BMKG: Aktivitas Sesar Picu Gempa Bumi Kendari, Dirasakan hingga Konsel
Aktivitas sesar menjadi penyebab utama Gempa Bumi Kendari berkekuatan M 2,8 yang mengguncang Kota Kendari dan dirasakan hingga Kabupaten Konawe Selatan pada Sabtu pagi. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap informasi resmi.
Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, diguncang gempa bumi dangkal berkekuatan magnitudo 2,8 pada Sabtu pagi, sekitar pukul 05.13 Wita. Guncangan ini terasa nyata di wilayah tersebut, bahkan hingga ke Kabupaten Konawe Selatan, menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga setempat yang merasakan getaran.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengonfirmasi bahwa Gempa Bumi Kendari ini dipicu oleh aktivitas sesar lokal. Episenter gempa terletak di darat, tepatnya sekitar 10 kilometer di tenggara Kota Kendari, dengan kedalaman hiposenter yang sangat dangkal, hanya 5 kilometer.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMKG Wilayah IV Makassar, Nasrol Adil, menjelaskan bahwa karakteristik gempa ini adalah jenis gempa bumi dangkal. Pernyataan resmi ini disampaikan BMKG untuk memberikan pemahaman yang akurat dan menenangkan masyarakat terkait fenomena alam yang terjadi di wilayah mereka.
Penyebab dan Karakteristik Gempa Bumi Kendari
Berdasarkan hasil analisis terbaru dari BMKG, Gempa Bumi Kendari ini memiliki parameter update dengan magnitudo 2,8. Data ini menjadi dasar utama dalam memahami kekuatan dan potensi dampak dari kejadian seismik tersebut.
Episenter gempa bumi tercatat secara spesifik pada koordinat 4,04 Lintang Selatan dan 122,56 Bujur Timur. Lokasi ini menempatkan pusat gempa di daratan, yang berkontribusi pada persepsi guncangan yang lebih kuat di area terdekat.
Nasrol Adil secara eksplisit menyatakan bahwa Gempa Bumi Kendari ini dipicu oleh aktivitas Sesar Kendari North. Sesar ini merupakan salah satu struktur geologi aktif yang telah teridentifikasi di kawasan Sulawesi Tenggara, dan pergerakannya dapat menyebabkan pelepasan energi seismik.
Dengan kedalaman hiposenter yang sangat dangkal, yakni hanya 5 kilometer, Gempa Bumi Kendari dikategorikan sebagai gempa dangkal. Gempa jenis ini cenderung menghasilkan guncangan yang lebih terasa di permukaan tanah dibandingkan gempa dalam dengan magnitudo serupa.
Skala Guncangan dan Respons BMKG Pasca Gempa
Estimasi peta guncangan atau shakemap yang dikeluarkan oleh BMKG menunjukkan bahwa dampak Gempa Bumi Kendari dirasakan di Kota Kendari dengan intensitas III MMI. Skala ini menggambarkan getaran yang terasa nyata di dalam rumah, seringkali diibaratkan seperti ada truk besar yang melintas di dekatnya.
Sementara itu, wilayah Kabupaten Konawe Selatan juga merasakan guncangan Gempa Bumi Kendari, meskipun dengan intensitas yang sedikit lebih rendah, yaitu II MMI. Pada skala ini, getaran dapat dirasakan oleh beberapa individu dan menyebabkan benda-benda ringan yang digantung bergoyang perlahan.
Hingga saat laporan ini disusun, BMKG belum menerima laporan mengenai adanya kerusakan signifikan pada bangunan atau infrastruktur akibat Gempa Bumi Kendari. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terasa, gempa tidak menimbulkan dampak destruktif yang luas.
BMKG terus melakukan monitoring pasca kejadian, dan hingga pukul 06.35 Wita, tercatat adanya dua kejadian gempa bumi susulan. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak panik, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak jelas sumbernya. BMKG menekankan pentingnya merujuk pada informasi resmi yang disampaikan melalui kanal-kanal komunikasi terverifikasi mereka, seperti media sosial, laman web resmi, atau aplikasi InfoBMKG, untuk menghindari disinformasi.
Sumber: AntaraNews