BTN Salurkan KPR Subsidi 6 Juta Unit Rumah, Pemerintah Kaji Tenor 40 Tahun untuk MBR
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) telah sukses menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi untuk 6 juta unit rumah bagi masyarakat desil 3, sementara Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) tengah mengkaji skema KPR tenor 40 tahu
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pemenuhan kebutuhan hunian layak bagi masyarakat Indonesia. Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengungkapkan bahwa bank tersebut telah berhasil menyalurkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi untuk 6 juta unit rumah. Penyaluran ini secara khusus ditujukan bagi kelompok masyarakat desil 3 di seluruh wilayah Indonesia, menegaskan peran BTN sebagai tulang punggung pembiayaan perumahan.
Pernyataan ini disampaikan oleh Nixon LP Napitupulu dalam acara Jogja Financial Festival 2026 yang berlangsung di Yogyakarta. Program KPR subsidi ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dan perbankan untuk menjangkau masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang membutuhkan dukungan finansial untuk memiliki rumah. Fokus pada desil 3 ke atas menunjukkan strategi inklusif untuk kelompok yang masih kesulitan mengakses pembiayaan perumahan konvensional.
Selain dukungan dari BTN, pemerintah juga sedang aktif mengkaji skema pembiayaan KPR dengan tenor yang lebih panjang, hingga 40 tahun. Inisiatif ini diharapkan dapat semakin meringankan beban angsuran bulanan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang berada di kelompok desil 1 dan 2 yang selama ini masih sulit mendapatkan akses kredit perbankan. Kajian ini merupakan langkah strategis untuk memperluas jangkauan kepemilikan rumah di Indonesia.
Peran BTN dalam Pembiayaan KPR Subsidi dan Kategori Desil Masyarakat
BTN telah menjadi garda terdepan dalam penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) subsidi di Indonesia. Sejak awal program, bank ini telah membiayai 6 juta unit rumah bagi masyarakat desil 3. Angka ini menunjukkan skala intervensi yang signifikan dalam pasar perumahan nasional.
Nixon LP Napitupulu menjelaskan bahwa pembiayaan KPR ini secara spesifik menargetkan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) mulai dari desil 3 ke atas. Dalam kerangka program bantuan pemerintah, masyarakat desil 3 dikategorikan sebagai kelompok hampir miskin. Ini berarti mereka berada di ambang batas kemiskinan namun masih memiliki potensi untuk mengakses pembiayaan perbankan dengan dukungan subsidi.
Terdapat sepuluh kelompok desil yang mengklasifikasikan masyarakat berdasarkan tingkat ekonomi mereka. Nixon menambahkan, “Ada 10 desil (kelompok masyarakat berdasarkan ekonomi), maka bisa dibilang yang paling sulit (mendapatkan bantuan kredit perumahan) tinggal desil 1-2, sedangkan desil 3-8 diintervensi KPR.” Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar kelompok masyarakat, kecuali yang paling rentan, dapat dijangkau oleh program KPR.
Inisiatif Pemerintah: Bantuan Stimulan dan KPR Tenor 40 Tahun
Untuk menjangkau kelompok masyarakat yang lebih rentan, yakni desil 1 dan 2, pemerintah menyediakan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS). Program ini dirancang untuk membantu masyarakat miskin yang belum mampu mengakses kredit perbankan untuk mendapatkan hunian yang layak. BSPS merupakan bentuk dukungan langsung pemerintah untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui perbaikan rumah.
Pada tahun 2026, program BSPS menargetkan 400 ribu rumah tangga di seluruh Indonesia, dengan alokasi bantuan sebesar Rp20-25 juta per penerima. Angka ini menunjukkan komitmen besar pemerintah dalam mengatasi masalah perumahan bagi segmen masyarakat paling bawah. Diharapkan, bantuan ini dapat secara signifikan meringankan beban mereka dalam memiliki atau memperbaiki rumah.
Lebih lanjut, pemerintah juga sedang mengkaji skema KPR dengan tenor hingga 40 tahun untuk meningkatkan akses pembiayaan rumah bagi MBR. Nixon LP Napitupulu berharap skema tenor panjang ini juga dapat dinikmati oleh masyarakat desil 1 dan 2, bukan hanya desil 3 ke atas. “Hari ini pemerintah mengkaji (rancangan skema pembiayaan) KPR sampai 40 tahun. Mudah-mudahan desil 1-2 bisa dapat (menikmati KPR tenor panjang tersebut nantinya). Ini cara penetrasi (meningkatkan pembiayaan perumahan bagi) MBR,” katanya.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan pihaknya tengah mempersiapkan aturan dan melakukan simulasi terkait skema KPR tenor 40 tahun ini, sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. “Tentu ini bisa meringankan angsurannya. Kalau 40 tahun, seperti sekarang rumah subsidi tapak kalau 10 tahun sekitar angsurannya Rp1,7 juta, 15 tahun angsuran Rp1,4 juta. Kalau 20 tahun mungkin Rp1,1 juta dan kalau 40 tahun bisa murah lagi sekitar Rp800-900 ribu,” ujarnya.
Sumber: AntaraNews