Calon Ketum PBNU Harus Kerja Ekstra, Diminta Benahi Orientasi yang Dianggap Bengkok
Mengusung tema “Muktamar Kanggo Umat, Dudu Rebutan Jabatan”, forum ini menjadi ruang refleksi.
Ratusan kader muda Nahdlatul Ulama (NU), pengurus lintas badan otonom (banom), lembaga, serta komunitas pemuda Kabupaten Batang berkumpul dalam Musyawarah Besar (Mubes) Nahdliyin Muda Batang 2026. Kegiatan tersebut digelar di Aula Rumah Sakit NU Batang, Minggu (31/5).
Mengusung tema “Muktamar Kanggo Umat, Dudu Rebutan Jabatan”, forum ini menjadi ruang refleksi, konsolidasi gagasan, dan penyampaian aspirasi warga NU menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama mendatang.
Ketua Panitia Mubes Nahdliyin Muda Batang Candra Yudha Satria mengatakan, forum tersebut lahir dari kegelisahan kalangan muda NU terhadap berbagai dinamika yang berkembang.
“Mubes ini berangkat dari kegelisahan anak-anak muda NU menyaksikan berbagai konflik internal yang terjadi di PBNU. Kami perlu menghadirkan ruang dialog yang sehat agar warga NU, khususnya generasi muda, dapat menyampaikan aspirasi dan pandangannya secara terbuka demi kemaslahatan organisasi,” kata Candra, Senin (1/6).
Perjalanan NU
Dalam forum tersebut, sejumlah narasumber dan para peserta kompak mengkritisi perjalanan NU di bawah kepemimpinan Rais Aam dan Ketua Umum sekarang yang dinilainya telah melenceng dari maqshudul a'dhom para pendiri.
"PBNU sekarang sudah lupa dengan perannya sebagai civil society, lebih menempel pada kekuasaan dan kurang peduli terhadap masalah keumatan," ujarnya.
Civil Society
Sementara itu, Pengasuh PP Merah Putih Gus Nauval Fuad Hasyim menegaskan, sesungguhnya NU memiliki fondasi kuat sebagai civil society yang mampu menciptakan kemandirian yang kokoh.
“Kemandirian bagi NU menjadi sesuatu yang mutlak, baik kemandirian ekonomi, kemandirian politik, maupun kemandirian dalam aspek lainnya,” tegasnya.
Salah seorang peserta dengan nada tinggi mengatakan, "Yang dipikirkan para pengurus PB sekarang lebih mengejar jabatan seperti komisaris dan sebagainya," ucapnya.
Senada dengan itu, Pengasuh PP Misykat al-Anwar Gus Roy Murtadho menyebut, kata kunci dari seluruh diskusi dalam Mubes adalah kemandirian dan penguatan civil society.
Ia menilai, siapapun yang terpilih menjadi Ketua Umum PBNU pada masa mendatang harus mampu menjaga dan memperkuat posisi NU sebagai organisasi keagamaan yang memiliki dimensi sosial, politik, ekonomi, hingga ekologi.
“NU memang jam'iyah diniyah, tetapi juga memiliki dimensi sosial yang luas. Karena itu, kepemimpinan NU ke depan harus mampu menjalankan fungsi civil society secara maksimal,” ujarnya.
Pentingnya Menghidupkan Kembali Relasi Ulama
Gus Roy juga mengingatkan pentingnya menghidupkan kembali relasi ulama wa umat sebagaimana dicontohkan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari, yang menempatkan diri sebagai pelayan umat.
Menurutnya, hubungan NU dengan penguasa harus bersifat dialektis dan kritis demi menjaga kepentingan bangsa serta memastikan negara tidak dikuasai oleh kelompok atau kepentingan tertentu.