LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Banyak kekerasan pelajar akibat peran keluarga semakin sedikit

Maraknya kasus kekerasan melibatkan pelajar atau lazim disebut klitih di Yogyakarta, telah banyak menelan korban. Baik korban luka hingga berujung tewasnya seorang pelajar.

2017-03-16 08:18:02
Kekerasan di Sekolah
Advertisement

Maraknya kasus kekerasan melibatkan pelajar atau lazim disebut klitih di Yogyakarta, telah banyak menelan korban. Baik korban luka hingga berujung tewasnya seorang pelajar.

Melihat fenomena klitih ini, dosen Sosiologi Kriminal UGM, Suprapto menganggap perlu memaksimalkan kembali peran keluarga. Selama ini, menurut Suprapto, peran keluarga atau orang tua dalam memantau perkembangan dan kegiatan anak dalam kesehariannya semakin berkurang.

"Sisi internal fungsi keluarga semakin menipis belakangan ini. Yakni fungsi keluarga dalam hal sosialisasi, pendidikan, budaya, nilai dan norma," papar Suprapto, Rabu (15/3) malam.

Menipisnya fungsi keluarga, lanjut Suprapto, menyebabkan anak tak punya banyak bekal saat berinteraksi dengan kelompok bermain atau masyarakat luas. Kondisi tersebut dianggap Suprapto sangat memungkinkan mendorong seorang pelajar atau anak salah memilih lingkungan maupun teman bermain.

"Kondisi ini akan membuat anak terwadahi dalam kelompok tertentu seperti geng pelajar maupun geng lainnya. Nah, selama berada di geng itu akan ada indoktrinasi untuk melakukan kekerasan," papar Suprapto.

Untuk mencegah aksi klitih, urai Suprapto memerlukan sinergitas antara keluarga, pemerintah dan masyarakat. Sebab, kadangkala korban juga ikut andil salah karena memberlakukan teori kesempatan yang artinya korban klitih masih berada di luar rumah saat larut malam. Hal ini bisa dilihat kasus yang terjadi akhir-akhir ini terjadi di atas tengah malam

"Untuk itu perlu peran keluarga ikut memantau anaknya. Terutama bagi para pelajar dalam bergaul dan keluar rumah. Misalnya jam 11 malam belum pulang, ya harusnya dipantau dengan siapa dan ngapain kegiatannya. Jika dipantau pasti akan berbeda," pungkas Suprapto.

Baca juga:
Sistem pendidikan keliru dituding penyebab tawuran pelajar di Bekasi
Polisi temukan dua pelajar luka parah, terkapar di jalanan Sleman
PDIP ungkap cara Ahok atasi masalah kenakalan remaja di Jakarta
Marak tawuran di Jakarta, Anies sebut tanggung jawab Ahok
Agar tak tergoda tawuran, siswa di DKI diminta ikut Pramuka

Advertisement
(mdk/ang)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.