BNPB: Banjir Solo dan Bandung Dampak Tidak Langsung Bibit Siklon 92S, Warga Diimbau Waspada
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan banjir yang melanda Solo dan Bandung merupakan dampak tidak langsung dari Bibit Siklon Tropis 92S. Masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem.
Banjir melanda Kota Solo/Surakarta, Jawa Tengah, dan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dipicu oleh intensitas hujan tinggi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengonfirmasi bahwa fenomena ini merupakan dampak tidak langsung dari keberadaan Bibit Siklon Tropis 92S yang masih aktif. Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran akan potensi bencana hidrometeorologi susulan di berbagai wilayah.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan bahwa meskipun posisi bibit siklon tersebut mulai menjauhi Indonesia, dampaknya masih terasa. Wilayah Sumatera bagian selatan hingga Jawa berpotensi mengalami cuaca ekstrem akibat pengaruh bibit siklon yang berada di barat daya Sumatera. Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi kondisi ini.
Bencana banjir di Solo terjadi pada Selasa (14/4) malam setelah hujan deras mengguyur Solo Raya, sementara di Kabupaten Bandung, banjir dipicu hujan lebat dan jebolnya tanggul Sungai Cisunggalah pada periode yang sama. BNPB dan BPBD setempat telah melakukan penanganan dan penyaluran bantuan kepada warga terdampak. Peringatan dini dari BMKG juga telah dikeluarkan untuk beberapa wilayah.
Kondisi Banjir di Solo dan Penanganan Darurat
Kota Surakarta, atau Solo, dilanda banjir pada Selasa (14/4) malam pukul 21.42 WIB menyusul hujan deras yang mengguyur wilayah Solo Raya. Sampai Rabu (15/4) petang, tercatat sebanyak 1.083 kepala keluarga (KK) terdampak. Mereka tersebar di 12 kelurahan, termasuk Kelurahan Pajang, Kedung Lumbu, dan Tipes.
Selain genangan air, bencana ini juga menyebabkan talud longsor di Kelurahan Pajang, menambah daftar kerusakan akibat cuaca ekstrem. Sejumlah warga yang terdampak dilaporkan sempat mengungsi ke tempat-tempat aman seperti masjid, sekolah, dan balai warga untuk sementara waktu. Situasi ini menunjukkan urgensi penanganan cepat dari pihak berwenang.
Untuk penanganan di Kota Surakarta, petugas gabungan dari BPBD kota setempat bergerak cepat menyalurkan bantuan logistik. Bantuan tersebut meliputi matras, sembako, serta mendirikan dapur umum yang sangat dibutuhkan oleh para korban banjir.
Dampak Banjir di Kabupaten Bandung dan Upaya Pemulihan
Di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, banjir terjadi akibat kombinasi hujan lebat dan jebolnya tanggul Sungai Cisunggalah pada periode yang sama dengan banjir di Solo. Bencana ini berdampak signifikan pada dua kecamatan, yaitu Majalaya dan Bojongsoang, yang mengalami genangan air cukup tinggi. Kejadian ini menunjukkan kerentanan wilayah terhadap intensitas curah hujan yang ekstrem.
Data sementara di Kabupaten Bandung mencatat 95 KK atau sekitar 250 jiwa terdampak langsung oleh banjir tersebut. Meskipun wilayah Majalaya dilaporkan sudah surut total hingga Rabu, kondisi di Kecamatan Bojongsoang masih memprihatinkan. Tinggi muka air di Bojongsoang masih berkisar antara 10 hingga 150 centimeter, menyulitkan aktivitas warga.
Petugas gabungan bersama warga di Kabupaten Bandung saat ini masih aktif melakukan asesmen dan pembersihan material lumpur secara gotong royong. Upaya pemulihan ini merupakan bagian dari respons cepat terhadap bencana. Wilayah tersebut kini masih berada dalam status siaga darurat bencana hidrometeorologi, sesuai keputusan pemerintah daerah setempat.
Peringatan Dini dan Kewaspadaan Nasional Terhadap Bibit Siklon 92S
Abdul Muhari dari BNPB menekankan pentingnya kewaspadaan masyarakat karena potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpeluang terjadi dalam dua hingga tiga hari ke depan. Peringatan ini berlaku untuk berbagai wilayah yang rentan terhadap dampak tidak langsung Bibit Siklon Tropis 92S. Kesiapsiagaan dini sangat krusial untuk meminimalisir risiko.
BNPB juga mengingatkan berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) agar wilayah-wilayah tertentu meningkatkan kesiapsiagaan. Wilayah yang dimaksud meliputi Sumatera bagian tengah, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jakarta, hingga Jawa Tengah. Potensi risiko bencana hidrometeorologi susulan perlu diantisipasi secara serius.
Kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem ini mencakup berbagai langkah, mulai dari pemantauan informasi BMKG hingga persiapan evakuasi mandiri. Kolaborasi antara pemerintah daerah, BPBD, dan masyarakat menjadi kunci dalam menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh faktor-faktor seperti Bibit Siklon 92S.
Sumber: AntaraNews