BMKG Peringatkan Potensi Gelombang Tinggi Labuan Bajo Akibat Bibit Siklon 96S Hingga Akhir Tahun 2025
BMKG memprakirakan potensi gelombang tinggi di perairan Labuan Bajo hingga akhir tahun 2025 akibat bibit siklon 96S, waspadai dampaknya pada aktivitas laut dan keselamatan pelayaran.
Para wisatawan dan warga di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gelombang tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan kondisi ini akan berlangsung hingga akhir tahun 2025. Fenomena ini dipicu oleh keberadaan bibit siklon 96S yang memengaruhi perairan setempat.
Kepala Stasiun Meteorologi Komodo, Maria Seran, menjelaskan bahwa potensi gelombang tinggi ini menjadi perhatian serius, terutama di wilayah perairan selatan Labuan Bajo. Kondisi cuaca ekstrem ini dapat berdampak signifikan pada aktivitas pelayaran dan wisata bahari di sekitar Taman Nasional Komodo. Peringatan ini disampaikan menyusul insiden tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah di perairan Pulau Padar.
Insiden KM Putri Sakinah pada Jumat (26/12) malam, yang menyebabkan empat wisatawan masih dalam pencarian, diduga kuat akibat gelombang alun atau swell yang berasal dari bibit siklon tersebut. Oleh karena itu, BMKG secara aktif mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat dan operator kapal selalu memantau informasi cuaca. Hal ini penting untuk memastikan keselamatan semua pihak yang beraktivitas di laut.
Potensi Gelombang Tinggi dan Dampak Bibit Siklon 96S
BMKG mengidentifikasi bibit siklon 96S sebagai pemicu utama gelombang tinggi di perairan Labuan Bajo. Bibit siklon ini, yang sebelumnya merupakan daerah tekanan rendah, berkembang menjadi bibit siklon tropis sejak 25 Desember 2025. Pusat bibit siklon tersebut menciptakan berbagai kondisi cuaca ekstrem, termasuk gelombang tinggi yang dapat menjalar ke perairan sekitar Taman Nasional Komodo.
Maria Seran menjelaskan bahwa gelombang tinggi yang terjadi di Labuan Bajo diduga kuat merupakan gelombang alun atau swell. Gelombang ini adalah gelombang kiriman yang berasal dari pusat badai, dan dapat menjadi sangat berbahaya. "Jadi itu adalah gelombang swell atau gelombang kiriman yang datang dari pusat badai dan ketika gelombang tersebut masuk ke perairan sempit seperti perairan yang ada di kepulauan kita ini, maka dia akan semakin tinggi punggungnya dan dapat menyebabkan kecelakaan," ujarnya.
Meskipun kondisi angin saat kejadian insiden KM Putri Sakinah tidak terlalu kuat, gelombang swell tetap berpotensi menyebabkan kecelakaan laut. Untuk wilayah perairan utara Labuan Bajo, tinggi gelombang diprakirakan sedikit menurun pada 31 Desember 2025, berkisar antara 0,7 hingga 1,16 meter. Namun, kewaspadaan tinggi tetap diperlukan untuk wilayah selatan, di mana gelombang dapat mencapai 1,25 hingga 2,5 meter, masuk kategori sedang.
Kondisi cuaca juga diperkirakan akan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang akibat pengaruh bibit siklon 96S ini. Penting untuk diingat bahwa prakiraan tinggi gelombang dapat meningkat sewaktu-waktu. "Namun, kondisi prakiraan cuaca untuk tinggi gelombang itu dapat meningkat sewaktu-waktu ketika terjadi hujan disertai petir," tambah Maria Seran.
Imbauan Keselamatan dan Upaya Penyelamatan Korban
Mengingat potensi bahaya gelombang tinggi Labuan Bajo, BMKG mengimbau warga dan wisatawan untuk selalu mengikuti informasi resmi. Pemantauan rutin terhadap prakiraan cuaca dan imbauan dari BMKG serta pihak berwenang di daerah sangat krusial. Langkah proaktif ini diharapkan dapat meminimalkan risiko kecelakaan laut dan memastikan keselamatan semua pihak.
Insiden tenggelamnya KM Putri Sakinah menjadi pengingat penting akan bahaya gelombang di perairan Labuan Bajo. Tim Search And Rescue (SAR) gabungan segera bertindak setelah menerima informasi kecelakaan. Kepala Kantor Basarnas Maumere, Fathur Rahman, menyatakan, "Tim SAR gabungan setelah menerima informasi langsung menuju lokasi menggunakan RIB Pos SAR Manggarai Barat."
Dari total 11 korban kapal wisata tersebut, tujuh penumpang berhasil dievakuasi. Dua di antaranya adalah wisatawan asing warga negara Spanyol, sementara sisanya adalah seorang pemandu wisata dan empat kru kapal. Tiga penumpang dievakuasi oleh Kapal Nepton yang melintas, dan empat lainnya diselamatkan oleh Tim SAR gabungan.
Empat wisatawan asing asal Spanyol masih dalam pencarian oleh Tim SAR gabungan, yaitu Martin Carreras Fernando, Martin Garcia Mateo, Martines Ortuno Maria Lia, dan Martinez Ortuno Enriquejavier. Sementara itu, dua wisatawan Spanyol yang berhasil ditemukan selamat adalah Martines Ortuno Mar Amanda dan Martines Ortuno Marialia. Upaya pencarian terus dilakukan untuk menemukan korban yang hilang.
Sumber: AntaraNews