Bangkitkan Pariwisata Bali, Ahli Dorong Penghapusan Karantina bagi Wisman
Pariwisata Bali masih belum bergerak meskipun pemerintah telah memangkas kewajiban karantina bagi wisatawan mancanegara (wisman) menjadi tiga hari. Para ahli di daerah itu mendorong agar syarat karantina ini dihapuskan seperti di negara lain yang mengandalkan bisnis pelancongan.
Pariwisata Bali masih belum bergerak meskipun pemerintah telah memangkas kewajiban karantina bagi wisatawan mancanegara (wisman) menjadi tiga hari. Para ahli di daerah itu mendorong agar syarat karantina ini dihapuskan seperti di negara lain yang mengandalkan bisnis pelancongan.
Koordinator Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Pariwisata, Bali, I.G.A.N Rai Surya Wijaya mengatakan penghapusan karantina harus diperjuangkan untuk menarik wisman.
"Hal yang paling urgent yang harus kita perjuangkan saat ini, khususnya untuk dapat menarik wisatawan mancanegara untuk bisa datang ke Bali adalah menghilangkan karantina," kata Surya Wijaya saat rapat koordinasi yang dilakukan dengan Plt Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Tjok Bagus Pemayun dan mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa, bersama Kelompok Ahli Pembangunan Bidang Pariwisata, di Denpasar, Bali, Jumat (5/11).
Menurut Surya, kewajiban karantina selama 3x24 jam bagi wisatawan mancanegara masih memberatkan. Kebijakan itu tetap menjadi ganjalan meskipun sudah dua kali dipangkas, sebelumnya 8 hari, lalu 5 hari.
Dia berharap pemerintah belajar dari kebijakan negara lain yang telah menghapus karantina, seperti Thailand. "Kita harus belajar dari Thailand, kalau ingin pariwisata dan ekonomi Bali cepat bangkit," ujarnya.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Tjok Bagus Pemayun mengatakan, semua program pembangunan pariwisata Bali harus dilanjutkan. "Pascapandemi ini pariwisata Bali harus digarap dengan lebih serius lagi untuk menuju pariwisata budaya Bali berkualitas dan berkelanjutan," ucapnya.
Ia juga menerangkan bahwa membangun pariwisata budaya Bali ibarat membangun rumah dengan lima pilar, yaitu akademisi, bisnis, community, government, dan media, yang sering disingkat ABCGM. Menurutnya, kelima pilar ini harus sama-sama kuat. Semua memiliki komitmen dan saling mendukung untuk mewujudkan sebuah bangunan yang kuat dan kokoh.
"Begitu juga pariwisata Budaya Bali, jika kelima pilar ini sama-sama saling dukung dan memiliki tujuan yang sama untuk kemajuan kita bersama, maka pariwisata Bali pasti akan kuat, kokoh dan sudah tentu akan terwujud pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan," katanya.
Sementara itu, mantan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Putu Astawa menyampaikan, ada beberapa pekerjaan rumah (PR) yang memang belum selesai, di antaranya pembangunan pariwisata digital. "Program ini akan sangat mendukung pembangunan pariwisata budaya Bali yang berkualitas dan berkelanjutan, serta program-program lain yang tidak bisa dijalankan karena adanya pademi Covid-19 selama hampir dua tahun," ucapnya.
Baca juga:
Karantina Wisman Dipangkas Jadi Tiga Hari, Wagub Bali Berharap Ditiadakan
Karantina Turis jadi 3 Hari, PHRI Bali Optimistis Tingkat Kunjungan Pulih Kembali
Hotel Masih Sepi Meski Bali Telah Dibuka untuk Turis Asing
Epidemiolog Sarankan RI Hapus Masa Karantina dari Luar Negeri, Tapi Ini Syaratnya
Liburan Pakai Surat PCR Palsu, Dua Wisatawan Ditangkap di Bali
Sederet Keuntungan Indonesia Pegang Presidensi G20
Sandiaga Uno: Belum Ada Penerbangan Internasional Mendarat di Bali