Bukan Sekadar Penjaga Buku, 83% Pustakawan Indonesia Kini Bersertifikasi: Memahami Peran Pustakawan Era Digital
Peringatan Hari Kunjung Perpustakaan menyoroti transformasi peran pustakawan era digital sebagai agen perubahan literasi, fasilitator pengetahuan, dan inovator layanan di tengah gempuran teknologi.
Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap 14 September menjadi momen penting untuk menghargai peran pustakawan di Indonesia. Peran mereka kini tidak lagi terbatas pada pengelolaan koleksi, melainkan telah berkembang menjadi aktor utama dalam menggerakkan budaya membaca. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kecakapan literasi bangsa di tengah berbagai tantangan.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas, Ofy Sofiana, menegaskan bahwa pustakawan adalah arsitek perubahan bagi masyarakat. Mereka diharapkan mampu menciptakan masyarakat yang literat, inklusif, dan adaptif terhadap inovasi. Peringatan ini sekaligus menjadi refleksi bagi penguatan literasi dan pengembangan profesi kepustakawanan.
Transformasi peran ini menempatkan pustakawan sebagai fasilitator literasi dan kurator pengetahuan. Mereka juga menjadi pelaku utama dalam inovasi layanan berbasis kebutuhan masyarakat. Peran pustakawan era digital ini sangat krusial dalam menopang dan memastikan kualitas layanan perpustakaan di seluruh Indonesia.
Transformasi Peran Pustakawan di Era Revolusi Industri 4.0
Peran strategis pustakawan semakin meluas, tidak hanya di dalam ruang perpustakaan, tetapi juga sebagai penggerak ekosistem literasi nasional. Mereka dituntut untuk menjadi arsitek perubahan yang mampu menciptakan masyarakat literat, inklusif, dan adaptif terhadap inovasi. Ofy Sofiana menyatakan, "Kecakapan pustakawan telah menjadi tumpuan utama dalam menopang dan memastikan kualitas layanan perpustakaan."
Pustakawan kini diharapkan mampu menjawab tantangan baru di era revolusi industri 4.0 dan society 5.0. Adaptasi terhadap teknologi akal imitasi (AI) menjadi salah satu kunci keberhasilan mereka. Transformasi ini menjadikan pustakawan sebagai pembelajar abadi dan agen perubahan utama.
Ofy menambahkan, "Pustakawan harus mampu menjadi pembelajar abadi, agen perubahan, dan penggerak utama dalam membangun ekosistem literasi nasional." Dengan semangat kolaborasi, inovasi, dan komitmen, dunia perpustakaan Indonesia diharapkan dapat mencapai tataran yang lebih tinggi. Momen Hari Kunjung Perpustakaan bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan refleksi untuk penguatan budaya literasi.
Kompetensi Pustakawan di Tengah Dominasi AI
Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Joko Santoso, menyoroti pentingnya pengembangan kompetensi pustakawan untuk layanan berkualitas di era AI. Ia menekankan bahwa pustakawan memiliki keunggulan yang tidak akan tergantikan oleh mesin pencari seperti Google sekalipun. Google saat ini menguasai 91,5 persen pasar pencarian informasi global.
Joko Santoso menegaskan, "Pustakawan bukan sekadar penjaga informasi, melainkan pencipta pengetahuan yang relevan dan etis." Data Perpusnas tahun 2025 menunjukkan bahwa 53,31 persen pustakawan Indonesia berasal dari generasi milenial. Sebanyak 83,64 persen dari mereka telah tersertifikasi secara profesional, dengan mayoritas bekerja di lingkungan pendidikan tinggi.
Profil demografis yang didominasi generasi digital dan tingkat sertifikasi yang tinggi ini menjadi modal kuat bagi pustakawan Indonesia. Mereka diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Pustakawan harus mampu memberikan layanan dan akses pengetahuan yang memadai, termasuk menciptakan pengetahuan-pengetahuan baru sebagai bagian dari upaya memperkuat peradaban bangsa.
Meningkatkan Keterampilan dan Pengakuan Global
Edi Wiyono, Pustakawan Berprestasi Terbaik 2024, mengemukakan bahwa peran pustakawan tidak sekadar sebagai penjaga koleksi, tetapi aktor utama dalam penciptaan dan penyebaran pengetahuan. Pengetahuan yang diciptakan harus valid, relevan, dan bertanggung jawab. Ia menyatakan, "Dulu pustakawan hanya menjaga koleksi dan memastikan sumber-sumber belajar tetap terjaga. Namun, peran itu harus kita dorong lebih jauh. Pustakawan juga harus menjadi pencipta pengetahuan dari berbagai koleksi yang ada."
Sementara itu, Wakil Presiden ASEAN Public Library Information Network, Chaerul Umam, menyampaikan bahwa pustakawan perlu menguasai keterampilan baru. Keterampilan tersebut meliputi penulisan, penelitian, dan komunikasi profesional. Kebijakan perpustakaan sekarang harus berbasis data dan analisis, bukan sekadar kebiasaan lama yang mungkin tidak lagi relevan.
Chaerul Umam menambahkan, keterlibatan pustakawan Indonesia di forum internasional juga perlu ditingkatkan untuk mendapatkan pengakuan global. Ia menegaskan, "Kita harus adaptif, inovatif, dan mampu berkontribusi, baik di dalam negeri maupun di kancah dunia." Peningkatan keterampilan dan pengakuan internasional ini akan semakin memperkuat peran pustakawan era digital.
Sumber: AntaraNews