Bocah Fariyah sakit down syndrome & tak punya banyak pilihan berobat
Untuk pengobatan anaknya, Nirohasih tak banyak pilihan karena suaminya hanya bekerja serabutan.
Kasih ibu sepanjang masa, ungkapan ini memang terpatri oleh Nirohasih yang memiliki putri 'istimewa' bernama Fariyah, bocah berusia 10 tahun yang menderita down syndrome atau keterbelakangan perkembangan fisik sejak kecil.
Merawat dan mendidik anak istimewa seperti Fariyah tidak mudah, hal itu diakuinya kepada merdeka.com saat ikut menghadiri acara HUT BRI ke-120 di Jakarta Convention Center.
Dia menyadari Fariyah mengidap down syndrome sejak kecil. Hal tersebut dia sadari saat usia Fariyah menginjak satu tahun ada yang tidak wajar pada diri Fariyah, khususnya jika dilihat dari segi fisik. Bentuk mulutnya, dan cara Fariyah merespons pun berbeda pada anak seumurannya.
"Keliatan dari fisiknya, mulutnya, raut mukanya. Awalnya sedih tapi saya ikhlas lillahi ta'ala," kata Nirohasih, Minggu (27/12).
Keduanya ikut hadir HUT BRI bersama rombongan sekolah Fariyahdia belajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta Selatan yang diundang hadir ke acara tersebut.
Ongkos terapi untuk Fariyah pun tidak murah jika di lihat dari pendapatan kedua orangtuanya yang hanya buruh serabutan. Nirohasih sendiri mengaku tidak bekerja karena ingin fokus merawat Fariyah, sedangkan ayahnya bekerja sebagai kuli cuci seragam bus Mayasari.
"Bapaknya di Mayasari jadi tukang cuci baju, pendapatan juga gak tentu yang penting bisa untuk makan udah cukup alhamdulillah," imbuhnya.
Meski pendapatan yang pas-pasan ditambah biaya terapi Fariyah kesulitan, ibu Nirohasih terbantu dengan adanya BPJS Kesehatan. Dia menyadari meski terkadang antrean terapi cukup panjang dengan waktu yang tidak jelas dia merasa cukup lega.
"Ya lumayan, jadi gak kepikiran beban biaya untuk dia (Fariyah)," pungkasnya.
Baca juga:
Kisah pilu para ibu yang 'dibuang' ke panti jompo
Kisah Renika, Atlet berprestasi tingkat Asia kini jadi tukang sapu
Nestapa Ibu Yuli, membela anak berujung dipolisikan
Derita bocah 10 tahun hidup tanpa anus, tak ada biaya buat berobat
Perjuangan pelajar NTT, demi air bersih tenteng jeriken ke sekolah