Ayam Jago Simbol Baru Surabaya, Jejak Joko Berek dan Cikal Bakal Kota Pahlawan
Monumen Ayam Jago setinggi tujuh meter kini menjadi bertenger baru di Jalan Raya Menganti, tak jauh dari makam Raden Sawunggaling.
Kota Surabaya tak pernah lepas dari ikon Suro dan Boyo (hiu dan buaya) yang bertarung abadi di tengah legenda. Tapi siapa sangka, di sudut barat kota, tepatnya di Kelurahan Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, berdiri gagah simbol lain yang tak kalah heroik, seekor ayam jago.
Bukan sembarang ayam, melainkan penanda sejarah perjuangan Joko Berek alias Raden Sawunggaling, tokoh legendaris yang diyakini sebagai cikal bakal berdirinya Kota Surabaya.
Monumen Ayam Jago setinggi tujuh meter kini menjadi bertenger baru di Jalan Raya Menganti, tak jauh dari makam Raden Sawunggaling. Dibangun atas permintaan warga yang telah menanti sejak 2023, monumen ini akhirnya terwujud di 2025, melibatkan seniman lokal dan semangat kolektif masyarakat Lidah Wetan.
Menurut Camat Lakarsantri, Yongky Kuspriyanto Wibowo, monumen ini bukan sekadar ornamen kota. Ia adalah pengingat bahwa Surabaya lahir dari keberanian, keteguhan, dan keperkasaan ayam jago.
“Kenapa ayam? Karena Joko Berek selalu membawa ayam jago saat mencari ayahnya. Setiap kali diadu, ayam itu menang. Itu bukan kebetulan, itu simbol kemenangan,” ujar Yongky.
Legenda Joko Berek bermula dari pencarian seorang anak terhadap ayahnya, Adipati Jayengrono, penguasa Kadipaten Surabaya. Berbekal selendang kuning pemberian sang ibu, Dewi Sangkrah, Joko Berek menantang dua saudara tirinya dalam adu ayam dan memanah. Ia menang. Ia diakui. Tapi perjuangannya belum selesai.
Jayengrono menantang Joko Berek untuk membabat hutan Wonokromo yang kelak menjadi jantung Kota Surabaya. Dari sinilah kisah heroik itu berakar, dan Ayam Jago menjadi simbol keberanian yang membelah sejarah kota.
Ketua LPMK Lidah Wetan, M. Andi Bocor, menambahkan bahwa monumen serupa pernah berdiri di masa kolonial Belanda, namun hilang ditelan zaman.
“Kami napak tilas ke Balai Kota, minta dibangunkan kembali. Ini bukan sekadar monumen, ini warisan leluhur,” tegasnya.
Kini, monumen Ayam Jago tak hanya menjadi penanda sejarah, tapi juga harapan baru bagi wisata budaya dan religi di Surabaya Barat. Dengan makam Sawunggaling di dekatnya, kawasan ini berpotensi menjadi ruang edukasi anak-anak, wisata sejarah, dan pelestarian kearifan lokal.
“Monumen ini bukan akhir, tapi awal. Kami ingin taman, tempat parkir, dan fasilitas lain menyusul. Karena Surabaya bukan hanya soal Suro dan Boyo. Ada Ayam Jago yang berkokok dari Lidah Wetan, mengingatkan kita bahwa keberanian bisa datang dari mana saja,” pungkas Yongky.