BNPB Sebut 303 Korban Jiwa di Aceh, Sumut, dan Sumbar
BNPB catat 303 korban jiwa di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Fokus penanganan darurat meliputi pencarian korban, kebutuhan pengungsi, akses terisolir, & distribusi.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, serta relawan masih melakukan penanganan darurat atas bencana yang terjadi di Provinsi Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat.
Upaya utama difokuskan pada pencarian korban, pemenuhan kebutuhan pengungsi, pembukaan akses ke wilayah terdampak, hingga percepatan distribusi bantuan logistik melalui jalur darat dan udara.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan bahwa data terbaru menunjukkan total 303 korban jiwa dari tiga provinsi tersebut.
“Berdasarkan catatan BNPB, pada hari ketiga setelah penetapan status tanggap darurat bencana, total ada 303 jiwa di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara,” ujar Suharyanto dalam keterangan resmi, Minggu (30/11).
Sumut Catat Korban Terbanyak
Di Sumatera Utara, tercatat 166 korban meninggal dunia dan 143 orang masih hilang. Wilayah dengan dampak terbesar meliputi Kabupaten Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Kota Sibolga.
Sementara di Aceh, jumlah korban meninggal mencapai 47 orang, dengan 51 orang masih hilang dan delapan orang mengalami luka-luka. BNPB juga melaporkan 48.887 kepala keluarga mengungsi di berbagai kabupaten, terutama di Aceh Utara, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Aceh Singkil.
Untuk Sumatera Barat, tercatat 90 korban meninggal dunia, 85 orang hilang, dan 10 orang luka-luka. Data sementara menunjukkan 11.820 kepala keluarga atau sekitar 77.918 jiwa mengungsi, sebagian besar berada di Kota Padang dan Kabupaten Pesisir Selatan.
Suharyanto menegaskan bahwa koordinasi lintas lembaga terus diperkuat agar proses penanganan berjalan cepat dan tepat sasaran.
“BNPB memastikan seluruh upaya penanganan darurat terus dipercepat melalui koordinasi erat dengan pemerintah daerah, kementerian/lembaga, TNI, Polri, dan para relawan. Percepatan pembukaan akses, pendataan lanjutan korban dan kerusakan, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak menjadi prioritas utama operasi penanganan bencana di tiga provinsi tersebut,” ujarnya.