberapa bulan baru kemudian disampaikan,” tuturnya.
Kesaksian Keluarga
Adik korban, Aisyah (30), mengaku pihak keluarga meminta autopsi setelah anak-anak Irna mengungkapkan bahwa ibunya sering dipukul oleh sang suami.
“Kesaksian anaknya bilang, ‘mama dipukul’. Katanya gara-gara minta uang tidak dikasih, sampai dipukul pakai tangan,” ungkap Aisyah.
Ia menambahkan, sebelum dimakamkan keluarga menemukan luka lebam di bagian dahi dan belakang kepala Irna.
“Sering memang dulu dipukul. Dulu sempat mau pisah, tapi balikan lagi. Ada luka lebam di bagian dahi dan belakang,” katanya.
Aisyah juga menyebut kematian kakaknya pada 27 September 2025 awalnya dipercaya sebagai akibat jatuh karena kesurupan, sesuai keterangan suami korban.
Namun, keterangan tiga anak korban membuat keluarga yakin ada kekerasan sebelum Irna meninggal.
Irna sebelumnya sempat koma lima hari di RSUP Wahidin Sudirohusodo Makassar setelah diduga dianiaya suaminya pada 22 September, sebelum akhirnya meninggal dunia.